Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 35


__ADS_3

"Pa, sepertinya Gisel tidak—"


"Papa tahu itu hanya alasanmu saja." Hendarto sudah menyela ucapan Gisela hingga membuat wanita itu terdiam saat itu juga.


Tidak ada yang bisa dilakukan Gisela selain menurut dan duduk bersebelahan dengan Dirga. Tidak ada kecanggungan yang Gisela rasakan. Meskipun jarak mereka sangat dekat, tapi Gisela terlihat beberapa kali berusaha untuk menjauh dari Dirga. 


"Tante tidak menyangka kalau kamu sekarang sudah secantik ini, Gis. Sangat cantik." Bibir Yulia tersenyum lebar. Mengagumi kecantikan mantan kekasih putranya. 


Meskipun terpaksa, Gisela tetap berusaha untuk tersenyum simpul. Ia tidak mungkin bersikap tak acuh di depan dua orang yang harus ia hormati.


"Makasih banyak, Tante." 


"Hen, sepertinya kita bisa membicarakan soal mereka, deh. Lagi pula anakku sekarang sudah menjadi dokter. Sudah waktunya juga buat dia mendapat pasangan hidup," kata Bisma. 


Gisela dan Dirga pun sama-sama terdiam dan saling pandang sesaat. Sebelum akhirnya pura-pura fokus pada makanan mereka. 


"Kalau aku, sih, terserah saja. Tapi untuk saat ini sepertinya belum. Kamu tahu 'kan kalau putriku ini baru mengalami kejadian tidak mengenakkan," balas Hendarto. 


Mendengar ucapan sang papa, Gisela pun hanya bisa mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Merasa yakin kalau sang papa sudah menceritakan hal yang sebenarnya tidak ingin ia ceritakan kepada siapa pun. 

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu aku tunggu kabar darimu." 


Obrolan itu pun terus berlanjut, tetapi tidak membahas soal hubungan Dirga juga Gisela karena Hendarto tidak ingin membuat putrinya merasa tidak nyaman. 


***


Abram memijat pelipis saat kepalanya terasa begitu pusing. Sejak percintaan terakhirnya dengan Gisela, entah mengapa lelaki itu menjadi terus terbayang sosok Gisela. Meskipun sama-sama bercinta, tetapi rasanya berbeda ketika ia melakukan dengan Stevani dan Gisela. 


"Aargghhh! Lama-lama aku bisa gila! Untuk apa aku memikirkan gadis kampungan itu!" Abram merutuki dirinya sendiri. 


Ia kesal karena sekarang menjadi susah fokus pada pekerjaan. Sedang berada dalam situasi yang tidak terlalu baik, ponsel Abram justru berdering. Lelaki itu berdecak ketika melihat nama Stevani tertera di layar. Jika diminta, Abram sedang tidak ingin berhubungan dengan wanita itu sekarang ini. 


"Kamu masih di kantor?" tanya Stevani. Suaranya terdengar manja. Biasanya Abram akan tergoda pada suara wanita itu, tetapi tidak untuk sekarang. Abram justru merasa sedikit malas. 


 "Masih. Kenapa?"


"Aku mau beli gaun baru. Warnanya sangat cantik dan aku suka sekali. Apa kamu mau—"


"Beli saja. Nanti aku yang akan membayarnya," potong Abram cepat. 

__ADS_1


"Asiikkk. Terima kasih. Aku mencintaimu." 


Belum juga Abram membalas, panggilan tersebut sudah mati begitu saja. Dengan sedikit kasar Abram pun menaruh ponsel di atas meja dan menyandarkan tubuh di kursi. Menatap langit ruangan dan perlahan mencoba untuk memejamkan mata. 


"Gisela? Apa yang akan kamu lakukan?" 


Abram terkejut ketika dirinya berdiri berhadapan dengan Gisela. Tatapan wanita itu membuat tubuh Abram merinding seketika. Sorot mata yang sangat tajam tidak seperti biasanya. 


"Aku datang untuk membunuhmu, Mas." Gisela tergelak keras sembari mengeluarkan tongkat bisbol. Mengangkatnya tinggi dan bersiap untuk memukulkan kepada Abram. 


"Kamu jangan gila!" bentak Abram. Berusaha mengalihkan perhatian Gisela agar wanita itu mengurungkan niatnya.


"Ya! Aku, sudah gila! Karena kamu sudah sangat melukaiku. Sekarang rasakan pembalasanku!" 


"Arrgghhhh!!!" 


Abram menjerit keras dan langsung tersadar dari tidurnya. Napasnya begitu tersengal bahkan keringat dingin sudah mulai membasahi dahi. Dengan berusaha keras Abram mengatur napasnya. Ia masih tidak menyangka akan bermimpi seburuk itu. 


"Ya Tuhan ... untung hanya mimpi," gumam Abram.

__ADS_1


__ADS_2