
Mendengar suara yang menggelegar di kamar, Stevani pun langsung terbangun bersama dengan lelaki itu. Ia sangat terkejut ketika melihat Abram yang sedang berdiri tidak jauh dari ranjang sembari menatapnya sangat tajam. Tatapan yang belum pernah Stevani lihat selama ini. Sangat menakutkan dan mampu membuat tubuh Stevani merinding.
"Mas ... Argh." Stevani mengerang kesakitan saat Abram sudah menjambak rambutnya sangat kencang hingga kepalanya ikut tertarik ke belakang. Bahkan, seperti akan melepaskan akar rambut-rambut itu dari kepala. Lelaki yang berada di samping Stevani pun bergegas bangun dan langsung menendang perut Abram hingga jatuh tersungkur di lantai. Ia juga menatap Abram penuh amarah.
Kedua anak buah Abram pun segera menolong bosnya untuk bangun lalu balas menyerang lelaki tadi. Pertarungan cukup sengit, bahkan security yang ikut ke sana, tidak bisa melerai karena tenaga anak buah Abram dan lelaki tadi lebih kuat dari mereka. Sampai akhirnya lelaki yang bersama Stevani tadi sudah terkapar karena mendapatkan banyak pukulan.
Abram tidak berbicara apa pun, ia hanya menyuruh Stevani untuk memakai bajunya kembali lalu menarik kasar tangan wanita itu dan mengajaknya untuk segera pergi dari sana. Abram tidak ingin mendapatkan citra buruk di depan umum, jadi ia akan menyelesaikan semuanya di rumah agar tidak diketahui oleh publik. Abram pun meminta anak buahnya agar masalah ini tidak terdengar sampai ke luar.
Stevani berusaha melepaskan cekalan tangan Abram yang terasa sakit. Abram menggenggam tangannya dengan penuh amarah. Awalnya Stevani meronta, tetapi ketika melihat sorot mata Abram yang sangat menakutkan, wanita itu pun akhirnya hanya bisa diam dan pasrah. Ia berharap semoga setelah ini Abram masih bisa memaafkannya.
__ADS_1
***
"Arrggh." Stevani mengerang ketika baru masuk ke kamar, Abram sudah menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan kencang. Jika di lantai saja, Stevani yakin tulangnya sudah patah. Tubuh Stevani gemetar ketika melihat raut wajah Abram sama sekali tidak berubah, masih dipenuhi dengan amarah. "Ma-maafkan aku, Mas."
Abram mendekati Stevani yang terus memundurkan tubuhnya. Kemudian, Abram mengungkung wanita itu. Dengan cepat Abram membuka paksa pakaian dalam yang dikenakan wanita itu, Stevani pun hanya bisa menurut dan ia berharap hal itu akan menjadi umpan agar Abram mau memaafkannya.
"Hentikan, Mas. Ini sakit sekali." Stevani mengerang saat Abram mengobok-obok area bawah sana. Rasanya sungguh menyakitkan hingga tanpa sadar Stevani sudah mengeluarkan air mata.
"Sakit? Sepertinya milikmu ini cukup jika dimasuki tiga barang sekaligus. Bagaimana kalau aku memanggil anak buahku dan biarkan mereka bermain denganmu?" ucap Abram disertai seringai licik.
__ADS_1
Stevani menggeleng cepat dan menelan ludah dengan susah payah. Ia takut Abram benar-benar akan melakukan apa yang diucapkannya. Ia kembali mendes*h ketika Abram sudah mengeluarkan jarinya yang basah dan masih ada bekas cairan kental milik Charles di sana.
"Jangan lakukan itu padaku, Mas. Maafkan aku." Stevani begitu memohon dan memegang kedua lengan Abram. Namun, Abram sudah terlanjur marah dan dengan cepat menyingkirkan tangan wanita itu. "Mas, aku janji tidak akan melakukan lagi. Aku mencintaimu, Mas."
"Bulshit! Dasar **** ***! Wanita murahan! Aku sangat bodoh karena terlalu percaya kepadamu. Bertahun-tahun kita bersama dan aku tidak menyangka kalau kamu semurahan ini. Cih!" Abram dengan tanpa belas kasihan meludahi tubuh Stevani. Membuat wanita itu merasa telah sangat dilecehkan. Namun, ia hanya bisa diam karena menyadari kalau dirinya bersalah di sini.
"Kemasi barang-barangmu dan aku menalakmu! Mulai saat ini kita bukan lagi suami-istri!" ucap Abram lantang.
Stevani mendongak dan menatap suaminya dengan tatapan nanar. Ia berusaha merayu Abram, tetapi keputusan lelaki itu tidak bisa ditarik kembali. Bahkan, Abram yang biasanya luluh dengan air mata Stevani, kini air mata itu tidak berguna lagi untuk menarik simpati Abram.
__ADS_1