Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 75


__ADS_3

Gisela benar-benar merasakan ketakutan yang amat hebat apalagi saat mendengar tawa Jeni yang begitu menggelegar dan sangat menyeramkan menurutnya. Membuat tubuh Gisela serasa merinding saat itu juga ketika merasa Jeni seperti orang yang sedang kerasukan. 


"Apa yang akan kamu lakukan, Jen? Aku mohon jangan melakukan apa pun." Gisela meminta dengan sangat memelas. 


Jeni tidak berbicara sepatah kata pun. Wanita itu justru terus menambahkan laju mobilnya hingga sangat kencang. 


"Bersiaplah, Nona. Kita tunggu waktu yang tepat," ujar Jeni disertai seringai. 


Gisela benar-benar takut. Ia berusaha menghubungi Dirga, tetapi tidak ada jawaban. Padahal laju mobil itu semakin kencang. Dengan terpaksa Gisela menekan kontak Abram. Tepat ketika panggilan itu terhubung, Gisela berteriak keras ketika tubuhnya terasa dihantam dengan sangat kuat. 


Mobil yang dikendarai Jeni hancur ketika bertabrakan dengan sebuah truk container. Bahkan, bagian depan mobil itu masuk ke bawah truk. Kecelakaan itu pun tidak bisa dielakkan lagi. 


***

__ADS_1


"Bangun, Gis! Aku mohon bertahanlah." 


Dirga terus saja berdiri di samping brankar tepat di mana Gisela terbaring lemah. Wanita itu sedang kritis karena kecelakaan, sedangkan Abram dengan tidak sabar menunggu di depan bersama dengan kedua orang tua Gisela. 


Tidak ada yang bisa dilakukan Dirga ketika melihat denyut jantung Gisela yang terus melemah. Semakin waktu berjalan, ia makin merasa ketakutan. Ia yakin kemungkinan terbesar apa yang akan terjadi. Namun, Lelaki itu benar-benar sangat berharap ada keajaiban.


"Aku mohon, Gis. Jangan pernah tinggalkan aku sendirian. Bangunlah dan kita hidup bahagia bersama. Aku berjanji setelah ini akan membawa kamu pergi jauh dari siapa pun yang berusaha merusak hubungan kita," ujar Dirga disertai isakan. 


Jika harus kehilangan wanita itu. Sungguh, Dirga tidak akan pernah sanggup lagi.


Namun, semua percuma. Tubuh wanita itu sudah terbujur kaku. 


"Innalilahi wa Inna ilaihi roji'un." 

__ADS_1


Gisela sudah pergi untuk selama-lamanya. Membawa turut serta anak yang masih berada dalam kandungan yang beberapa minggu lagi seharusnya lahir. 


Tubuh Dirga pun luruh ke lantai bersamaan dengan air mata yang mengalir deras. Bibirnya terus saja mengucapkan nama Gisela. Dia benar-benar tidak percaya kalau Gisela akan pergi meninggalkannya dengan secepat ini. 


Begitu pun dengan Vera yang histeris ketika mendengar Gisela telah tiada. Hendarto juga tak kuasa membendung air matanya. Begitu juga dengan Abram. Lelaki itu pun sama terpuruknya seperti Dirga. Menangisi kepergian Gisela dan calon buah hatinya. 


"Kenapa kamu jahat, Gis. Kenapa kamu harus pergi secepat ini?" 


***


Pemakaman Gisela baru saja usai. Hendarto, Dirga, dan Abram masih berada di samping gundukan tanah yang masih basah. Mereka masih tidak menyangka jika Gisela justru pergi secepat ini. Padahal seharusnya sebentar lagi akan ada kebahagiaan di antara mereka. 


Namun, semua sudah menjadi takdir dan tidak akan mungkin bisa lagi ditentang, dan manusia paling menyesal sekarang adalah Dirga. Karena kecelakaan itu dilakukan oleh Jeni yang merasa sakit hati dan berusaha menyingkirkan Gisela. Meskipun pada akhirnya wanita itu pun meninggal di tempat kejadian.

__ADS_1


Akan tetapi, sekarang yang ada hanyalah penyesalan dan waktu tidak akan mungkin bisa diulang lagi. 


Semoga kamu bahagia di surga bersama anakmu, Gis. 


__ADS_2