
Langkah kaki Jeni begitu tergesa ketika mendengar kabar dari Dirga kalau saudara kembarnya masuk rumah sakit. Hatinya selalu saja merasa kacau kalau mendengar Jeni drop. Ia merasa begitu khawatir.
Ketika masuk ke ruangan, wanita itu langsung berhadapan dengan Dirga yang sedang berdiri di samping brankar. Tatapan Dirga tampak lain dari biasanya dan tentu saja hal tersebut membuat Jeni merasa curiga.
"Kondisi Jane sudah stabil. Kamu tenang saja. Dia baru saja tertidur." Dirga melangkah mendekati Jeni. "Ada yang harus aku bicarakan denganmu, Jen. Ikut aku."
Dirga melangkah lebar meninggalkan ruangan Jane karena wanita itu sedang beristirahat, sedangkan Jeni mengikuti langkah Dirga yang sedang berjalan menuju ke taman yang terletak di area belakang rumah sakit. Kedua orang itu pun berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
"Ada apa?" tanya Jeni tidak sabar.
Dirga menghirup napasnya dalam. "Maafkan aku, Jen. Mulai minggu depan aku tidak bisa lagi merawat Jane."
__ADS_1
"Kenapa?" sela Jeni. Jantungnya berdegup kencang ketika mendengar ucapan Dirga.
Mungkin ini arti dari tatapan mencurigakan Dirga barusan.
"Tidak apa. Aku hanya ingin menjaga perasaan Gisela. Aku tidak mau kehilangan dia. Tapi, kamu tenang saja. Aku sudah mendapatkan pengganti untuk merawat Jane, dan aku juga tidak akan lepas tangan begitu saja. Aku tetap akan memantau dari jauh," papar Dirga.
"Jangan bilang kalau inilah yang membuat Jane drop, Dir." Suara Jeni meninggi. Hati wanita itu terasa memanas.
Tangan Jeni terkepal erat bahkan rahang gadis itu terlihat mengetat. Ia tidak terima ini. Jika Dirga benar-benar tidak mau merawat Jane maka Jeni merasa yakin kalau saudara kembarnya tidak akan bisa baik-baik saja. Ia tahu kalau saudaranya itu sangat berambisi untuk memiliki Dirga.
"Dir, kenapa kamu memilih Nona Gisela? Seberapa hebatnya dia hingga kamu meninggalkan Jane? Apa karena Jane sakit-sakitan jadi kamu begini?" tukas Jeni. Berusaha meredam amarah yang hendak meluap.
__ADS_1
"Ini perkara hati, Jen. Tidak ada yang bisa memaksa. Aku melakukan ini juga demi kebaikan kalian. Maaf. Aku tahu Jane menyukaiku, tapi aku tidak mau memberi harapan lebih kepadanya. Lebih baik aku menjauh dan biarkan Jane mulai menghapus perasaannya karena sampai kapan pun hanya ada Gisela yang ada di hatiku," jelas Dirga. Meluapkan segala yang ada di dalam hatinya. Tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka di kemudian hari.
"Kamu sungguh jahat, Dir!" ujar Jeni setengah membentak.
"Sekali lagi, maafkan aku, Jen. Lebih baik sekarang kamu jaga Jane dulu karena aku memiliki urusan yang harus aku selesaikan secepatnya." Dirga melangkah meninggalkan Jeni begitu saja. Tanpa peduli kepada tatapan sengit dari wanita tersebut.
Selepas kepergian Dirga, Jeni pun bergegas menuju ke ruangan Jane dan melihat saudara kembarnya yang masih terlelap dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.
Beberapa kali ia mengembuskan napas kasar ketika teringat ucapan Dirga barusan. Terus berusaha meredam amarah yang hampir naik ke ubun-ubun.
"Apa pun akan aku lakukan demi kebahagiaanmu, Jane. Apa pun itu! Aku akan menyingkirkan segala penghalang untukmu mendapatkan kebahagiaan. Aku tidak mau kamu hidup menderita."
__ADS_1
Gigi Jeni bergemerutuk ketika bergumam. Ia benar-benar sedang menahan emosi saat ini.