
Gisela tidak bisa tertidur lelap. Ia merasa sangat gelisah dan hanya bisa berguling-guling di atas tempat tidur. Ketika melirik jam yang sudah menunjukkan angka sepuluh malam, Gisela mendes*hkan napas ke udara ketika menyadari suaminya juga belum pulang.
Yang membuatnya makin gelisah karena Dirga sama sekali tidak menghubungi dirinya jika akan pulang telat. Perasaan curiga pun kembali mendatangi hati Gisela. Mungkinkah lelaki itu saat ini sedang berada di apartemen dan bersama dengan wanita berinisial 'J' yang sempat menghubungi Dirga malam itu.
"Hah!"
Gisela benar-benar kalut. Makin ia memikirkan, matanya justru makin terbuka lebar.
"Coba aku lihat Jeni."
Dengan perlahan Gisela turun dari ranjang. Lalu pergi menuju ke kamar belakang untuk memastikan apakah Jeni ada di kamarnya atau tidak. Namun, setibanya di sana. Ia tidak menemukan Jeni sama sekali. Di kamar gadis itu hanya ada tempat tidur yang tertata rapi tanpa ada jejak Jeni sedikit pun.
Bimbang dan bingung. Itulah yang dirasakan Gisela sekarang. Berbagai kemungkinan begitu mengusik pikirannya. Dengan melangkah sedikit tergesa, Gisela kembali ke kamar lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Jeni.
Tiga kali melakukan panggilan. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang diterima. Membuat wanita itu makin merasa curiga. Kemudian, ia beralih menelepon suaminya hanya untuk memastikan.
"Hallo, Gis. Ada apa?" Suara Dirga terdengar lirih dari seberang telepon.
"Em ... Dir, apa Jeni ada denganmu?" tanya Gisela ragu.
__ADS_1
Hening sesaat.
"Ti-tidak. Menangnya kenapa?" tanya Dirga lagi.
Gisela pun makin menaruh curiga saat menangkap ada kegugupan dari nada bicara Dirga.
"Tidak apa. Aku hanya ingin membeli martabak saja. Kalau dia sedang tidak bersamamu ya sudah. Aku beli sendiri saja," kata Gisela. Padahal itu hanyalah sebatas dalih belaka.
"Jangan. Kamu mau martabak apa? Biar aku belikan. Setelah ini aku akan pulang karena kebetulan pekerjaanku sudah selesai." Dirga benar-benar melarang. Namun, hal itu tak ayal makin membuat pikiran buruk bersemayam di otak Gisela.
"Tidak usah, Dir, karena aku ingin makan di tempatnya langsung. Aku berangkat sendiri saja."
Panggilan tersebut tiba-tiba mati. Menghela napas panjang itulah yang dilakukan Gisela ketika menatap layar ponsel.
Ia cemas dan gelisah.
Ia juga penasaran dan curiga.
Dengan sedikit kasar, Gisela menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan memilih untuk menunggu suaminya. Jika dalam waktu sepuluh menit Dirga tidak sampai di rumah maka Gisela benar-benar akan pergi sendiri meskipun sebenarnya itu bukanlah keinginannya saat ini.
__ADS_1
***
Sepuluh menit berlalu, Dirga belum juga sampai rumah. Gisela pun memutuskan untuk pergi sendiri. Ia mengambil jaket agar tubuhnya tidak kedinginan sekaligus melindungi perutnya karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon buah hatinya. Kemudian, wanita itu berjalan turun dengan sedikit tergesa. Beruntung saat itu kedua orang tuanya sudah tertidur hingga membuat Gisela merasa bebas karena tidak mendapat banyak pertanyaan.
Gisela masuk ke mobil dan duduk di balik setir kemudi. Beberapa kali ia melirik ke arah spion dan mendengkus kasar ketika tidak melihat tanda-tanda mobil Dirga masuk gerbang.
Dengan sedikit tekanan karena hatinya yang sedang tidak karuan, Gisela menekan kontak untuk menghidupkan mobil tersebut dan berniat untuk pergi sendiri.
Ia kecewa.
Namun, baru saja hendak menginjak pedal gas, Gisela dibuat terdiam dengan kedatangan Dirga. Wanita itu pun hanya menatap mobil Dirga yang melaju masuk dan berhenti tepat di sampingnya. Setelahnya, Dirga tampak keluar dari sana dan mengetuk pintu sembari memanggil nama istrinya.
"Kupikir kamu tidak jadi pulang," ucap Gisela lesu sembari membuka pintu mobil.
"Maafkan aku sedikit terlambat. Kalau begitu, sekarang aku akan mengantarmu."
Dirga menyuruh Gisela untuk masuk ke mobilnya. Lalu mereka bergegas pergi untuk mencari martabak sesuai dengan keinginan wanita hamil itu.
Selama dalam perjalanan, Gisela hanya diam dan sesekali melirik Dirga yang sedang fokus dengan setir kemudi.
__ADS_1
Maafkan aku, tapi aku benar-benar curiga kepadamu. Sebenarnya ada rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku. Seandainya aku tahu semuanya dan ternyata kenyataan itu menyakiti hatiku. Setidaknya jika kamu jujur, aku tidak akan terlalu merasa sakit.