ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Keambiguan


__ADS_3

Sebelum berangkat ke tempat kerja, Renaldi mengajak dulu Salman ke rumahnya. Karena, ia penasaran dengan apa yang hendak temannya itu bicarakan sejak beberapa hari lalu. Iswanti juga ikut berkunjung, demi mengetahui kejelasan tentang buku misterius itu.


"Ayah lo gak ada di rumah?" tanya Salman setelah duduk beberapa saat di kursi ruang tamu kecil di rumah tersebut.


"Kayaknya lagi keluar, mungkin lagi beli makanan," jawab Renaldi. "Apa yang perlu lo bicarain?"


"Gue perlu bertanya tentang buku ini ke ayah lo," ujar Salman setelah mengeluarkan buku Misteri Kota Hitam dari dalam tasnya. Sudah berhari-hari buku itu menghuni di dalamnya, dan baru kali ini keluar.


"Bukannya itu buku yang udah lo baca berkali-kali, Iswanti? Kenapa nanya ke ayah gue?" tanya Renaldi sedikit terheran. Segera, ia mengambil buku itu ke genggamannya, untuk melihat lebih dekat dan lekat.


Iswanti menganggukan kepala. "Kita baru tahu kalau buku ini milik ayah lo, Rey!"


Renaldi menautkan alis, "iyakah? Okelah, kita tunggu ayah pulang aja. Mungkin sebentar lagi—,"


Renaldi menggantungkan kalimatnya setelah mendengar derit pintu kayu rumahnya yang terbuka. Ia menoleh kesana, dan melihat orang yang sedang ditunggunya dan teman-temannya telah tiba. "Itu ayah!" ujarnya seraya tersenyum kecil.


"Ada tamu ternyata," sapa Agung pada ketiga anak muda itu dengan ramah. Ia memang sosok yang mudah bersahabat pada semua orang.


"Ayah darimana?" tanya Renaldi basa-basi.


"Habis bantu Wina membenarkan genteng rumahnya yang bocor," jawab Agung.


"Oh," Renaldi ber-oh ria seraya menganggukan kepala.


Senyum Agung sedikit memudar saat melihat putranya sedang memegang sebuah buku yang nampak tak asing di matanya. Setelah mengamati sedikit lebih lama, dirinya meyakini jika buku tersebut memanglah miliknya. Karena, tak akan ada lagi seseorang yang memiliki buku itu selain dirinya.


"Kamu dapat buku itu darimana?" tanya Agung sambil merangkul bahu putranya yang sedang duduk di kursi. Seingatnya, ia sudah kehilangan buku itu beberapa puluh tahun yang lalu.


"Buku ini ada di rumah Salman. Tapi dia bilang, ini punya ayah?" Renaldi pun memberikan buku tersebut pada ayahnya.


Agung menganggukan kepala. Ia mengusap buku yang telah lama hilang dari pandangannya itu sedikit serius. Sebelum akhirnya, dirinya melemparkan benda cukup tebal itu ke atas meja di depannya. "Kalian bisa memilikinya!"


Salman mengernyitkan dahinya. "Terima kasih, om. Tapi, kami mau menanyakan sesuatu mengenai buku ini."

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa?" tanya Agung yang kehilangan keramahannya. Nada bicaranya sungguh dingin dan datar sekarang.


"Siapa yang memberikan buku itu ke om?" tanya Iswanti.


Agung enggan menjawab. Ia hanya berdeham beberapa kali, sebagai pengusir rasa gugupnya. Ia merasa tak nyaman dengan pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut gadis muda itu.


"Yah?" Renaldi memegang bahu ayahnya, seraya mendongakkan kepala. Ia menangkap kejanggalan yang timbul dari wajah tegang pria idolanya tersebut.


"Aku tidak tahu," jawab Agung singkat. Nada bicaranya sedikit goyah, menandakan ketidakyakinan di dalam kalimatnya.


"Benarkah om?" tanya Salman yang sama sekali tak mempercayai ayah temannya itu.


"Om pasti tahu sesuatu," tuduh Iswanti.


Tak seperti biasanya, saat ini Renaldi tak membela ayahnya. Karena, ia juga baru pertama kali meragukan ucapan ayahnya tersebut.


"Kami mohon, om! Informasi sekecil apapun yang om berikan, akan sangat membantu kami memecahkan segalanya," pinta Iswanti dengan amat sangat.


"Penculikan di kota Alpenia ini. Kami yakin, buku ini memiliki kaitan erat dengan semua yang terjadi. Karena, buku ini seolah mengimplementasikan hal yang sama persis dengan kejadian sekarang," jelas Iswanti.


"Aku sarankan pada kalian. Berhenti mencampuri kepelikan itu. Kalian akan berada dalam bahaya yang sangat besar, jika terus memaksakan diri," tutur Agung dengan serius.


"Bahaya macam apa, om?" tanya Salman.


Agung tak dapat berkata lebih lanjut. "Aku tak dapat mengatakannya."


"Bahkan demi aku, ayah juga gak dapat mengatakannya?" sela Renaldi yang sekarang berpihak pada teman-temannya.


Agung pun hanya kicep, permintaan putranya kali ini sungguh adalah sebuah hal yang berbahaya. Ia tak ingin mengambil resiko. "Tidak untuk kali ini, Rey!" jawabnya seraya mengambil langkah menuju kamarnya.


Iswanti dan Salman akhirnya kembali merasa hampa. Padahal, mereka mengira, ayahnya Renaldi yang baik hati akan membantu secara sukarela. Namun, sikap pria itu barusan membuat keambiguan yang sangat sulit untuk ditentukan. Apakah ayah Renaldi itu baik? Atau malah sebaliknya?


"Ayah lo pasti tahu sesuatu, Rey!" ujar Salman.

__ADS_1


Renaldi menganggukan kepalanya setuju. "Nanti gue tanyain lagi. Semoga dia mau cerita segalanya. Karena, biasanya dia begitu."


"Semoga beruntung dengan itu," sahut Iswanti. Lalu, tangannya merayap dan mengambil buku misterius tadi yang tergeletak di meja. "Ini boleh buat gue?" tanyanya pada Renaldi meminta ijin. Bagaimana pun, Renaldi adalah anak dari pemilik buku itu, yang mungkin lebih berhak memilikinya.


Namun, Renaldi langsung memberikan buku tersebut pada Iswanti tanpa ada persyaratan apapun. "Ambil aja!" Lagipula, ia bukanlah tipe orang yang senang membaca.


***


Di tempat lain, Ikbal baru saja tiba di rumahnya. Ia disambut dengan pelukan hangat dari ibu beserta saudari kembarnya.


Cantika sangat senang dengan kepulangan putranya itu setelah dua hari dirinya menahan rindu dan rasa khawatir. Sekarang, hatinya terasa lega.


"Gimana teman kamu? Operasinya berjalan lancar?" tanya Cantika.


Ikbal memang memberikan alasan yang tak akan membuat ibunya bertanya-tanya. Ia mengatakan kepergiannya adalah untuk menjenguk temannya yang hendak operasi usus buntu. "Dia baik-baik aja, ma."


Berbeda dengan Intan. Ia hanya tersenyum miring, karena merasa lucu melihat ibunya berhasil dibohongi oleh saudara kembarnya. Dirinya sendiri telah mengetahui rencana Ikbal dengan Annisa yang pergi ke Belisia.


"Ayo, kak! Ada sesuatu yang pengen gue omongin," ajak Intan seraya mengerlingkan mata pada ibunya. Ia masih memiliki rasa marah dan kesal yang bertambah tiap harinya pada wanita itu.


"Tunggu dulu! Kamu sudah makan belum?" Cantika mencegah putranya agar tak beranjak. Sebelum ia mengetahui jika perut putranya dalam keadaan terisi.


Ikbal belum makan, tapi dirinya memang sedang tak ingin. Jadi, ia akan menjawab pertanyaan ibunya itu dengan kebohongan kecil. "Ya! Aku sudah makan."


"Jangan bohong!" cetus Cantika yang sudah mengetahui gelagat putranya ketika berdusta. "Pokoknya kamu harus makan dulu!"


"Tapi ma, aku udah makan!" kekeh Ikbal mempertahankan kebohongannya.


"Mama tahu, kalau kamu sedang berbohong, Ikbal!" tutur Cantika yang masih memaksa. Sekarang, dengan belalakan mata yang seolah marah, tapi nyatanya itu adalah ungkapan rasa sayang.


"Tanyakan kebohongan apa lagi yang anak tak berguna iitu katakan padamu!" Andi yang baru saja datang, tiba-tiba menimbrung dengan ekspresi wajah tak menyenangkan.


Dan disaat itu juga, Ikbal merasakan akan ada lagi sebuah pertengkaran hebat yang terjadi di rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2