Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 68


__ADS_3

"Aku mohon jangan berbicara seperti itu, Gis. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku tidak mau kamu meninggalkanku." Dirga tampak sangat memohon. Namun, Gisela menggeleng lemah.


"Aku tidak akan sanggup terus jika harus terus bersabar seperti ini. Kalau memang kamu sayang padaku, jangan hanya lewat bibir saja, Dir. Tunjukkan dengan sikap bahwa kamu bisa tegas pada perasaanmu sendiri," timpal Gisela. Memalingkan wajah karena tidak ingin bertatapan dengan suaminya. Khawatir hatinya akan lumpuh ketika tatapan mereka beradu. 


"Gis, aku hanya meminta waktu dua minggu dan itu bukan waktu yang lama, bukan?" Dirga mulai sedikit kesal dan menganggap tingkah Gisela seperti anak-anak. 


"Ya. Tapi aku juga tidak yakin kesabaranku akan bertahan sampai selama itu." Gisela menimpali cepat. 


Hening. 


Kedua orang itu sama-sama diam dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Gisela mulai berani menatap wajah suaminya yang terlihat penuh dengan kebimbangan. Sungguh, Gisela tidak yakin apakah Dirga bisa tegas pada perasaannya atau tidak. 


"Baiklah. Aku akan berusaha secepat mungkin mencari pemgganti." Dirga memungkasi pembicaraan mereka. 

__ADS_1


"Ya. Kalau begitu aku akan pulang dulu. Jangan temui aku jika kamu belum bisa menepati janjimu. Aku pergi, Dir." 


"Gis ...." 


"Jangan pernah menahanku, Dir. Maafkan keegoisanku. Aku harus pergi dan biarkan hatiku tenang untuk beberapa saat." Gisela melangkah cepat meninggalkan kamar Dirga. Meninggalkan lelaki yang hanya bergeming di tempatnya. Ingin sekali Dirga mengejar istrinya, tetapi ia khawatir hal itu akan membuat Gisela makin menjauh darinya. 


Untuk saat ini, memang menjauh dan saling introspeksi diri adalah jalan terbaik. 


***


Dengan perjuangan luar biasa, Gisela menarik kedua sudut bibirnya. Menunjukkan senyuman manis agar kedua orang itu tidak curiga. 


"Kamu dari mana, Sayang?" tanya Vera. Mengusap puncak kepala putrinya penuh kelembutan. 

__ADS_1


"Bertemu Dirga, Ma. Tapi, dia sedang sibuk dengan pasien." Bibir Gisela mengerucut. Membuatnya menjadi terlihat menggemaskan. 


Hendarto dan Vera yang mendengar itu pun hanya terkekeh. "Tidak apa. Biarlah Dirga bekerja demi kalian." 


Gisela hanya tersenyum lalu mengajak kedua orang tuanya mengobrol banyak hal. Sebelum kembali ke kamar, Gisela terlebih dahulu menatap kedua orang tuanya sangat lekat. Menatap wajah semringah mereka membuat hati Gisela berdesir hebat. Ada beban berat yang terasa menghimpit dada hingga tanpa sadar membuat cairan bening wanita itu mengalir membasahi wajah. 


"Kenapa kamu menangis, Gis?" tanya Hendarto khawatir. Merasa cemas ketika melihat putrinya yang saat ini sedang mengusap kedua matanya. 


"Gisela tidak apa-apa, Pa. Cuma tiba-tiba merasa sedih aja. Sampai sebesar ini, tapi Gisela sama sekali belum bisa membuat kalian bahagia. Yang ada, Gisela selalu saja menambah beban." Gisela berbicara dengan suara berat. 


"Jangan berbicara seperti itu. Semua sudah kewajiban papa dan mama untuk menjaga dan membesarkanmu penuh dengan cinta. Kamu sama sekali tidak menjadi beban untuk kami. Justru kamu adalah sumber kebahagiaan keluarga kecil kami. Iya 'kan, Ma?" Hendarto menatap Vera yang mengangguk mengiyakan. 


"Iya, Sayang. Lebih baik kamu jangan seperti ini. Kasihan bayimu kalau kamu banyak pikiran. Teruslah bahagia. Meskipun kamu sudah menikah, tapi kamu tetaplah kesayangan papa dan mama. Ingat, Gis. Jangan bersedih karena ada papa dan mama yang menyayangimu. Juga Dirga sebagai suami yang menyayangi dan menerima kamu dengan tulus," ujar Vera. 

__ADS_1


Gisela hanya diam dan menghirup napas panjang berkali-kali. 


Seandainya kalian tahu kalau aku pun tidak sepenuhnya bahagia menikah dengan Dirga. Akankah kalian tetap berbicara seperti ini. Maafkan aku yang sudah berbohong dan berpura-pura bahagia di depan kalian. Aku tidak ingin semakin menambah beban hidup kalian dengan kisah cinta yang aku sendiri mulai enggan melewatinya.


__ADS_2