Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 59


__ADS_3

Senyuman licik Abram terlihat menghiasi sudut bibir lelaki itu setelah mendapat informasi dari anak buahnya. Sebuah berita tentang Dirga yang sangat penting. Ia yakin kalau Gisela mengetahui hal tersebut, sudah pasti wanita itu akan marah dan kemungkinan terbesar adalah perpisahan. 


Abram merasa tidak sabar ingin segera melihat kedua orang itu berpisah dan mungkin saja Abram akan merebut hati Gisela kembali. 


Egois memang, tapi itulah Abram. 


"Kamu yakin ini informasi paling akurat?" tanya Abram memastikan. 


"Iya, Tuan. Kalau Anda tidak percaya, Anda bisa datang ke rumah sakit dan menemui wanita itu. Ia masih dirawat, Tuan," sahutnya. 


Abram hanya mengusap dagu sembari mengangguk cepat. "Baiklah. Aku percaya padamu. Sekarang, aku punya satu lagi tugas untukmu." 


Anak buah Abram menghela napas panjang. Mengutuki atasannya yang ribet menurutnya. Membuat lelaki itu merasa yakin kalau sang atasan sudah jatuh cinta dengan mantan istrinya. 


"Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak mau kuberi perintah? Kamu mau kupecat sekarang juga?" Abram kesal sendiri ketika melihat tatapan anak buahnya yang seolah tidak suka.


"Tidak, Tuan. Saya akan melakukan apa pun perintah Anda," kata lelaki itu menyahuti ucapan Abram. 


"Hmmm ... kamu telusuri apakah Gisela sedang hamil atau tidak? Kalau iya, anak siapakah yang sedang dikandungnya? Ingat, aku butuh jawaban yang akurat," perintah Abram. 

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya akan mencari informasi sebaik mungkin," sahutnya. 


Abram hanya berdeham lalu menyuruh anak buahnya agar segera pergi dari sana. Setelahnya, Abram pun mulai bekerja lagi. Hatinya merasa sedikit senang karena sudah mendapat kelemahan Dirga. 


Tunggu saja tanggal mainnya. Aku akan buat hubungan kalian hancur. 


***


"Kamu mau ke mana, Dir?" tanya Gisela ketika melihat Dirga yang terlihat terburu padahal semalam lelaki itu mengatakan kalau hari ini libur bekerja. 


"Ada kepentingan mendadak. Maaf, aku harus pergi. Ingat, kamu jangan pergi-pergi." Dirga mengecup puncak kepala Gisela lalu beralih mengecup perut buncit wanita hamil tersebut. Setelahnya, Dirga pergi begitu saja tanpa peduli pada tatapan Gisela yang tampak memohon agar lelaki itu tetap berada di rumah. 


Gisela pun beralih berdiri di samping jendela untuk melihat kepergian mobil suaminya. Setelah melihat mobil tersebut keluar dari gerbang. Helaan napas Gisela terdengar. 


Dengan tidak sabar, Gisela pun hendak menyusul suaminya. Ia akan pergi mengikuti lelaki itu. Meskipun harus sendirian. Kepergian orang tuanya ke luar kota tadi pagi membuat Gisela merasa bebas. 


Ia akan pergi sendirian karena Jeni meminta izin kepadanya kalau wanita itu sedang sakit. 


Duduk di balik setir kemudi, Gisela merasakan kebimbangan. Mungkinkah semua hanyalah kebetulan semata atau ada rahasia yang tidak diketahui Gisela selama ini. 

__ADS_1


Jeni izin sakit dan Dirga selalu pergi dengan terburu. Hal itulah yang begitu mengusik pikiran Gisela. 


Ia pun terlebih dahulu menyadarkan tubuh lalu memejamkan mata cukup lama. Menghela napas panjang berkali-kali untuk sekadar mengurangi kegelisahan hatinya. Setelahnya, Gisela pun perlahan melajukan mobil tersebut. 


Tujuan Gisela saat ini adalah rumah sakit. Jika tidak bertemu Dirga di sana, setidaknya ia bisa memeriksakan kandungan untuk melihat perkembangan calon buah hatinya. 


Namun, di tengah perjalanan, mobil Gisela hampir saja bertabrakan karena wanita itu tidak berkonsentrasi. Ia mengerem mendadak di tepi jalan. Jantungnya bahkan sampai berdegup sangat kencang, dan ia pun mengucap syukur ketika dirinya masih bisa selamat. 


Gisela menoleh dan melihat mobil yang hampir bertabrakan dengannya, juga berhenti di sebrang jalan. Wanita itu pun keluar dan hendak meminta maaf. Namun, ketika baru saja keluar dari mobil, ia dikejutkan dengan Abram yang baru keluar dari mobil itu. 


"Ma-Mas Abram," gumam Gisela. 


Bukannya masuk, Gisela justru mematung di samping mobil sampai tidak menyadari kalau Abram sekarang sudah berada di dekatnya. 


"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu." Suara Abram yang keras seketika menyadarkan Gisela dari lamunan. Wanita itu terlihat gugup dan hendak masuk, tetapi Abram sudah mencekal tangannya terlebih dahulu. 


Kemudian, memaksa Gisela untuk masuk dan duduk di kursi penumpang, sedangkan Abram langsung duduk di balik setir kemudi. 


"Turunkan aku, Mas." 

__ADS_1


"Diamlah." Abram memberi perintah. Namun, Gisela terus saja memaksa hendak keluar. "Kalau kamu tidak diam maka aku tidak akan segan-segan memperkosamu di sini!" 


Ancaman Abram seketika membuat bibir Gisela terkatup rapat. Wanita itu pun menurut karena takut dengan ancaman Abram. 


__ADS_2