Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 63


__ADS_3

Jeni membisu. 


Dalam hati membenarkan ucapan Gisela. Ia sadar kalau dirinya memang egois. Namun, semua itu ia lakukan demi Jane. Hanya demi adiknya tetap bisa tersenyum. 


"Aku tahu kamu sayang dengan adikmu. Tapi bukan berarti kamu bersikap egois seperti itu. Mungkin dulu tidak apa, tapi sekarang kenyataan sudah berbeda. Dirga bukan lagi pria lajang. Dia adalah pria beristri," ucap Gisela penuh kecewa. 


"Maafkan saya, Nona. Tapi, Tuan Dirga lebih dulu dekat dengan adik saya daripada dengan Anda. Saya tahu Anda belum lama dekat dengan Tuan Dirga. Anda hanya beruntung karena bisa langsung menikahi Tuan Dirga." Jeni menunduk. Tidak berani menatap Gisela sama sekali karena ia sadar kalau ucapannya itu bisa saja menyinggung perasaan Gisela. 


Hening. 


Gisela tidak bisa berbicara apa pun saat dirinya merasa seperti dejavu. Akankah dirinya mengalami hal yang sama seperti dulu. Terluka lagi dan lagi. 


Ia memang tidak tahu kapan Dirga mengenal dan bahkan dengan Jane, tetapi bukankah sekarang posisinya ia adalah istri sah Dirga meskipun mereka hanya menikah siri. 


"Nona, saya mohon jangan pernah pisahkan adik saya dengan Tuan Dirga. Saya sangat meminta maaf kalau sudah membuat Anda terluka. Saya mohon jangan pisahkan mereka. Saya bersedia melakukan apa pun keinginan Anda sebagai gantinya, Nona." Jeni begitu memohon. 


"Pergilah, Jen. Aku tidak akan melarang Dirga dekat dengan adikmu," ucap Gisela karena ingin menyudahi semuanya. Ia tidak ingin hatinya makin tidak karuan jika terus membahas soal itu. 

__ADS_1


Jeni tidak ingin pergi, tetapi melihat tatapan Gisela yang menajam, Jeni pun dengan langkah berat meninggalkan wanita hamil itu sendirian. 


***


Gisela baru saja selesai mandi. Ia melirik jam dinding lalu mendes*h kasar ketika menyadari kalau suaminya belum juga pulang. 


Kecewa. 


Wanita itu merasa sangat kecewa, tetapi tidak ada hal yang bisa dilakukan saat ini. Ia tidak ingin terlalu mengekang suaminya. Apalagi Dirga dekat dengan Jane karena sedang mengobati wanita itu. Ia hanya berusaha untuk memaklumi. 


Wanita hamil itu hanya diam. Tidak tersenyum apalagi membalas pelukan suaminya. Entahlah. Ia merasa hatinya sudah berbeda meskipun pelukan Dirga sebenarnya masih tetap hangat seperti biasa. 


"Kamu baru selesai mandi?" tanya Dirga. Mengendus aroma shampo yang menguar dari rambut Gisela yang masih basah. 


"Ya. Kupikir kamu tidak akan pulang," ucap Gisela setengah menyindir. Wanita itu berpindah duduk di depan meja rias dan menatap wajahnya sendiri yang berusaha tersenyum meskipun sebenarnya hal itu adalah palsu. 


"Tentu saja aku akan pulang. Aku hanya mengawasi Jane, jika semua baik-baik saja maka aku bisa pergi dengan tenang. Lagi pula, sekarang ada Jeni yang menunggunya," jelas Dirga.

__ADS_1


Lelaki itu tidak lagi menutupi semuanya. Ia lebih terbuka. Gisela pun hanya menanggapi dengan senyuman getir. 


"Terima kasih banyak, Gis. Kamu sudah berlapang dada menerima aku agar bisa tetap merawat Jane. Percayalah, Gis. Aku mencintaimu. Sangat mencintai kalian." Dirga memeluk Gisela dari belakang sembari mengusap perut buncit istrinya. 


"Kalian siapa?" tanya Gisela curiga. 


"Tentu saja kamu dan calon buah hati kita. Memang siapa lagi?" Dirga dengan gemasnya mengecup pipi Gisela yang mulai terlihat seperti bakpao. 


"Oh, kupikir." 


"Jangan berpikir yang macam-macam." Dirga melepaskan pelukan tersebut. "Aku bantu keringkan rambutmu, setelah ini lebih baik kita tidur. Wanita hamil itu harus banyak beristirahat." 


Gisela hanya diam ketika Dirga membantu mengeringkan rambutnya. Ia menatap lelaki itu dari cermin. Ikut tersenyum ketika tatapan mereka bertemu di cermin dan senyuman lelaki itu begitu tenang seolah tanpa beban. 


Dirga tidak menyadari kalau batin istrinya saat ini sedang bergejolak sangat hebat. 


Dua kali mengalami hal yang sama. Menjadi istri dari lelaki yang sudah memiliki hubungan dengan wanita lain. Sampai akhirnya aku dicap sebagai 'perebut'. Sampai kapan aku akan seperti ini? Aku tahu Dirga lebih bisa menyayangiku, tidak seperti Abram. Tapi untuk Dirga tidak jatuh cinta dengan Jane, aku meragu. Aku khawatir dengan kalimat cinta ada karena terbiasa. Aku takut. Terluka untuk kesekian kali. 

__ADS_1


__ADS_2