Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 56


__ADS_3

"Kamu mau ke mana, Gis?" tanya Vera ketika melihat putrinya sudah sangat rapi dan berdandan cantik. 


"Gisela mau jalan-jalan, Ma. Jenuh di rumah terus," keluh Gisela. Ingin sekali ia pergi dengan Dirga, tetapi lelaki itu sangat sibuk dan jarang sekali ada waktu dengannya. 


"Pergilah dengan Jeni. Mama tidak mau kamu pergi sendirian." Vera memberi perintah. Gisela pun hanya menurut dan langsung berpamitan pergi. 


Sebenarnya, Gisela sengaja pergi karena ia memiliki sebuah rencana. Ia mengajak Jeni ke sebuah restoran dan memesan private room yang terletak di lantai atas. Jeni pun hanya menurut tanpa sekalipun menaruh curiga. 


Jeni merasa sangat canggung ketika Gisela menyuruhnya duduk tepat di depan wanita itu. Entah mengapa, Jeni merasa tatapan Gisela sangat lain untuknya. Membuat rasa khawatir dirasakan oleh wanita itu. 


"Makan saja, Jen. Jangan canggung gitu. Anggap saja kita ini teman. Bukan majikan dan bawahan," kata Gisela disertai senyuman simpul. Jeni pun hanya mengangguk mengiyakan sembari tersenyum canggung. 


Setelahnya, kedua orang itu terlihat sibuk dengan makanan masing-masing. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Makanan itu sebenarnya sangat enak. Namun, Jeni merasa makanan tersebut sangat hambar ketika menyadari beberapa kali Gisela melirik ke arahnya. 


"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, Jen." Gisela mulai membuka pembicaraan ketika makanan mereka benar-benar telah habis. 

__ADS_1


Jeni tidak berbicara apa pun, hanya menatap Gisela dengan penuh penasaran. Jantung wanita itu pun sudah berdegup kencang. 


"Em, sebenarnya siapa yang menyuruhmu menjadi sopir pribadiku. Papa atau Dirga?" tanya Gisela ragu. Ada maksud tersendiri yang tersirat dalam pertanyaan tersebut. 


"Tuan Dirga yang merekomendasikan saya kepada Tuan Hendarto, Nona." Jeni menjawab gugup. Ia merasa pertanyaan tersebut sangatlah sensitif untuknya. 


"Kamu kenal dengan Dirga?" Gisela bertanya lagi. 


"Iya, Nona. Hanya sebatas kenal." Jeni semakin tampak gugup. Ia khawatir pertanyaan Gisela akan makin jauh dan membuatnya tidak mampu menjawab lagi atau semua rahasia ia dan Dirga yang sudah disimpan rapat akan terbongkar. 


"Kalau untuk itu saya juga kurang tahu, Nona. Ketika saya meminta bantuan Tuan Dirga untuk mencarikan pekerjaan, beliau lalu meminta saya agar menjadi sopir Anda dan mengikuti ke mana pun Anda pergi," sahut Jeni sopan. 


"Apa ketika kamu sedang bersama dengan Dirga, kamu juga memanggilnya Tuan Dirga seperti tadi?" tanya Gisela lagi. Pertanyaan Gisela makin lama seperti sebuah jebakan untuk Jeni. Membuat wanita cantik itu memilih diam daripada harus menjawab pertanyaan sang majikan.


"Kenapa kamu tidak menjawab? Aku curiga kepadamu. Bagaimana kalau aku berhentikan kamu saja. Aku akan mengganti kamu dengan sopir pribadi yang lain," cetus Gisela. 

__ADS_1


Ia terkejut ketika melihat Jeni yang tiba-tiba bersimpuh di depannya. Bahkan wanita itu sudah sangat memohon kepadanya. 


"Jangan pecat saya, Nona. Saya akan bekerja sebaik mungkin. Saya akan berusaha menjaga Anda dengan sangat baik. Jadi, saya mohon. Biarkan saya bekerja menjaga Anda, bahkan tanpa dibayar pun saya akan tetap ikhlas melakukanya," pinta Jeni. 


"Tanpa dibayar? Kamu yakin dengan ucapanmu itu? Bukankah kamu bekerja karena ingin mendapatkan uang?" tanya Gisela makin curiga. 


Wajah Jeni mendadak gugup dan tidak tahu lagi harus menjawab apa. Ia hanya merasa khawatir Gisela akan mengetahui semuanya. Namun, Dewi Fortuna sepertinya sedang berpihak kepada Jeni karena ponsel Gisela tiba-tiba berdering.


Gisela tampak menjawab malas lalu mengajak Jeni untuk segera pulang setelah mematikan panggilan tersebut. Hati Jeni merasa lega apalagi saat Gisela tidak lagi menanyakan hal tadi. 


Selama dalam perjalanan pulang, Gisela pun hanya diam dan membiarkan keheningan tercipta di dalam mobil. Jeni pun ikut diam karena ia khawatir jika membuka mulut sedikit saja maka Gisela akan menghujami dengan banyak pertanyaan. 


Setibanya di rumah, masih tanpa membuka suara Gisela bergegas masuk langsung menuju ke kamar. Ia kesal dan hatinya sangat tidak nyaman. Gisela merasa yakin kalau sebenarnya ada rahasia yang disembunyikan oleh Dirga dan Jeni. 


Lihat saja. Kalau memang benar kalian memiliki sebuah rahasia. Aku yakin suatu saat pasti akan terbongkar. Bukankah sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium juga bau busuknya. 

__ADS_1


__ADS_2