Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 43


__ADS_3

"Pa, aku tidak mau jauh dari Gisel apalagi sekarang putri kita sedang hamil. Jangan menambah beban mentalnya, Pa." Vera memotong pembicaraan mereka. 


Ia pun sama dengan Hendarto, merasa kecewa dengan Gisela. Namun, jika harus berpisah lagi dengan putrinya maka Vera tidak akan pernah bisa. Ia pernah merasakan bagaimana sulitnya seorang wanita menjalani kehamilan. Apalagi jika harus melalui sendirian pasti itu sangat berat. 


"Tapi, Ma. Kalau sampai orang luar apalagi rekan kerja tahu kalau putri kita hamil padahal statusnya janda, apa itu tidak memalukan? Bercerai di usia pernikahan yang baru sebentar saja sudah menjadi omongan. Apalagi hal seperti ini," ucap Hendarto penuh ketegasan. Membuat Gisela makin menunduk dalam dan hanya air mata wanita itu yang menjelaskan semuanya. 


"Ma-maafkan Gisel, Pa." Bibir Gisela terlihat bergetar kala mengucapkan kata itu. Ia bahkan tidak berani menatap sang papa sama sekali. 


Hendarto menghela napas dalamnya dan mengembuskan secara perlahan. Sedikit meredam amarah agar tidak naik ke ubun-ubun. "Katakan sejujurnya kepada papa, apakah kamu masih mencintai Abram?" 


Gisela kembali menunduk dan hanya diam. Membuat Hendarto menjadi gemas sendiri. 


"Papa anggap diamnya kamu itu sebagai jawaban kalau kamu masih mencintai Abram. Jadi, lebih baik sekarang kamu katakan keputusan apa yang akan kamu pilih," perintah Hendarto. 

__ADS_1


"Aku mau mempertahankan janin ini, Pa. Bagaimana juga dia adalah darah dagingku dan aku tidak akan pernah mau menggugurkannya. Tidak apa aku membesarkannya seorang diri. Aku juga tidak mau kembali dengan Mas Abram meskipun masih ada rasa untuk dia." Gisela berusaha terlihat tenang dan yakin kalau semua itu memang sesuai isi hatinya. 


"Kamu sudah yakin?" tanya Hendarto memastikan.


"I-iya, Pa." 


"Pa, kasihan Gisel. Kalau Gisel pergi maka mama juga akan pergi. Mama tidak akan meninggalkan  Gisel sendirian apalagi ada calon cucu kita yang sedang tumbuh di dalam rahimnya," kata Vera. Demi apa pun, ia sangat tidak ingin jauh dari putrinya. 


"Ma—" 


"Silakan, Nak." Hendarto mempersilakan. 


Dirga menghirup napasnya dalam. "Om, maaf kalau saya terlalu ikut campur. Tapi, menurut saya lebih baik Gisel tetap berada di sini karena seorang wanita hamil itu sangat membutuhkan perhatian dan butuh didampingi. Soal menggugurkan kandungan, lebih baik jangan sampai dilakukan karena itu tidak baik." 

__ADS_1


"Tapi, Nak Dirga, Om tidak mau kalau sampai  Gisel menjadi bahan cacian orang-orang. Apalagi rekan kerja om, pasti mereka akan melontarkan banyak pertanyaan. Om tidak ingin hal itu terjadi," ucap Hendarto disertai helaan napas kasar. 


Seandainya Gisela memilih untuk pergi jauh karena tidak ingin menggugurkan kandungan tersebut, tetapi Hendarto juga tidak akan lepas tangan begitu saja. Ia akan menaruh pengawal untuk mengikuti putrinya dan menutup rapat informasi jangan sampai kehamilan Gisela itu bocor apalagi sampai ke telinga Abram. Hendarto hanya merasa cemas kepada putrinya. 


"Aku punya saran, Om. Tapi aku tidak yakin kalian akan setuju atau tidak. Terutama Gisel." Dirga terlihat ragu. 


"Saran apa, Nak? Mungkin om bisa mempertimbangkannya." Hendarto tidak sabar sendiri. Otaknya terasa buntu saat ini dan ia membutuhkan saran dari orang lain. 


Dirga tidak langsung menjawab, ia menatap ketiga orang di depannya secara bergantian. Lalu Dirga memusatkan pandangan ke arah Gisela yang juga sedang menatap ke arahnya saat ini. 


"Nak ...." 


"Saya akan menikahi Gisela. Jadi, Gisel tidak perlu menggugurkan kandungannya apalagi pergi dari rumah ini," kata Dirga. 

__ADS_1


Sontak ucapan tersebut membuat suasana di dalam kamar terasa sangat hening dalam waktu sekejap. 


__ADS_2