
Setelah urusan perut selesai, Gisela dan Dirga pun mulai mengistirahatkan diri. Mereka masih berada di rumah Gisela dan belum ingin pindah. Menurut Dirga lebih baik Gisela di rumah orang tuanya dulu agar ada yang menjaganya ketika ia sedang bekerja karena jujur, Dirga tidak tenang ketika Gisela sendirian. Bahkan, Gisela dilarang bekerja sampai usia kehamilannya masuk ke trisemester kedua.
"Kenapa kamu belum tidur juga?" Suara Dirga mengejutkan Gisela yang sedang melamun. Wanita itu menoleh dan tatapan mereka pun saling beradu sebelum akhirnya Gisela berpaling. Ia tidak mau terlarut pada tatapan itu.
"Aku belum bisa tidur. Kalau kamu sudah mengantuk, tidurlah lebih dulu. Kamu pasti capek seharian bekerja," kata Gisela tanpa berani menoleh lagi.
"Aku memang capek bekerja seharian, tapi setelah sampai rumah dan melihat istriku, rasa capek itu hilang semua." Dirga menggombal. Gisela menggigit bibir bawah untuk menahan senyumannya. Namun, pipinya yang bersemu merah tidak bisa membohongi kalau wanita itu sedang tersipu saat ini. "Astaga, Gis. Melihat pipi kamu yang memerah seperti itu aku jadi semakin gemas denganmu."
"Tidurlah." Gisela berbalik membelakangi Dirga karena tidak ingin makin kelihatan salah tingkah di depan Dirga. "A-apa yang kamu lakukan?" tanyanya gugup.
"Diamlah. Aku hanya ingin memelukmu sebentar," kata Dirga. Makin merapatkan tubuhnya hingga menempel tanpa jarak sedikit pun dengan Gisela.
__ADS_1
Gisela yang awalnya hendak berontak pun, menjadi terdiam ketika merasakan pelukan yang sangat hangat dan nyaman itu. Apalagi ketika Dirga dengan sangat lembut mengusap perut Gisela, membuat wanita itu merasakan sensasi nyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Apa seharian ini dia rewel dan membuatmu mual terus?" tanya Dirga. Hangat napasnya yang menerpa tengkuk Gisela membuat tubuh wanita itu terasa meremang seketika.
"Tidak. Aku hanya mual di pagi hari saja. Setelah sarapan semua baik-baik saja," sahut Gisela. Ia membiarkan Dirga terus mengusap perutnya.
"Syukurlah. Memang dia anak yang sangat baik dan tidak terlalu merepotkan mamanya," ucap Dirga lembut.
Jujur, hati Gisela merasakan sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Nyaman. Cinta. Atau apa pun itu Gisela tidak bisa mengungkapkan. Hal yang belum pernah ia dapatkan dari seorang Abram karena selama menikah dengan Abram, ia hanya mendapat perlakuan kasar dari lelaki itu.
"Tentu saja." Dirga menjawab cepat tanpa rasa ragu sedikit pun. "Sudah cukup dulu aku menyakiti kamu dan sekarang aku berjanji akan menebus semuanya," imbuhnya.
__ADS_1
"Jangan berjanji hal yang kamu sendiri tidak yakin bisa menepati atau tidak. Sudah cukup kamu mengingkari janjimu dulu," ucap Gisela. Bibir Dirga pun terkatup rapat untuk beberapa saat sebelum akhirnya lelaki itu mencium tengkuk Gisela dengan perlahan.
Baru saja Gisela hendak protes, Dirga sudah merapatkan tubuh mereka serapat-rapatnya. Tak lupa sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Gisela hingga membuat wanita itu, diam saat itu juga.
"Tidurlah. Jangan berbicara apa pun lagi. Kasihan anak kita jangan diajak begadang terus."
Gisela pun hanya menurut ucapan Dirga. Kedua orang itu akhirnya sama-sama memejamkan mata dan Dirga masih memeluk Gisela sangat erat. Hati Dirga merasa bahagia karena Gisela tidak lagi meminta pelukan tersebut agar dilepas.
Ketika baru saja hendak terlelap, Dirga dikejutkan dengan bunyi ponsel yang berdering memecah keheningan kamar. Membuat Gisela ikut membuka mata secara paksa. Dirga pun melepaskan pelukan itu lalu mengambil ponsel di atas nakas. Ketika melihat siapa yang menghubungi, Dirga pun beranjak bangun dengan tergesa.
"Iya, hallo. Baiklah. Aku pulang ke apartemen sekarang juga." Dirga bergegas pergi begitu saja bahkan tanpa berpamitan kepada Gisela. Keberadaan wanita itu seperti tidak terlihat sama sekali. Melihat Dirga yang tergesa, hati Gisela pun menaruh rasa curiga.
__ADS_1
"Siapa yang menghubungi Dirga. Kenapa dia pergi dengan cepat tanpa berpamitan sama sekali."
Gisela mengembuskan napas secara kasar untuk mengusir rasa gelisah yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.