Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 69


__ADS_3

..."Aku merasa lelah. Harus merasakan luka dari orang yang berbeda. Orang yang membenci dan mencintaiku sama-sama menorehkan lara. Tuhan ... bolehkah aku meminta? Bawa aku pergi agar hatiku tidak merasa sakit seperti ini. Aku lelah." ...


...****************...


Tiada senyuman yang tampak dari bibir Gisela. Wanita itu lebih banyak diam dan melamun. Satu minggu bukanlah waktu yang mudah untuk dilewati tanpa kehadiran Dirga di sampingnya. Ia memang menolak semua yang Dirga lakukan. Entah lelaki itu yang datang ke rumah atau sekadar menghubungi lewat ponsel. Gisela sama sekali tidak menerima. 


Kecewa. 


Batin wanita itu merasa kecewa karena Dirga benar-benar tidak bisa tegas pada perasaannya. Meskipun ia tahu kalau saat ini Dirga sedang berusaha mencari pengganti untuk merawat Jane, tetapi ia tetap tidak terima karena Dirga masih tinggal satu apartemen dengan wanita itu. 


Jika orang mengatakan dirinya egois karena tidak mau mengerti suaminya.  Biarlah orang berkata apa, ia hanya tidak ingin makin menambah rasa sakit yang sudah teramat pedih dirasakan. 

__ADS_1


Tidak berbeda jauh dengan Gisela. Dirga pun merasa gelisah setiap hari karena tidak bisa menemui Gisela. Walaupun ia menyayangkan sikap Gisela yang begitu kekanakkan dan tidak mau menerima dirinya dengan baik, tetapi Dirga pun tidak ingin kehilangan wanita itu. 


Ia benar-benar mencintainya. 


"Aku tidak mau, Dir! Aku tidak mau dirawat siapa pun selain kamu!" Suara Jane menggema di ruang tamu apartemen. Wanita itu meradang ketika mendengar ucapan Dirga yang mengatakan akan ada orang lain yang menggantinya minggu depan. 


"Tapi aku benar-benar tidak bisa merawatmu lagi, Jane. Aku tidak mau terus menerus menyakiti hati istriku." Dirga benar-benar bimbang. Beberapa kali lelaki itu mengusap wajahnya secara kasar. 


"Aku tidak mau! Kalau orang yang merawatku bukan kamu maka lebih baik aku mati saja!" Suara Jane masih meninggi. 


"Kenapa kamu harus memilih wanita lain, Dir? Kenapa wanita yang baru kamu kenal yang kamu pilih. Kenapa bukan aku yang sudah berada di sampingmu selama beberapa tahun ini. Kenapa, Dir! Apa kamu tidak bisa mencintaiku? Apa karena aku yang penyakitan ini!" Jane memukul dada saat merasakan sesak di sana. Dirga pun mulai terlihat khawatir ketika melihat Jane yang wajahnya mulai pucat. 

__ADS_1


"Bukan begitu, Jane. Hati manusia tidak bisa dipaksa. Aku dan Gisela sudah berhubungan lama, tapi kami terpisah bertahun-tahun. Jadi, Gisela yang lebih dulu aku kenal dan bukan dirimu," jelas Dirga. Membuat Jane makin merasakan sesak. 


"Kalau begitu, lebih baik aku mati saja." Jane berjalan cepat menuju ke dapur untuk mengambil pisau. 


Wanita itu berniat bunuh diri. Namun, dengan gerakan cepat Dirga mengagalkannya. Membuang jauh-jauh pisau yang berhasil direbut dari Jane. 


"Aku benci kamu, Dir." Kalimat terakhir yang diucapkan Jane sebelum wanita itu akhirnya tidak sadarkan diri. 


Dirga cemas. Membopong wanita itu dan membawanya ke rumah sakit saking cemasnya. Padahal ia bisa memeriksa di rumah terlebih dahulu. 


Pikiran Dirga benar-benar kalut. 

__ADS_1


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sungguh bingung." 


Dirga merasa begitu frustrasi. Namun, menyadari Jane yang butuh penanganan segera, Dirga pun dengan cepat melajukan mobilnya ke rumah sakit. Berharap tidak terjadi hal buruk kepada Jane. 


__ADS_2