
Gisela pun memutuskan untuk langsung pulang karena malam hampir larut. Ia tidak tenang jika harus pergi sendirian. Namun, tiba-tiba Gisela dikejutkan dengan sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di samping mobilnya.
Belum juga Gisela mengetahui siapa pemilik mobil tersebut, tubuhnya sudah gemetar karena melihat dua orang bertubuh kekar keluar dari sana. Gisela hendak kabur, tetapi tidak bisa. Ia sudah terlebih dahulu tidak sadarkan diri karena gerakan gesit lelaki itu dalam membiusnya. Bahkan, hendak dibawa ke mana saja, Gisela tidak pernah mengetahuinya.
Perlahan, tapi pasti. Mata Gisela mengerjap untuk menyesuaikan dengan cahaya di ruangan yang udaranya terasa begitu pengap. Ketika matanya benar-benar terbuka, ia tersentak saat menyadari dirinya sudah dalam kondisi terikat. Tatapan Gisela memindai seluruh ruangan yang terasa sangat asing untuknya.
"Aku di mana," gumam Gisela. Tepat ketika itu, pintu ruangan terbuka dan dua orang tadi masuk ke sana. Berdiri sembari menyeringai hingga membuat Gisela kembali merasa takut.
"Kamu sudah sadar, Nona?" tanya salah satu di antara mereka.
"Kalian siapa!" bentak Gisela berusaha untuk memberanikan diri.
"Anda tidak perlu tahu kami ini siapa. Yang terpenting bos kami yang akan bertemu Anda," jawabnya.
"Bos? Memangnya siapa bos kalian? Aku tidak tahu!" Suara Gisela masih meninggi.
__ADS_1
Mereka tidak menjawab, hanya suara langkah kaki yang terdengar hingga membuat perhatian mereka teralihkan. Gisela sontak membuka mata lebar ketika melihat lelaki yang sedang berjalan mendekatinya.
"Ma-Mas Abram."
"Hallo, Gisela Thania Ayudia. Apa kabarmu wahai mantan istriku?" sapa Abram. Tangannya memegang kedua pinggiran kursi yang diduduki Gisela. Lalu menatap wanita itu sangat lekat. "Kamu sekarang sudah terlihat sangat cantik."
"A-apa yang akan kamu lakukan, Mas? Kenapa kamu menculikku seperti ini?" tanya Gisela terbata. Ia masih merasa takut ketika melihat sorot mata Abram yang sangat tajam.
"Aku menculikmu? Hahaha. Tidak akan." Abram berdecak keras. "Aku hanya akan memberi peringatan untukmu. Ingat, aku tidak akan pernah tinggal diam kepada siapa pun yang sudah menyakiti mamaku."
"Jangan berlagak bodoh! Aku tahu kamu yang menabrak mamaku, bukan?" Rahang Abram mengetat. Mulai merasa kesal dengan Gisela yang bertingkah seperti orang bodoh.
"Sumpah, Mas. Aku tidak melakukan apa pun. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengan mamamu." Gisela membela diri karena ia memang tidak tahu menahu soal itu. Ia bahkan tidak mau lagi berurusan dengan mantan mama mertuanya.
"Halah! Cih! Awas saja kalau aku tahu kamu adalah pelaku sebenarnya maka aku tidak akan memberi ampunan sedikit pun!" Telunjuk Abram mengarah tepat di depan wajah Gisela.
__ADS_1
"Mas, aku berani bersumpah. Aku bahkan tidak mau lagi berurusan dengan kamu dan keluargamu. Bagiku, sudah cukup semuanya. Aku ingin membuka lembaran baru tanpa bayangan masa lalu yang kelam. Jadi, aku mohon jangan pernah kamu usik hidupku lagi, Mas." Gisela tak kuasa membendung air mata.
Melihat cairan bening yang mengalir dari kedua sudut mata Gisela, hati Abram tiba-tiba terasa berdenyut. Ada rasa kasihan dan tidak tega yang ia rasakan. Apalagi ketika melihat bola mata Gisela dengan sangat lekat. Membuat Abram makin merasakan hatinya tak karuan.
"Oh, sialan!" umpat Abram. Merutuki dirinya sendiri. Ia bahkan beberapa kali mengembuskan napas kasar. "Ingat, aku akan selalu mengintai gerak-gerikmu."
Abram pun memilih berjalan menjauhi Gisela hingga membuat wanita itu mengembuskan napas lega. Ia tidak mau luluh apalagi sampai terpikat kepada wanita itu.
Ia membenci Gisela.
"Lepaskan dia," perintah Abram sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu. Gisela pun mengembuskan napas lega karena Abram tidak melakukan hal apa pun padanya dan justru melepaskannya begitu saja.
Setelah cukup lama kepergian Abram, Gisela langsung dilepas. Wanita itu pun langsung pergi dengan cepat karena khawatir Abram akan berubah pikiran atau kembali ke sana lagi.
"Kira-kira siapa yang sudah menabrak Nyonya Farah. Aku merasa tidak melakukan apa pun," gumam Gisela sebelum akhirnya melajukan mobilnya pergi dari sana.
__ADS_1