ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Keluarga Hangat Dan Keluarga Gila


__ADS_3

"Oke. Jadi idenya adalah, gue akan minta ayah gue buat nyuruh kaki tangannya nyariin adik lo. Jumlah mereka kan banyak, semoga aja bisa cepat menemukan Hilfa dan anak-anak lainnya!" jelas Intan penuh semangat.


"Lo yakin mau ngelakuin itu?" tanya Ulfa masih tak percaya.


"Gue udah bilang, gue ngerti perasaan lo saat ini! Cuma itu hal terbaik yang dapat gue lakukan."


Intan bisa saja berbohong saat ini. Mereka yang sedang berkumpul, tak ada yang dapat menjamin kata-kata yang keluar dari mulut orang yang sama, yang selalu menghina mereka. Benarkah seseorang dapat berubah hanya dalam waktu sekejap?


Tapi, mau bagaimana lagi. Tak ada salahnya untuk mencoba alternatif lain. Agar peluang untuk menemukan Hilfa semakin besar. Masalah Intan becanda, main-main atau tidak, lebih baik dikesampingkan.


"Oke. Anggap aja kali ini kita semua percaya sama lo!" sambung Naya.


"Oh ayolah! Gue gak peduli kalian mau percaya sama gue atau enggak. Intinya gue mau nolongin. Dan, catat satu hal ini. Hanya orang menyedihkan yang meminta orang lain untuk berada di pihaknya," ketus tak acuh, "dan gue bukan orang menyedihkan. I am a badass Queen."


Mereka berlima menatap Intan. Mencoba menghilangkan rasa heran yang belum juga pergi.


"Hanya itu yang mau gue sampaikan. Gue bakalan bicara sama papa, soal ide brilian itu!" tandas Intan. Ia hendak pergi, tak lupa dengan memeluk Ulfa terlebih dahulu, berusaha memberikan dukungan moril.


Di samping Ulfa, berdiri Renaldi dengan tegap. Gadis itu hendak mengalungkan lengan pada pemuda itu, namun tak jadi. Sesuatu menghentikannya, dari melakukan hal yang menurutnya masih terasa aneh. Mengapa ia seolah memiliki rasa pada Renaldi?


Akhirnya, Intan berjalan menuju mobilnya bak model profesional, tak lupa dengan memakai kacamata hitamnya.


"Aneh deh, dia!" ungkap Iswanti tiba-tiba setelah mobil yang merah itu menjauh.


"Biar aneh, tapi gue malah makin suka!" celetuk Renaldi tak lupa mengutas senyum, matanya mengikuti laju mobil yang makin tak terlihat.


***


Intan baru saja menaiki tangga setelah berhasil membujuk ayahnya tentang idenya tadi, dan disetujui. Tak heran, karena Intan adalah anak kesayangan sang ayah.


Sekarang, pikirannya telah tenang. Ia hanya ingin masuk ke kamarnya dan beristirahat. Namun, Ikbal yang menatapnya nanar membuat langkahnya terhenti.


Intan menyapa dengan ceria, sebaliknya dengan Ikbal yang membalas dingin.


"Kok cemberut?" goda Intan pada pemuda yang paling dekat dengannya itu.

__ADS_1


"Kenapa tadi lo sama anak-anak itu?" tanya Ikbal masih dingin.


"Gue cuma mau bantuin mereka!" jelas Intan baik-baik. Harus berapa kali ia mengatakan hal tersebut?


"Sejak kapan lo peduli sama mereka?" tanyanya lagi dengan cepat.


"Ayolah Bal. Jangan kekanakan!" bantah Intan mulai merasa tak nyaman karena keputusannya dipertanyakan.


"Kekanakan lo bilang? Gue cuma mau jagain lo, supaya gak salah bergaul!"


"Hah? Salah gaul? Gue hanya mau bantu, bukan temenan!" kilah Intan yang sedikit lelah akhirnya kehilangan kesabaran juga. "Gue udah muak dengan tingkah lo yang kayak gini. Selalu mau ngatur hidup orang lain, agad sejalan dengan apa yang lo mau," jelasnya yang mulai jengah dengan sikap Ikbal.


Gadis itu akhirnya meninggalkan saudara kembarnya dengan kesal. Ia bahkan membanting pintu kamarnya dengan keras.


Pemuda itu semakin kesal. Ia bahkan dengan sengaja menjatuhkan sebuah guci mahal yang berada di atas meja kayu sebelahnya.


Ibunya datang setelah mendengar keributan yang timbul dari pecahan guci itu. Melihat salah satu guci kesayangannya pecah, Cantika pun bersikap heboh.


"Aduh. Ini kenapa? Kok bisa pecah? Sayang, awas nanti kena pecahan beling nya!" gerutunya namun diakhiri dengan kalimat kasih sayang seorang ibu pada anaknya.


"Aku yang pecahin!" ujar Ikbal manahan amarah, membuat ibunya tertegun.


"Kenapa kamu pecahin?" tanya Cantika sambil mengusap pipi Ikbal dengan penuh cinta. "Kalau ayah kamu sampai tahu,entah apa yang akan dia lakukan?"


"Apalagi yang bisa pria itu lakukan, kalau enggak mukul, ya cambuk!" tutur Ikbal dengan santai. Seolah itu bukanlah hal besar, karena sudah sering dialaminya.


"Sshhtt.. Mama gak akan biakan itu terjadi kali ini. Mama akan melindungi kamu!" ujar Cantika berusaha menenangkan.


Seorang lelaki paruh baya tiba-tiba muncul di ujung tangga. "Ada apa? Sepertinya tadi ada barang yang pecah?" Tanyanya dengan suara besar nan serak. Matanya menyiratkan menahan amarah.


Suami dari Cantika, serta ayah dari ketiga anaknya. Namanya Andi Wijaya.


"Enggak ada apa-apa. Tadi Intan gak sengaja nyenggol guci, sampai jatuh!" alibi Cantika ironis, karena mengorbankan nama putrinya demi menyelamatkan putranya.


Bukan tanpa alasan. Ia melakukan melakukan hal tersebut karena Andi sangat menyayangi Intan. Tak mungkin jika sampai menghukum atau menyakiti putrinya. Berbeda dengan Ikbal yang tak akur dengan ayahnya, dan seringkali bersitegang.

__ADS_1


Sungguh aneh dengan keluarga ini. Jika dari luar, hanya akan terlihat kebahagiaan karena dicap sebagai keluarga yang sejajar dengan bangsawan. Namun makin ke dalam, akan terlihat sebuah keluarga yang penuh dengan penderitaan di karenakan kebencian. Intan membenci ibunya, sedangkan Ikbal seringkali bersitegang dengan ayahnya. 


**


"Hei. Boleh masuk?" Ikbal membuka pintu kamar Intan dan meminta izin dengan suara lembut.


Intan yang sebelumnya berbaring, otomatis terduduk, lalu mengangguk.


"Gue mau minta maaf."


Tanpa basa-basi pemuda itu langsung terduduk di samping Intan, "dadi gue mecahin guci. Dan, Mama bilang sama papa kalau lo pelakunya, supaya papa gak ngehukum gue!"


Intan termangu dalam sekejap. "Gak aneh kalau mama selalu ngejadiin gue kambing hitam," ujarnya santai, "tapi gue senang bisa bantu lo!" lanjutnya dengan tersenyum sejuk pada kembarannya.


Ikbal membalas senyuman itu hangat, "soal sikap gue. Gue gak tahu apa yang terjadi sama diri gue sendiri."


"Gue tahu. Papa banyak banget nuntut sama lo. Dari kecil, lo selalu dipaksa buat ngelakuin kemauannya, entah lo suka ataupun enggak. Mungkin, sifat egois papa itu sedikitnya membuat sifat lo kayak dia. Jadi suka ngatur orang, semua kemauan harus dituruti," jelas Intan menyadari hal tersebut dari dulu.


"Tapi, gue khawatir Bal! Kalau sifat lo yang seperti itu terus ada, satu-persatu orang yang ada di hidup lo akan pergi meninggalkan, termasuk gue!" ancam Intan membuat Ikbal berpikir tajam.


Akhirnya, Ikbal membulatkan tekad untuk berusaha mengubah sifat buruknya. Mulai saat ini.


"Ayah yang sayang banget sama putrinya, tapi benci putranya. Ibu yang sayang banget sama putranya, tapi benci putrinya. Lo harus inget, di rumah ini, cukup mama dan papa kita yang gila. Kita jangan!" tandas Intan sedikit bergurau.


***


Suasana hangat tercipta di sebuah ruangan yang terang di malam yang gelap. Ada ayah, ibu, dan anak yang sedang menonton acara televisi sembari mengobrol dan bercanda. Kasih sayang terpancar jelas di antara mereka.


"Di kota ini, berita tak pernah diganti. Kalau nggak penculikan, pasti perampokan," ujar sang ibu sedikit kesal sembari mengganti-ganti kanal televisi.


"Ya sudah. Sebaiknya kita do'akan, semoga kota ini segera aman!" ujar suaminya menenangkan.


"Aamiin," pungkas si anak. "Bu, Yah, aku ngantuk. Aku mau ke kamar dulu ya!" lanjutnya sembari mengambil langkah.


"Iswanti. Jangan lupa baca do'a!" tutur sang ayah, Ali. Diangguki oleh putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


Iswanti menjauhi ayah ibunya, hendak menghilangkan penat dengan beristirahat. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang yang sangat nyaman. Tak lupa dengan menunaikan pesan dari ayahnya. Setelah itu, mematikan lampu yang berada di atas nakas.


Dalam kegelapan, ia mencoba untuk tertidur, namun tak bisa. Karena sepasang bola mata yang mulai memperhatikannya, membuatnya sedikit paranoid.


__ADS_2