
Plak!
Sebuah tamparan kembali terdengar. Namun, kali ini bukan dari Abram melainkan lelaki itu sendirilah yang terkena tamparan Gisela. Ia mendelik, tetapi tidak ada sedikit pun ketakutan di wajah Gisela.
"Kamu!" bentak Abram. Ingin sekali menampar Gisela lagi, tetapi melihat senyum sinis Gisela justru membuat Abram mengurungkan niatnya.
"Kenapa? Sepertinya kamu akan menamparku lagi, Mas?" Gisela bersedekap. Tidak peduli pada tatapan orang-orang yang mengarah padanya. Melihat apa yang dilakukan oleh Gisela, Stevani pun menjadi geram sendiri. Ia melangkah cepat mendekati Gisela.
"Dasar wanita murahan!" Stevani mendorong tubuh Gisela sangat kuat hingga mereka berdua akhirnya terjatuh bersamaan karena di saat itu Gisela sedang berada dalam posisi tidak siap.
"Stev!"
"Ahhh, sakit!" Stevani mengerang kesakitan dan terus memegangi perutnya hingga membuat Abram menjadi sangat khawatir. Sementara Gisela hanya mematung karena masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ini sakit sekali." Stevani terus merintih. Abram yang merasa begitu cemas pun segera membopong Stevani.
__ADS_1
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan calon bayiku maka aku tidak akan segan-segan mencekik lehermu!" bentak Abram. Melayangkan tatapan tajam pada Gisela yang mulai memucat.
Gisela bukan takut Abram akan mencekiknya. Akan tetapi, jika Stevani keguguran, itu artinya ia sudah menjadi seorang pembunuh.
"Aku tidak mau jadi pembunuh." Gisela bangkit berdiri dan segera menyusul Abram yang saat ini sudah berada di dalam perjalanan.
Raut kebingungan terlihat begitu memenuhi wajah Gisela bahkan ia sampai tidak bisa fokus berkendara. Ketika sudah sampai di parkiran rumah sakit pun, Gisela langsung berlari ke ruangan Unit Gawat Darurat.
Namun, sayang belum juga memasuki pintu, ia justru jatuh tersungkur karena bertabrakan dengan seorang perawat.
"Maafkan saya, Sus." Gisela bangkit berdiri dengan dibantu perawat tadi.
Ketika perawat tadi sudah pergi, Gisela pun segera mencari di brankar mana Stevani diperiksa. Ia mematung jauh dari brankar ketika melihat Dirga yang sedang memeriksa Stevani, sedangkan Abram berdiri di samping brankar dan terus menggenggam tangan Stevani sangat erat.
Sakit. Hati Gisela masih merasa sakit ketika melihat pemandangan itu. Seperti diremas cukup kuat hingga tidak berbentuk lagi. Tidak ingin ada keributan di sana, Gisela pun memilih untuk menjauh dari tempatnya berdiri. Menunggu di depan ruangan sampai Dirga selesai memeriksa Stevani.
__ADS_1
Hampir sepuluh menit berlalu, Gisela segera mendekati Dirga yang baru keluar ruangan. Melihat keberadaan wanita itu, sontak membuat Dirga mengerutkan keningnya secara dalam.
"Kenapa kamu ada di sini, Gis?" tanya Dirga penasaran.
Gisela tidak langsung menjawab dan justru menarik tangan Dirga untuk sedikit menjauh dari ruangan itu. Dirga pun hanya menurut.
"Em ... ada yang ingin aku tanyakan padamu." Gisela terlihat ragu. Membuat Dirga menjadi makin penasaran.
"Apa?" tanya Dirga tidak sabar karena Gisela justru hanya terdiam begitu saja.
"Em ...." Gisela kembali terdiam hingga membuat Dirga menjadi gemas sendiri.
"Apa kamu akan menanyakan tentang mantan suami kamu dan selingkuhannya?" Dirga berusaha menebak. Bukannya menjawab, Gisela justru menunduk dalam hingga membuat Dirga merasa yakin kalau tebakannya itu memang benar. "Jawab, Gis."
"I-iya."
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan memberi kabar yang entah akan membuatmu sedih atau justru bahagia," kata Dirga. Menjeda ucapannya sesaat. Gisela pun menunggu sembari harap-harap cemas.
Sebelum melanjutkan ucapannya, Dirga terlebih dahulu menghirup napas dalam. "Nona Stevani keguguran."