Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 39


__ADS_3

..."Tuhan itu Maha membolak-balikkan hati seseorang. Ada hati yang merasakan luka sebelum akhirnya jatuh cinta. Begitu juga sebaliknya. Ada yang sudah mengukir cinta, tetapi harus tergores menjadi luka hingga akhirnya terpisah karena salah satu hati telah menyerah." ...


...****************...


Waktu terus berlalu. Gisela teramat menikmati hidupnya saat ini. Baginya sekarang adalah bekerja, jalan-jalan, dan berburu kuliner. Ia sampai melupakan statusnya saat ini adalah seorang janda karena mulai merasa nyaman dengan kesendirian. 


Namun, ada hal yang terkadang membuat hati Gisela terkadang merasa tidak nyaman yaitu obrolan sang papa yang setiap kali memintanya agar dekat dengan Dirga. Bukannya Gisela tidak mau membuka hati untuk lelaki lain, tetapi ada sebersit rasa trauma dan Gisela belum siap untuk terluka kesekian kalinya. 


"Ah!" Gisela menutup kepala saat sebuah buku tebal terjatuh dari rak. Ia sudah berdoa dalam hati semoga kepalanya baik-baik saja karena terlambat untuknya menghindar. Cukup lama Gisela terdiam, ia tidak merasakan apa pun. Bahkan, tidak mendengar bunyi buku terjatuh sama sekali. 


Ketika Gisela membuka mata, terdengar dengkusan kasar saat lagi-lagi Dirga yang berdiri di depannya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa lelaki itu selalu tahu di mana dirinya berada. 


"Berhati-hatilah. Kalau kamu tidak sampai mengambilnya maka mintalah bantuan kepada orang lain di sekitarmu," kata Dirga disertai senyuman manis. Hampir saja Gisela tergoda melihat senyuman tersebut, tetapi dengan cepat ia segera berpaling. Tidak mau tergoda pada pesona lelaki itu. 

__ADS_1


"Terima kasih." Gisela merebut buku tersebut dan langsung meninggalkan Dirga begitu saja. Setelah membayar, Gisela bergegas pergi dari toko buku tersebut karena tidak mau berlama-lama dekat dengan Dirga. 


Ia pikir, Dirga tidak akan mengejarnya, tetapi ternyata pikirannya salah. Dirga justru berjalan mengekor di belakang hingga membuat Gisela berbalik dan langsung berkacak pinggang. 


"Jangan mengikutiku! Apa kamu tidak bekerja? Apa kamu tidak pergi—"


Ucapan Gisela terjeda saat Dirga sudah menarik tubuh wanita itu dan bahkan memeluknya sangat erat di tepi jalan. Jantung Gisela berdebar sangat kencang bahkan rasanya seperti akan meledak. Ia masih terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. 


"Syukurlah." Dirga bergumam lirih. Ia melerai pelukan tersebut karena khawatir Gisela akan marah padanya. Namun, Gisela hanya diam karena sepertinya ia masih sangat syok. Hampir saja ia tertabrak sebuah sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi.


"I-iya." 


"Aku akan mengantar kamu pulang." Dirga menarik tangan Gisela dan hendak menyuruhnya masuk. Namun, langkah Dirga tiba-tiba terhenti ketika mendengar ponselnya yang berdering. Bahkan, lelaki itu menerima dengan sangat tergesa. 

__ADS_1


"Ya, sebentar lagi aku akan pulang. Kalau kamu sudah lapar, lebih baik makan dulu saja. Jangan sampai terlambat makan." Dirga terdiam sesaat. "Kamu ini selalu saja manja. Aku pulang sekarang kalau begitu."


Dirga pun mematikan panggilan tersebut. Lalu menyimpan benda pipih itu ke dalam saku. 


"Maafkan aku, Gis. Aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku ada urusan mendadak. Ingat, kamu harus selalu jaga diri." Dirga mengacak pelan rambut Gisela lalu bergegas pergi sebelum wanita itu mengomel padanya. 


Namun, bukannya marah, Gisela justru masih terdiam dan menatap gerak-gerik Dirga yang baru saja masuk ke mobil dan perlahan menjauh dari pandangan matanya. 


"Siapa yang menghubungi Dirga. Kenapa dia sangat khawatir," gumam Gisela tanpa sadar. "Ahh, masa bodoh. Untuk apa aku peduli kepadanya." 


Gisela memilih untuk bergegas pergi karena tidak mau terlalu larut pada pikiran yang makin lama makin ngawur. Ia tidak mau jika pikirannya berpusat pada Dirga. 


Huh! Ada dengan hatiku ini. Entahlah, aku saja bingung. 

__ADS_1


Tidak ingin pikirannya makin ngawur, Gisela pun memilih untuk segera pulang. Jangan sampai ia terkena omelan sang papa.


__ADS_2