Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 74


__ADS_3

Gis, aku tahu kamu masih marah padaku. Aku mohon maafkan aku. Ada kabar bahagia untukmu. Lusa aku akan menjemputmu dan memulai hidup kita dengan lembaran baru. Aku sudah membeli rumah untuk tempat tinggal kita dan bahkan aku sudah memindahkan semua barangku ke sana. Aku juga sudah mengganti dokter lain untuk merawat Jane. Jadi, maukah sekarang kamu memaafkanku dan kita membuka lembaran baru? Aku benar-benar tidak mau kehilangan kamu, Gis. 


Helaan napas Gisela terdengar ketika membaca pesan dari Dirga. Ia tidak menyangka kalau suaminya itu benar-benar akan melakukan apa yang ia mau meskipun semua sedikit terlambat. Apalagi Dirga sudah memberikan kekecewaan lagi membuat Gisela merasa ragu untuk memulai kembali semua dari awal. 


Ia takut akan kembali terluka. 


Ya. Besok siang aku akan menemuimu. 


Gisela memejamkan mata dan membiarkan cairan bening mengalir dari kedua sudut matanya. Merasa sangat berat. 


"Maafkan aku, Dir. Jika besok aku membuatmu kecewa. Aku ingin membuka lembaran baru denganmu, tapi aku juga cemas kamu akan menorehkan luka lagi. Semoga salam perpisahanku besok tidak terlalu menyakitimu dan membuat apa yang sudah kamu lakukan tidak menjadi sia-sia," gumam Gisela. Menghapus air mata yang mengalir deras. 


Ia tahu, ini sangat berat. Namun, Gisela harus tetap melakukan itu dan hatinya pun sudah merasa yakin untuk menjauh dari Dirga maupun Abram. Dua lelaki yang tidak bisa memberikan ia sebuah kebahagiaan. 

__ADS_1


***


Sejak tadi Gisela merasa cemas dan gugup. Perasaannya mendadak sangat tidak nyaman. Mungkinkah karena ia akan bertemu dengan Dirga hingga membuatnya segelisah ini. Wanita hamil itu pun berusaha melakukan apa saja untuk menyingkirkan perasaan tidak nyaman itu. 


"Anda sudah siap, Nona?" tanya Jeni. Suara wanita itu terdengar sangat dingin. Tidak seperti dulu. Namun, Gisela pun hanya memaklumi. 


"Ya. Kita berangkat sekarang saja. Aku takut Dirga menunggu terlalu lama." Gisela hendak keluar dari rumahnya. Namun, ketika sampai di ambang pintu, ia berpapasan dengan kedua orang tuanya yang baru saja pulang makan siang di luar. 


"Kalian sudah pulang." 


"Aku mau bertemu Dirga, Ma." Gisela menjawab disertai senyuman. Namun, Vera merasa tatapan Gisela begitu berbeda. Terasa sangat dalam hingga membuat aliran darah wanita itu berdesir hebat. 


"Baiklah. Nanti langsung pulang. Jangan sampai malam. Kalau perlu, ajak Dirga sekalian ke sini," kata Hendarto. 

__ADS_1


Gisela hanya mengangguk mengiyakan lalu mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian. Bahkan, Gisela pun tak lupa memeluk mereka sangat erat. 


"Gisel pergi dulu. Aku sayang kalian." 


Gisela pun bergegas pergi dan diikuti Jeni di belakang. Setelahnya, mereka pun pergi ke tempat di mana Gisela sudah berjanjian dengan Dirga. 


Aku harus bisa berpamitan dengan Dirga dan benar-benar menjauh dari dia. 


Ketika sedang dalam perjalanan, Gisela merasa bingung karena mobil yang dikemudikan oleh Jeni justru melaju melewati jalanan asing. Bukan rute yang seharusnya mereka lewati. 


"Kita mau ke mana, Jen?" tanya Gisela heran. Melihat tatapan sinis Jeni dari kaca kecil depan, membuat Gisela mendadak waspada. Dia pun mengambil ponsel untuk berjaga-jaga. 


"Kita akan menuju ke tempat di mana seharusnya Anda berada, Nona." 

__ADS_1


"Ma-maksud kamu apa, Jen? Jangan membuatku takut." Gisela terus memegang perutnya kuat karena khawatir Jeni akan melakukan hal yang tidak diinginkan. 


"Nona, Anda sudah membuat Jane terluka. Jadi, sekarang waktunya saya membalas semuanya!"  


__ADS_2