Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 65


__ADS_3

Gisela terdiam dan tidak sekalipun menjawab pertanyaan Abram. Tidak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya. Ia khawatir jika Abram sampai tahu kalau ternyata calon bayi itu memang anaknya, maka Abram akan memintanya ketika sudah lahir nanti. 


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Abram lagi karena Gisela sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. 


"Lebih baik kamu pergi, Mas. Aku akan pulang." Gisela memilih menjauh dan tidak ingin berbicara lebih lanjut lagi dengan Abram. Ia masih sayang kepada hatinya sendiri. 


"Aku harus mencari kebenaran itu," gumam Abram sembari melihat Gisela yang sudah berjalan menjauh. 


Mendengar ucapan Gisela tadi, justru membuat Abram merasa curiga dan tidak tenang. Wanita itu seperti memberi kode untuknya. Dengan bergegas, Abram pun pergi dari tempat itu dan langsung menyuruh anak buahnya untuk mencari kebenarannya. 


***


"Hallo, Gis. Kamu di mana? Kenapa kamu pergi tanpa Jeni. Aku—"


"Tenang saja. Aku baik-baik saja dan bisa menjaga diri dengan baik, Mas." Gisela menyela ucapan Dirga. Membuat Dirga terdiam beberapa saat. 

__ADS_1


"Pulanglah. Sebentar lagi aku akan pulang. Tunggu Jane tidur," kata Dirga lirih. 


Gisela merem*s ponsel yang masih melekat di samping telinga. Memejamkan mata ketika merasakan ada desiran rasa sakit yang amat hebat. Bolehkah ia berteriak kalau dirinya cemburu tiap kali Dirga mengucap nama wanita lain bahkan tanpa perasaan sekalipun. 


"Mas ...." Gisela terdiam dan merasa ragu. Namun, ia harus memiliki keberanian sekarang. "Aku mau ke apartemenmu sekarang. Jadi, aku mohon katakan di mana, kalau tidak maka kamu jangan sekalipun menemui aku lagi."


"Tapi, Gis ...." 


"Kalau kamu tidak mengizinkan, itu artinya kamu tidak sayang padaku dan seharusnya aku sadar diri," kata Gisela. Terus menyela ucapan Dirga. 


Selama dalam perjalanan, Gisela berusaha untuk terus menguatkan hatinya. Berharap ia bisa terus bersabar ketika melihat pemandangan yang mungkin akan melukai hati. Namun, jika tidak seperti ini maka hatinya tidak akan pernah bisa tenang dan terus saja menerka-nerka. 


Gisela menghirup napas dalam ketika ia telah berdiri di depan pintu apartemen Dirga yang terletak di lantai sepuluh. Setelah menekan bel, terbukalah pintu tersebut dan Dirga tampak keluar dari balik pintu. Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam sana. 


Yang membuat Gisela terkejut adalah Jane yang sedang terlelap di sofa hanya menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Hati Gisela benar-benar memanas ketika melihatnya. 

__ADS_1


"Silakan duduk, Nona. Maaf kalau apartemen ini berantakan." Jane berbicara sangat manis. Namun, Gisela bisa melihat tatapan Jane yang menunjukkan ketidaksukaan. 


"Duduk, Gis. Aku mandi sebentar setelah ini kita pulang." Dirga mengecup kening Gisela lalu bergegas pergi menuju ke dapur. 


"Bagaimana keadaanmu, Nona? Apa sudah lebih baik?" tanya Gisela berbasa-basi. 


"Bukankah kamu lihat sendiri kalau aku ini sudah lebih baik." Jane menjawab ketus. 


"Kalau begitu, kamu tidak perlu lagi perawatan dari suamiku," kata Gisela membuat Jane menatapnya tajam. "Dan dia tidak perlu datang ke sini terus," lanjutnya tetap tenang. 


"Kamu tidak ada hak untuk mengatur seperti itu! Asal kamu tahu, Dirga adalah milikku! Sampai kapan pun akan menjadi milikku!" Jane berbicara setengah berteriak. 


Gisela pun menghela napas panjangnya. "Mungkin dulu dia bebas melakukan apa pun, tapi sekarang dia adalah seorang lelaki beristri. Jadi, dia harus bisa menjaga perasaan istrinya. Seharusnya kamu sebagai wanita juga bisa menghargai perasaan wanita lain." 


Baru selesai berbicara seperti itu, Gisela terkejut ketika Jane memukul dada. Napas Jane tersengal hingga membuat Gisela ketakutan dan langsung memanggil Dirga saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2