Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 61


__ADS_3

"Gisel, aku akan jelaskan semuanya." 


Dirga melangkah cepat mendekati istrinya. Lalu menggenggam tangan wanita itu sangat erat, sedangkan ekor matanya beberapa kali melirik Abram penuh ketajaman. 


Ia tahu, semua pasti karena Abram. Namun, baginya yang terpenting sekarang adalah menjelaskan semuanya kepada Gisela. Ia tidak ingin wanita itu salah paham. 


"Katakan sekarang, Mas. Aku tidak punya banyak waktu." Nada bicara Gisela terdengar begitu ketus. 


Pandangan wanita itu menghindari Dirga, lebih memilih untuk menatap Jeni yang saat ini sedang menunduk. Juga seorang wanita yang sangat mirip dengan Jeni. Ia bisa menerka kalau wanita yang terbaring di brankar itu adalah kembaran Jeni, karena wajah mereka sangat mirip. 


"Aku akan mengajak kamu bicara di ruanganku." Dirga menarik tangan Gisela agar pergi dari ruangan itu. 


Tidak ada yang dilakukan Gisela sekarang ini selain menurut dengan suaminya. Baginya, ia harus mendengar semua penjelasan sang suami sedetail mungkin. 


Apakah wanita itu memang benar selingkuhan Dirga seperti apa yang Abram katakan. Atau bahkan ....

__ADS_1


Gisela tidak mampu lagi melanjutkan tebakannya. Merasa khawatir hatinya justru akan terluka. Memilih untuk mengusir pikiran-pikiran jahat yang begitu mengusiknya. 


Sesampainya di ruangannya, Dirga langsung mengunci pintu rapat. Menyuruh Gisela untuk duduk. Dirga pun berjongkok dan langsung menggenggam tangan wanita itu sangat erat. Sorot mata Dirga tampak penuh rasa bersalah dan Gisela bisa menangkap itu. 


"Sebelumnya aku mau meminta maaf kepadamu, Gis. Tapi aku mohon untuk sekarang dengarkan penjelasanku dulu." Suara Dirga terdengar berat dan penuh memohon. 


Gisela memalingkan wajah karena tidak ingin bertatapan langsung dengan sang suami. "Katakan." 


"Wanita itu namanya Jane, saudara kembar Jeni. Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa pun selain pasien dan dokter. Aku merawatnya karena Jeni yang memohon kepadaku. Sumpah, Gis. Karena selama ini hanyalah kamulah wanita yang aku cintai," terang Dirga. Ia berharap Gisela akan mengerti dirinya. Bahkan semua tidaklah seperti apa yang wanita itu kira. Ia tidak berselingkuh. 


"Karena aku memintanya membalas jasaku dengan menjagamu," sahut Dirga jujur. 


Gisela pun masih saja terdiam karena ada kebimbangan dan keraguan yang ia rasakan. Ia tidak bisa sepenuhnya percaya. Untuk saat ini ia akan diam dan mendengar penjelasan dari Jeni setelah ini.


"Mas, aku ingin bertanya sekali lagi. Apakah wanita itulah yang tinggal di apartemen kamu hingga kamu seringkali pulang terlambat?" tanya Gisela. 

__ADS_1


Mulut Dirga terkatup rapat. Tidak bisa menjawab pertanyaan sang istri. "Da-darimana kamu tahu?" Suara Dirga sangat terbata dan gugup.


"Kamu hanya perlu menjawab iya atau tidak, Mas. Bukan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi." Gisela mulai kesal sendiri. 


"I-iya. Tapi kita tidak pernah melakukan apa pun selain makan bersama dan mengobrol. Sumpah. Percayalah padaku, Gis." 


"Baiklah. Untuk kali ini aku akan percaya padamu. Tapi jika suatu saat kamu melukaiku maka aku akan pergi darimu. Pergi sejauh mungkin," ucap Gisela. Ia menghela napas berat untuk sekadar mengurangi beban yang terasa menghimpit dada. 


Dirga pun tersenyum senang. Lalu mengecup perut Gisela dengan sangat lembut. 


"Mama kamu memang luar biasa, Sayang. Itulah kenapa papa sangat mencintainya." Dirga menciumi perut Gisela berulang kali. Kemudian beralih mencium kening Gisela sangat lama. 


"Aku mencintaimu, Gis. Sangat mencintaimu." 


Gisela hanya diam tanpa membalas ucapan suaminya karena hatinya belum sepenuhnya tenang. 

__ADS_1


Untuk saat ini biarlah aku mengikuti alur yang sudah Tuhan gariskan. Biarlah waktu yang menjawab dengan siapa aku bisa hidup bahagia. 


__ADS_2