
"Aku tidak menyangka jika ada benihku yang tumbuh di rahimmu. Hal yang dulu sangat aku tentang. Namun, bolehkah jika sekarang aku menginginkannya. Bagaimanapun juga aku adalah ayah kandungnya."
***
Kebimbangan teramat dalam Gisela rasakan ketika ia mendapat pesan dari Abram kalau lelaki itu mengajaknya bertemu. Ia hendak menolak, tetapi Abram justru memberi ancaman yang membuat Gisela terpaksa mengiyakan permintaan lelaki itu.
Kali ini Gisela pergi sendiri tanpa Jeni. Entah mengapa, Gisela merasa sekarang Jeni sangat jauh darinya. Seolah menjaga jarak. Apalagi Jeni lebih sering izin dengan alasan Jane sedang butuh teman. Gisela pun hanya bisa mengiyakan saja tanpa banyak bertanya karena sejujurnya ia pun merasa sedikit enggan kepada wanita itu.
"Kenapa Mas Abram lama sekali," gumam Gisela. Menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah hampir dua puluh menit ia menunggu lelaki itu di taman kota, tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan Abram.
"Lebih baik aku pulang saja." Gisela mendengkus kasar. Lalu beranjak bangun dan hendak pergi dari sana, tetapi gerakannya terhenti tiba-tiba ketika mendengar teriakan Abram.
Ia pun berbalik dan melihat Abram yang sedang berlari mendekat. Napas lelaki itu begitu terengah-engah.
"Maaf aku terlambat," ujar Abram setelah berhasil mengatur napasnya. Gisela pun hanya diam karena tidak menyangka kalau Abram, lelaki angkuh yang dulu sering menyakitinya kini bisa mengatakan kata maaf. Hal yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
__ADS_1
"Ti-tidak apa." Gisela menjawab gugup.
"Lebih baik sekarang kita duduk. Pasti lelah kalau terlalu banyak berdiri," perintah Abram. Lagi-lagi Gisela hanya menurut dan masih berusaha mencerna semuanya.
"Bagaimana kehamilanmu? Apa bayi dalam kandunganmu membuatmu susah?" tanya Abram lembut.
Sungguh, Gisela justru menaruh curiga pada sikap Abram yang mendadak manis seperti itu.
"Tidak. Dia sama sekali tidak membuatku susah. Justru aku sangat bahagia," sahut Gisela.
"Syukurlah. Aku turut senang mendengarnya." Abram mengembuskan napas lega.
"Mas, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Gisela ragu. Ia bahkan menghindari pandangan Abram.
"Bertanyalah apa pun yang kamu mau. Aku akan menjawabnya." Abram terus saja menatap wajah Gisela yang kini terlihat sangat cantik.
__ADS_1
Ah, Abram sangat menyesal karena pernah menyiakan wanita itu sebelumnya.
"Mas, kenapa kamu bersikap sangat manis padaku? Apa kamu menginginkan sesuatu? Aku paham betul kalau ini seperti bukan kamu yang biasanya," keluh Gisela. Ia tidak ingin ada hal yang mengganggu pikirannya.
"Memangnya aku salah kalau memberi perhatian padamu?" Abram terlihat ketus. Tidak seperti tadi. Lelaki itu merasa kesal dan suasana hatinya mendadak buruk ketika mendengar pertanyaan Gisela.
"Tidak, sih. Tapi ...."
"Awas!"
Abram menghalangi tubuh Gisela dari bola yang mengarah kepada wanita hamil itu. Bahkan, tanpa sengaja Abram menyentuh perut Gisela. Membuat tubuh lelaki itu bergetar hebat. Bahkan, jantungnya berdegup sangat kencang seolah tak terkendali. Abram merasakan sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Anakku ... apakah ini yang disebut ikatan batin.
Gisela pun hanya terpaku ketika tangan Abram menyentuh perutnya. Rasanya sangat nyaman. Meskipun ketika disentuh Dirga, Gisela merasa nyaman, tetapi ia tidak bisa memungkiri kalau sentuhan tangan Abram terasa lebih nyaman. Bahkan sangat nyaman sekali.
__ADS_1
Mungkinkah karena Mas Abram adalah ayah kandung bayi ini, jadi tingkat kenyamanan yang aku rasakan ketika disentuh pun sangat berbeda. Ya Tuhan ....
Gisela langsung mendorong tubuh Abram agar menjauh darinya. Lalu ia memalingkan wajah yang sudah sangat gugup. Begitu juga dengan Abram yang bergeming di tempatnya.