
"Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menjaga orang yang dicintainya meskipun tidak pernah dijelaskan cara apa yang dipakainya. Percayalah saja, aku menjagamu dengan segenap hati dan jiwaku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu meskipun hanya sebatas luka kecil."
***
Semenjak melewati malam panas bersama, hubungan Gisela dan Dirga kini kian dekat. Wanita itu pun mulai memberikan separuh hati dan cintanya untuk Dirga. Belajar melupakan Abram. Tentu saja hal itu membuat Dirga merasa sangat bahagia. Dalam hati ia berjanji akan berusaha membuat Gisela bahagia apa pun caranya.
Namun, masih ada sebersit keraguan dan rasa curiga di hati Gisela setiap kali Dirga berpamitan ke apartemen. Bukan hanya satu Minggu sekali, tetapi lelaki itu sering berpamitan ke apartemen tanpa mengajak dirinya. Sebenarnya Gisela terkadang ingin ikut, tetapi ia malu untuk memintanya kepada Dirga.
"Kamu baru pulang?" tanya Gisela ketika melihat Dirga baru saja masuk ke kamar.
"Loh, kamu belum tidur?" Dirga justru bertanya balik. Ia berjalan mendekati Gisela dan menatap wanita itu yang terlihat sedang gelisah.
Gisela menggeleng lemah. "Aku belum mengantuk."
Dirga melirik jam yang sudah menunjuk pukul dua belas malam. Lalu mendes*hkan napas ke udara dan bergumam dalam hati karena ia sudah pulang terlalu larut. "Tidurlah. Ini sudah terlalu malam untuk wanita hamil. Atau jangan-jangan kamu tidak bisa tidur tanpa aku." Dirga berbicara menggoda. Bahkan, dengan genitnya lelaki itu mengedipkan sebelah mata.
Gisela tersenyum tipis dan dalam hatinya membenarkan ucapan lelaki itu. Wanita itu memang tidak bisa tidur tanpa pelukan Dirga. Pelukan yang seolah menjadi candu yang harus dilakukan sebelum tidur. Itulah kenapa sejak tadi ia menunggu kepulangan suaminya, tetapi Gisela merasa gengsi jika harus mengatakan sejujurnya kepada Dirga. Ia tidak mau lelaki itu menjadi narsis.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku bersihkan tubuhku dulu. Setelah itu aku akan memelukmu agar bisa tidur." Dirga berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Sementara Gisela duduk di atas ranjang sembari bersandar. Ia menunggu Dirga sembari menyibukkan diri dengan bermain ponsel. Namun, perhatian Gisela tiba-tiba teralihkan ketika mendengar bunyi ponsel Dirga yang berdering.
Ia pun mengambil benda pipih tersebut dari atas nakas. Keningnya terlihat mengerut dalam ketika ia melihat sebuah nama tertera di layar.
"J? J siapa ya?" gumam Gisela. Hanya satu huruf nama dari kontak tersebut. Gisela pun mengamati foto profil kontak tersebut dan ia seperti merasa tidak asing. "Wajahnya mirip sekali Jeni. Tapi di sini rambutnya pendek, sedangkan Jeni rambutnya sebahu lebih dikit."
Gisela terus bergumam sampai panggilan tersebut akhirnya mati. Lalu, ada sebuah pesan masuk. Ia tidak berniat membukanya, tetapi Gisela bisa membaca sedikit pesan lewat top up yang terlihat di layar.
Terima kasih sudah datang tadi. Semoga mimpi ....
Apakah itu Jeni? Wajahnya mirip sekali dengan Jeni. Itulah pertanyaan yang terus mengusik hati dan pikiran Gisela.
Sebelum dirinya ketahuan oleh Dirga, dengan cepat Gisela menaruh ponsel itu kembali ke atas nakas. Lalu ia merebahkan tubuh dan menarik selimut sampai sebatas leher. Gisela berusaha memejamkan mata meskipun sulit. Ketika ia mendengar bunyi pintu kamar mandi yang terbuka, Gisela memegang selimut dengan cukup kuat.
Ia ingin menghindari Dirga untuk saat ini.
__ADS_1
Senyum Dirga mengembang ketika melihat Gisela yang sedang berpura-pura tidur. Setelah selesai memakai piyama, lelaki itu segera naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya sangat erat.
"Aku tahu kamu hanya pura-pura tidur." Ucapan Dirga berhasil membuat Gisela mencebik kesal.
"Ish, kenapa kamu nyebelin banget." Gisela menepuk dada bidang suaminya cukup kencang dan lelaki itu yang melihatnya justru tergelak keras.
"Sudah. Lebih baik sekarang kita tidur. Ini sudah sangat larut. Atau kamu mau berolahraga?" tanya Dirga disertai senyum menggoda.
"Aku capek." Gisela berbalik membelakangi Dirga. Untuk saat ini wanita itu sedang ingin menghindari tatapan Dirga agar hatinya tidak semakin gelisah.
Gisela terdiam ketika tangan Dirga sudah menyusup masuk dan langsung mengusap perutnya dengan sangat lembut.
"Apa dia hari ini rewel dan membuat mood kamu menjadi tidak baik?" tanya Dirga. Gisela hanya diam. Ingin sekali ia bertanya soal kontak inisial J tadi. Namun, semua seolah tertahan di tenggorokan saja.
Dirga kembali duduk tegak lalu mencium perut Gisela cukup lama. "Jangan nakal, Sayang. Kasihan mama kamu. Anak pintar tidak boleh nakal ya." Satu ciuman Dirga kembali mendarat di perut Gisela hingga membuat wanita itu tidak mampu berkata-kata. Apalagi saat Dirga sudah mendaratkan ciuman di keningnya. Sontak membuat Gisela merasakan sebuah perasaan yang susah dijelaskan.
Sebenarnya, aku bingung sekarang. Kamu sangat lembut padaku. Memperlakukanku penuh cinta. Namun, siapa wanita tadi yang menghubungi kamu. Mungkinkah jika ke apartemen kamu menemui dia. Lantas, dia itu siapa?
__ADS_1
Sungguh, batin Gisela merasa tidak tenang dan banyak sekali pertanyaan yang bersemayam di hati tanpa pernah bisa ia lontarkan. Gisela pun hanya bisa memejamkan mata ketika Dirga sudah memeluknya erat dan meminta dirinya agar segera tidur. Meskipun hatinya gelisah, tetapi Gisela tetap berusaha untuk bisa memejamkan mata. Sekadar beristirahat dari keraguan dan kecurigaan yang sejak tadi menyelimuti hatinya.