Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 42


__ADS_3

Mulut Gisela hanya bisa terbungkam rapat ketika sang mama terus memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena masih berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan kapan terakhir ia melakukan hubungan badan dan dengan siapa ia melakukannya. 


"Katakan, Gis. Jangan diam saja." Vera memegang kedua bahu Gisela dan menggoyangkan cukup kasar. Terus bertanya dengan penuh ketidaksabaran. Bagaimana tidak, seorang ibu mana yang tidak cemas ketika mendengar putrinya hamil padahal status putrinya adalah seorang janda.


"Gis, kenapa kamu terus diam saja? Katakan pada mama." Vera terus memaksa. Menatap putrinya yang masih terdiam seperti orang linglung, sedangkan Dirga tampak kecewa. 


Jemari Gisela saling merem*s tatkala ia mengingat apa yang terjadi malam itu. Di mana ia menangis dalam kungkungan Abram yang sedang dalam pengaruh minuman keras. Ya, hanya satu kali itu ia melakukan hubungan badan setelah resmi menyandang gelar status janda dan hanya dengan mantan suaminya ia melakukannya. Namun, apakah mungkin hanya dalam waktu satu kali melakukan ia bisa langsung hamil. Begitulah pikiran Gisela terus saja bergelut. 


"Kalau kamu tidak mau jawab maka jangan salahkan—"


"Ini anak Mas Abram, Ma." Gisela memotong ucapan sang mama dengan cepat. 

__ADS_1


Vera dan Dirga pun tampak sangat terkejut. 


"Abram? Bagaimana bisa?" Pertanyaan itu tanpa sadar keluar dari mulut Dirga dan hanya dijawab dengan helaan napas panjang oleh Gisela. 


"Gis, ceritakan kepada mama bagaimana kamu bilang ini anak Abram. Tidak mungkin anak ini tumbuh ketika kalian masih berstatus sebagai suami-istri. Katakan yang sebenarnya, Gis." Vera begitu memaksa. Ia butuh jawaban yang sejelasnya dari Gisela. 


Kepala Gisela tertunduk dalam. Lalu terisak sembari menceritakan semuanya. Kejadian di klub malam yang membuatnya harus mengandung benih Abram yang akhirnya tumbuh di rahimnya. Hal yang tidak pernah ia duga bisa terjadi sebelumnya.


"Bisa saja. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika takdir sudah berbicara. Berarti saat kalian melakukan hubungan badan itu, kamu sedang dalam masa subur," jelas Dirga. Tatapannya ke arah Gisela masih penuh dengan kekecewaan dan kekhawatiran. 


"Ya Tuhan, Gis ... sekarang nasi telah menjadi bubur. Apa kamu akan menggugurkan kandungan itu?" tanya Vera cemas. Ia terus menatap putrinya yang tampak bimbang. 

__ADS_1


Dengan sangat lembut, Gisela mengusap perutnya. Seolah menyapa calon buah hatinya yang baru tumbuh di sana. "Gisel tidak akan pernah menggugurkan kandungan ini, Ma. Gisel akan menjaga anak ini dan membesarkannya meskipun hanya seorang diri," ucapnya penuh tekad. 


Ia sudah yakin. Tidak ada keraguan lagi untuk membesarkan buah hatinya jika sudah lahir nanti meskipun hanya sendirian. 


Vera pun hanya diam dan tidak menanggapi ucapan putrinya. Ia justru mengambil ponsel dan mengatakan semuanya kepada Hendarto. Tanpa menunggu lama dan berpikir panjang. Hendarto segera pulang dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Kabar tentang putrinya itu lebih penting dari apa pun. 


Tubuh Gisela makin gemetar saat Hendarto sudah masuk ke kamarnya. Ada perasaan takut sang papa akan memarahinya habis-habisan. Bahkan, Gisela sudah siap jika sang papa akan memukulinya asal tidak membuat janin dalam kandungannya gugur. 


"Papa akan memberikan kamu dua pilihan, gugurkan kandungan itu sekarang juga, atau silakan pergi jauh dari tempat ini jika kamu ingin janin itu tetap kamu pertahankan," ucap Hendarto tanpa basa-basi. 


Gisela pun menunduk dalam ketika mendengar ucapan sang papa. Ia tahu sang papa tidak berbicara keras apalagi memukul, tetapi dari nada bicara sang papa ia bisa merasakan ada kekecewaan teramat dalam yang tersirat

__ADS_1


__ADS_2