Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 67


__ADS_3

Tidak ingin terlalu lama berdebat, Dirga pun memilih untuk diam. Membiarkan hati Gisela merasa tenang barulah ia akan membicarakan semua dengan kepala dingin. Ia tidak ingin Gisela terlalu banyak pikiran karena hal itu akan berpengaruh pada kehamilan wanita itu. 


Namun, sekarang pasangan suami-istri tersebut justru sama-sama diam meskipun mereka berada di atas ranjang yang sama. Gisela merasa enggan untuk berbicara dengan suaminya, sedangkan Dirga pun sama halnya. Masih belum ingin membuka suaranya. Sampai cukup lama keheningan tercipta di kamar itu, Gisela pun menghela napas panjang dengan cukup keras hingga mengalihkan perhatian Dirga. 


"Aku tidak mau kita seperti ini terus." Gisela membuka suara tanpa menatap suaminya. 


"Lalu kamu mau bagaimana? Katakan keinginanmu dan aku akan berusaha menuruti," kata Dirga. Memiringkan tubuhnya dan menatap wajah cantik Gisela dari samping. 


"Kalau aku memberi kamu dua pilihan, apa kamu bersedia memilih salah satu di antaranya?" tanya Gisela. 


"Tergantung hal apa yang harus aku pilih." Dirga membalas cepat. 


Gisela pun hanya mendes*hkan napas ke udara. Merasa yakin kalau suaminya belum tentu mau memilih, tetapi ia pun tidak bisa terus-terusan menahan semuanya dalam hati. "Aku lelah jika harus seperti ini terus. Lebih baik kamu pilih salah satu ... aku atau Jane?" 

__ADS_1


"Tentu saja aku memilih kamu. Tapi, aku tidak bisa berhenti merawat Jane." Dirga membalas tanpa berpikir panjang. 


Gisela menggigit bibir perlahan dan memejamkan mata untuk menghalau cairan bening agar tidak keluar dari sudutnya.


"Kalau begitu, jangan pernah temui aku lagi, Dir." Gisela beranjak bangun dan hendak pergi dari sana, tetapi Dirga pun segera menahan. 


"Jangan pergi. Aku tidak mau kehilangan kamu, Gis." Tatapan Dirga amatlah nanar, tetapi Gisela justru menggeleng lemah. 


"Maafkan aku, Dir. Aku tidak bisa bertahan jika seperti ini. Sudah cukup hatiku terus terluka. Aku akan lebih ikhlas kalau kamu benar-benar memilih salah satu. Kalau kamu memang memilihku, kamu bisa mengganti dirimu dengan dokter lain untuk merawat Jane, tapi kalau kamu tetap akan merawat Jane maka biarkan aku pergi untuk mencari kebahagiaanku sendiri." Suara Gisela terdengar serak karena disertai tangisan. 


"Gis, beri aku waktu untuk memikirkannya dan aku akan berusaha mencari dokter lain yang benar-benar bisa menjaga Jane dengan baik." Dirga membantu mengusap air mata yang sudah memenuhi wajah Gisela. Menatap wanita itu penuh dengan cinta. 


"Kamu yakin akan mengganti dengan dokter lain?" tanya Gisela memastikan. Setengah tidak percaya kalau Dirga akan memilih hal itu. 

__ADS_1


"Ya. Tapi aku butuh waktu sekitar dua minggu karena tidak semudah itu mencari dokter pengganti dan kalau aku belum bisa mendapatkannya maka aku tetap akan merawat Jane," kata Dirga memudarkan senyum Gisela saat itu juga. "Aku mohon pengertianmu, Gis." 


"Baiklah. Tidak apa. Tapi selama dua minggu ini aku tidak mau ditemui kamu sama sekali. Aku mohon kamu jangan datang ke rumah atau menghubungiku meski sebatas lewat ponsel. Aku tidak ingin itu."  


"Kenapa begitu, Gis? Aku tidak mau!" Dirga menolak keras. 


"Maafkan aku, Dir. Aku memang terkesan egois, tapi aku juga harus memikirkan perasaanku sendiri. Aku tidak ingin terus menerus menahan luka, dan anggap saja jarak kita yang jauh itu sebagai masa uji coba kita." Gisela tersenyum getir menatap Dirga yang terlihat mengerutkan keningnya dalam. 


"Maksudnya?" 


"Jika sekarang kita berjauhan, dan suatu saat aku harus pergi meninggalkanmu untuk mencari kebahagiaanku sendiri maka kamu sudah terbiasa hidup tanpaku." 


Deg! 

__ADS_1


Jantung Dirga serasa berhenti mendadak ketika mendengar ucapan Gisela. Seperti sebuah kode bahwa wanita itu akan pergi dari hidupnya. 


Lelaki itu tidak ingin hal tersebut terjadi. 


__ADS_2