Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 66


__ADS_3

Kekhawatiran tampak memenuhi wajah Dirga. Lelaki itu bahkan sampai tidak peduli dengan keberadaan Gisela di sana. Membuat wanita itu merasa begitu terasingkan. Merasa Dirga bukanlah suaminya. 


Sejak tadi lelaki itu sibuk memeriksa Jane bahkan hanya menggunakan jubah mandi karena belum selesai mandi ketika Gisela memanggilnya tadi. Entah mengapa, melihat perhatian Dirga kepada Jane membuat hati Gisela berdesir sangat hebat. Menciptakan luka yang teramat sangat. 


"Aku harus berbicara denganmu, Gis." Dirga menarik tangan Gisela keluar dari kamar Jane setelah melihat Jane terlelap. 


Tidak ada perlawanan. Gisela hanya menurut saja ketika Dirga mengajaknya masuk ke kamar yang terletak di sebelah ruang tamu. Sepertinya itu kamar yang bisa ditiduri Dirga karena Gisela bisa melihat barang-barang suaminya yang tertata rapi di sana. 


"Apa yang kamu lakukan tadi kenapa Jane bisa drop seperti itu?" tanya Dirga penuh penekanan. Bahkan, sorot mata lelaki itu sedikit menajam hingga membuat Gisela mengembuskan napas kasar. 


"Aku tidak melakukan apa pun." Gisela menjawab sedikit ketus dan memalingkan wajah dari suaminya. Ia sedang tidak ingin bertatapan dengan lelaki itu. 


"Jangan berbohong, Gis. Aku yakin kalau kamu berbicara yang tidak-tidak. Karena yang aku tahu Jane tidak akan drop tanpa alasan," tukas Dirga. 

__ADS_1


Rahang Gisela terlihat mengetat. Wanita itu merasa geram bagaimana bisa suaminya berbicara seperti itu. 


"Kamu menuduhku, Dir? Kamu tidak percaya padaku? Sungguh, aku tidak menyangka." Gisela memberanikan diri menatap Dirga. Melayangkan sebuah tatapan penuh kekecewaan. Dirga yang melihat itu pun terdiam saat itu juga. 


"Aku berbicara jujur, aku tidak berbicara apa pun selain memintanya menghargai perasaanku sebagai istrimu. Bukankah itu bukan sebuah kesalahan. Percayalah, aku tidak berbicara macam-macam," jelas Gisela penuh penekanan. 


"Seharusnya kamu yang menghargaiku sebagai seorang dokter yang sedang merawat pasien, Gis," timpal Dirga. 


"Aku tidak menghargai bagaimana, Gis? Aku tidak membiarkan Jane tinggal seatap dengan kita. Aku memang tinggal di sini karena memantau kesehatannya, tapi aku tidak pernah tidur sekamar apalagi bercinta dengan Jane. Aku bukan mantan suami kamu itu," kata Dirga disertai senyuman sinis. 


"Kamu memang bukan Mas Abram, tapi kelakuan kamu tidak berbeda jauh dengan dia!" bentak Gisela. Air mata wanita itu mulai terlihat keluar dari kedua sudutnya. 


Ia sakit. Ia terluka untuk kesekian kalian. Bibir Dirga memang sering mengucap cinta, tetapi lelaki itu belum bisa peka terhadap perasaannya. 

__ADS_1


"Jaga bicaramu, Gisela Thania Ayudia!" Dirga membentak balik. Membuat Gisela memeluk perut buncitnya. "Aku sudah berusaha menyayangimu dengan baik! Menerima bayi yang sedang dikandungmu meskipun itu bukan anakku. Aku juga berusaha memperlakukanmu dengan penuh cinta. Lalu kurangnya apa? Kamu justru bilang aku sama dengan mantan suami kamu yang brengsek itu!" 


Gisela hanya terdiam dan air mata yang menjelaskan semuanya. Ia tidak menyangka Dirga bisa berbicara sekeras itu kepadanya. Mungkin ucapannya ada yang salah, tetapi ia tidak butuh bentakan. Ia hanya ingin meluapkan apa yang mengganjal selama ini. 


"Maafkan aku, Dir. Kalau selama ini aku sudah mengekangmu. Aku sudah membuat kamu tidak sebebas dulu. Kalau kamu merasa terkekang dan ingin kebebasan. Kamu bisa ceraikan aku saat ini juga." 


"Jangan bicara seperti itu, Gis! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu meskipun kita hanya menikah secara siri. Aku mencintaimu, Gis! Seharusnya kamu tahu itu." Dirga terlihat cemas. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Gisela. 


"Dir, kalau kamu terus seperti ini aku juga tidak akan sanggup," ujar Gisela. Mengusap air mata yang terus membasahi wajahnya. 


"Aku mohon, Gis. Mengertilah posisiku sekarang." Dirga menggenggam tangan Gisela sangat erat dan menatap penuh permohonan kepada wanita itu, sedangkan Gisela hanya membalasnya dengan tatapan nanar. 


"Aku juga mohon kepadamu untuk mengerti posisiku sebagai istrimu. Jika dirimu dulu bebas melakukan apa pun, tetapi sekarang kamu harus ingat, Dir. Ada wanita yang harus kamu jaga perasaannya," sarkas Gisela membuat Dirga hanya bisa menutup rapat mulutnya. 

__ADS_1


__ADS_2