
Tanpa menyerah Stevani bersimpuh dan memeluk kaki Abram sangat erat untuk menahan agar lelaki itu tidak pergi meninggalkannya. Stevani begitu memohon ampun kepada lelaki itu. Kehilangan Abram adalah momok paling menakutkan bagi Stevani. Jika ia benar-benar jauh dari Abram maka ia akan kehilangan orang yang melindungi dan tentu saja sumber keuangannya. Ia tidak mau jika hal itu sampai terjadi.
"Aku mohon, Mas. Maafkan aku. Aku khilaf. Percayalah hanya kamu yang aku cintai." Stevani melemparkan kata-kata manis untuk merayu sekaligus meredam amarah Abram. Namun, lelaki itu justru tetap bergeming dan memalingkan wajah dari Stevani. Rahangnya masih terlihat mengetat.
Abram bukan hanya sakit hati, tetapi lelaki itu lebih merasa kecewa sekaligus menyesal. Kepercayaan kepada Stevani yang telah ia bangun susah payah, justru dirobohkan begitu saja tanpa ampun dan belas kasihan sedikit pun.
"Kemasi barangmu sebelum aku berubah pikiran," ucap Abram. Suaranya terdengar berat dan penuh dengan penekanan.
"Apa kamu akan meminta rujuk dan memaafkanku, Mas?" Stevani mendongak dan menghapus air mata dengan cepat. Menaruh harapan yang teramat dalam jauh di lubuk hatinya, semoga Abram masih bisa memaafkan dirinya.
Wajah Stevani mendadak pias saat melihat raut wajah Abram tidak menunjukan senyum sama sekali. Hanya ada seringai yang tampak sangat jelas hingga membuat tubuh Stevani terasa merinding.
"Tidak semudah itu memberi maaf untuk orang yang sudah sangat membuatku kecewa. Bertahun hidup bersama seharusnya kamu sudah tahu bagiamana aku. Keputusanku ini sudah bulat dan aku tidak akan pernah mengubahnya lagi. Meskipun aku mencintaimu, tapi aku tidak sanggup saat melihat kamu bercinta dengan lelaki lain." Abram menghempaskan kakinya cukup kasar hingga rangkulan Stevani terlepas.
__ADS_1
"Mas!"
Suara Stevani yang begitu lantang berhasil menghentikan Abram yang baru berjalan dua langkah. Lelaki itu pun berbalik dan langsung bertatapan dengan Stevani. Wanita itu tidak lagi memohon seperti tadi, justru menatap menantang hingga membuat sudut bibir Abram tertarik sebelah.
"Aku tidak menyangka kalau kamu akan sejahat ini padaku, Mas." Stevani kembali menangis untuk menarik simpati Abram. Ia akan melakukan segala cara untuk membuat Abram luluh kepadanya.
"Jahat? Aku jahat padamu? Seharusnya kamu sadar kalau kata itu lebih cocok untukmu," kata Abram setengah menyindir. Stevani pun terdiam beberapa saat.
"Bukankah seharusnya lelaki itu bekerja?" Abram mulai kesal karena merasa Stevani berusaha mencari-cari alasan dan membuatnya tersudut.
"Ya, tapi aku juga butuh perhatian, Mas. Memang apa kurangnya aku padamu? Semua sudah kuberikan bahkan seluruh jiwa dan raga. Apa kamu masih marah karena aku tidak bisa mempertahankan anak yang ada dalam perutku?" tanya Stevani melirih dan air mata kian deras.
"Anakku? Kamu yakin itu anakku? Setelah kejadian ini aku baru sadar kalau ucapan anak buahku memang benar adanya dan kemarin aku terlalu buta dan bodoh!" sergah Abram. Tatapan tajamnya masih mengarah Stevani.
__ADS_1
"Ucapan anak buahmu? Apa yang mereka katakan?" Stevani sangat penasaran.
"Anak yang kamu kandung bukanlah anakku. Bisa saja itu adalah benih lelaki brengsek yang tadi bersamamu karena yang aku ingat, aku selalu memakai pengaman saat sedang bercinta denganmu. Katakan dengan benar, apakah itu anakku?" tanya Abram sangat menuntut jawaban.
Mendengar pertanyaan itu, Stevani justru menunduk sangat dalam dan sama sekali tidak berani bertatapan dengan Abram.
"Katakan!" bentak Abram karena tidak sabar melihat Stevani yang masih terus terdiam.
"Ma-maafkan aku sudah berbohong selama ini, Mas. Arrggh."
Stevani mengerang kesakitan saat ia jatuh tersungkur ke lantai karena Abram mendorongnya sangat kencang. Tanpa peduli pada rintihan Stevani, tangan Abram sudah menampar wajah wanita itu dan merem*s dagunya cukup kuat.
"Brengsek! Ternyata kamu sudah berani bermain-main denganku selama ini. Rasakan akibatnya setelah ini!" Abram menghempaskan tubuh Stevani dan bergegas pergi dari kamar itu. Ia tidak mau luluh melihat tatapan Stevani karena bagaimana juga, ia masih memiliki perasaan untuk wanita itu.
__ADS_1