Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 58


__ADS_3

"Aku tidak menyangka, ternyata sesakit ini dikhianati. Mungkinkah ini karma yang harus aku terima setelah menyakitimu. Aku tidak pernah mencintaimu, tetapi kenapa kini aku merasa menyesal telah membiarkanmu pergi dari hidupku. Bolehkah aku berandai-andai yang mungkin suatu saat akan menjadi kenyataan." 


***


Abram memijat pelipis saat merasakan pusing setelah mabuk semalam. Hatinya terasa begitu kacau. Ada kegelisahan yang ia rasakan tiap kali bayangan Gisela datang menghantui. Ia sudah berusaha untuk mengusirnya, tetapi seolah mengajak bercanda dengan tidak mau pergi. 


Beberapa kali Abram mencoba untuk menemui Gisela, sekadar mengetahui kabar wanita itu. Namun, semua sangat susah. Semua tentang Gisela seolah ditutup rapat darinya. 


Perhatian Abram saat ini teralihkan saat ia melihat sebuah pesan masuk. Tangannya mencengkeram benda pipih tersebut dengan kuat ketika membaca isi pesan tadi. Di mana ia melihat Gisela sedang berjalan bersama Dirga. Ia menggeram marah. Merasa kesal dan mungkin saja cemburu. 


"Aku tidak menyangka kamu akan dekat dengan lelaki ini lagi," gumam Abram. 


Namun, Abram terdiam sesaat ketika ia mengamati foto tersebut. Merasa ada yang aneh dengan perut wanita itu. Terlihat lebih buncit dari seharusnya. Jantung Abram pun berdetak kencang saat matanya makin mengamati gambar itu di dengan cermat. 

__ADS_1


"Kenapa Gisel terlihat seperti wanita yang sedang hamil." Abram terus saja mengamati dengan sangat penasaran. 


Setelahnya, ia pun menghubungi anak buahnya untuk mencari informasi sedetail mungkin tentang Gisela dan Dirga. Tidak mau ada info sekecil apa pun yang terlewatkan. Bahkan, saking tidak sabarnya, Abram meminta anak buahnya untuk memberikan informasi tidak lebih dari satu hari, kalau tidak bisa maka ia akan memecat mereka saat itu juga. 


Des*han napas kasar Abram terdengar memecah keheningan di kamar tersebut. "Kalau memang dia sedang hamil, anak siapa yang sedang dikandungnya? Mungkinkah itu anak si dokter sialan?" 


Pikiran Abram kalut hingga membuatnya terus saja merasa gelisah.


***


"Ti-tidak, Tuan. Nona Gisela dan Tuan Dirga memang sudah menikah secara siri." Lelaki bertubuh tegap itu belum berani mengangkat kepala. Masih bergidik ketika melihat sorot mata Abram yang seolah hendak mengulitinya. 


"Aargghh!! Sialan!" Abram membanting vas bunga hingga hancur berantakan. 

__ADS_1


Ia tidak terima ini. Hatinya diselimuti amarah karena tidak rela Gisela menemukan pengganti dirinya. 


Dengan sangat kasar Abram mengacak-acak rambutnya. Seperti orang frustrasi. Sementara anak buahnya hanya diam dan menatap heran. Baru kali ini melihat atasannya sefrustrasi itu hanya karena seorang wanita padahal ketika dengan Stevani, lelaki itu tidak pernah sampai seperti ini. 


"Sekarang aku beri kalian tugas untuk mencari informasi tentang dokter sialan itu. Cari apa pun kelemahannya yang bisa membuat Gisela membencinya." 


"Tapi, Tuan ...." 


"Aku memberi kamu perintah bukan untuk dibantah!" bentak Abram. Menyela ucapan anak buahnya.


Lelaki bertubuh tegap itu pun hanya mengangguk mengiyakan lalu berpamitan pergi. Melihat Abram yang seemosional itu, membuatnya memilih untuk menghindar daripada nantinya dijadikan samsak amarah. 


Selepas kepergian sang anak buah, Abram terlihat mendes*hkan napas ke udara secara kasar berkali-kali. Sekadar mengurangi amarah yang masih memenuhi hatinya. Tangan lelaki itu terkepal erat hingga buku-buku kukunya memutih tatkala teringat jika Gisela sudah menikah dengan Dirga. Meskipun hanya sebatas pernikahan siri. 

__ADS_1


"Lihat saja. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia. Aku tidak rela kamu dengan lelaki mana pun, Gis!" 


Abram memilih berlalu ke kamar untuk mengguyur tubuhnya di bawah shower untuk menenangkan hati dan pikirannya. 


__ADS_2