Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 45


__ADS_3

Hendarto menatap tidak tega kepada Gisela yang terlihat sangat bimbang. Sebagai seorang ayah, ia bisa merasakan kegundahan yang sedang dirasakan putrinya. Bukannya Hendarto tega dan akan bersikap keras kepada putrinya, tetapi Hendarto melakukan itu semata untuk kebaikan sang putri. 


"Maafkan papa kalau sudah memaksamu untuk menerima tawaran Dirga. Papa salah. Kalau memang kamu tidak mau menerimanya maka tidak apa. Biarlah nanti papa bicarakan dengan Dirga." Hendarto menyudahi pembicaraan tersebut karena tidak mendapat respon sama sekali dari putrinya. Ia sadar, tidak sepatutnya ia memaksa Gisela. 


"Pa—"


"Lebih baik sekarang kamu berkemas dan berangkatlah ke luar kota atau ke luar negeri sekalian. Papa akan menutup rapat semua identitas kamu dan ...." 


"Gisel akan menerima tawaran Dirga, Pa." Gisela memotong ucapan sang papa hingga membuat lelaki itu menghentikan ucapannya saat itu juga. Menelisik wajah sang putri untuk mencari kesungguhan di sana. 


"Kamu yakin?" tanya Hendarto. Tanpa keraguan Gisela mengangguk cepat. Dengan cepat Hendarto memeluk Gisela erat dan menciumi kening putrinya dengan penuh cinta. "Semoga setelah ini kamu akan menemukan sebuah kebahagiaan."


"Tapi, Pa ... bagaimana dengan Om Bisma dan Tante Yulia?" tanya Gisela khawatir. 


"Jangan terlalu dipikirkan. Mereka pasti tetap akan setuju apa pun keputusan Dirga." Hendarto kembali mencium kening Gisela lalu bergegas pergi untuk membicarakan hal ini dengan istrinya dan juga Dirga beserta keluarganya. Hendarto tidak ingin menunggu terlalu lama karena ia tidak mau sampai kandungan putrinya semakin membesar. 

__ADS_1


***


"Saya terima nikah dan kawinnya, Gisela Thania Ayudia binti Hendarto Wijaya Kusuma dengan maskawin tersebut dibayar tunai." 


"Sah!" 


Teriakan kata sah dan ucapan syukur menggema di ruang tamu rumah Hendarto. Tidak ada tamu yang hadir di sana. Hanya dua orang saksi dan kedua keluarga. Ijab kabul itu pun hanya dilangsungkan secara agama. 


Bukan tanpa alasan, Gisela yang meminta itu. Untuk beberapa bulan ini ia ingin saling mendekatkan diri dengan Dirga terlebih dahulu. Berusaha saling mengenal lebih jauh lagi. Jika memang cocok nantinya maka Gisela akan menikah secara resmi jika anak yang dikandungnya sudah lahir. 


Setelah acara ijab tersebut, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Untuk malam ini Dirga akan menginap di rumah Gisela barulah besok mereka akan pindah ke apartemen. 


Suasana di kamar Gisela terasa canggung ketika pengantin baru itu baru saja masuk ke kamar. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Gisela diam seribu bahasa, sedangkan Dirga hanya mengamati gerak-gerik Gisela. 


Ketika Gisela sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Dirga pun menyusul dan duduk bersandar kepala ranjang. Menatap Gisela yang sedang tidur membelakangi dirinya. Kedua orang itu masih sama-sama terdiam. 

__ADS_1


"Dir." 


"Gis." 


Baik Dirga maupun Gisela memanggil bersamaan. Lalu sama-sama terdiam lagi. Dirga menunggu Gisela melanjutkan ucapannya, begitu pun dengan Gisela yang melakukan hal yang sama hingga akhirnya hanya keheningan lagi yang tercipta di antara mereka. 


"Apa yang akan kamu katakan? Aku akan mendengarkan. Lady's first." Dirga memungkasi keheningan di sana. 


Gisela terlihat menghirup napas dalam dan mengembuskan secara cepat. "Aku hanya ingin bertanya, apakah kamu akan meminta hakmu sebagai suami, malam ini juga?" tanyanya ragu. 


Dirga terdiam sesaat hingga akhirnya tergelak keras hingga membuat Gisela berbalik dan menatapnya heran. 


"Kenapa kamu justru tertawa," cebik Gisela. Merasa setengah kesal karena Dirga sudah menertawai dirinya. "Apa ada yang lucu?"


"Gisel ... Gisel. Walaupun aku ini sudah tidak tahan ingin melewati malam syahdu denganmu, tapi aku tidak mungkin melakukannya sekarang. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu apalagi janin yang ada di dalam kandunganmu," ucap Dirga sangat tegas. 

__ADS_1


Bibir Gisela pun terkatup rapat dan hatinya merasa tersentuh mendengar ucapan lelaki itu.


__ADS_2