
Naya membutuhkan ketenangan. Ia pergi ke danau yang tak jauh berada di belakang kafe. Di sana, dirinya dapat mendapatkan ketenangan dengan menatap air yang yang terhampar luas, tanpa ada yang mengganggunya. Tak peduli jika harus meninggalkan pekerjanya, hatinya terlalu terluka kali ini.
Sambil memandangi air yang berkilauan karena terkena pantulan cahaya matahari, Naya berusaha menghentikan tangis, karena itu bukan kebiasaannya. Ia merasa air mata adalah tanda kelemahan. Oleh sebabnya, ia tak mau membiasakan hal tersebut pada dirinya.
Faisal yang mengikutinya, ikut duduk di rerumputan bersama Naya. "Tadinya gue mau ngajak lo buat nonton konser," ujarnya, mengingat hari ini adalah hari terakhir peringatan ulang tahun kota. Konser tersebut akan di adakan sebuah konser meriah yang di isi oleh band dan musisi ternama.
Naya tak ingin berbicara, terkhusus pada Faisal. Ia pun memilih bungkam.
Dengan ragu, Faisal kembali meminta maaf atas sikap ayahnya yang keterlaluan. Ia sangat merasa bersalah kali ini, harusnya ia tak pernah bercerita tentang sikap ibu Naya kepadanya waktu itu.
"Ini bukan salah lo," balas Naya sambil mengutas senyum pahit. Hingga akhirnya, "lo sering bilang, kalau lo sayang sama gue, apakah itu sungguh-sungguh?" lanjutnya sambil menatap tepat pada retina pemuda itu dalam-dalam.
Faisal menggenggam tangan Naya, "gue cinta sama lo, Nay." Dengan tegas, ia mengungkapkan hal yang sebenarnya telah dikatakannya berulang kali.
"Kalau begitu, lo akan melakukan apapun buat gue, kan?" lanjut Naya setelah menghembuskan napas panjang. Dibalas anggukan oleh pemuda yang masih merasa bersalah itu.
"Gue minta, mulai sekarang, lo menjauh dari gue. Kali ini, benar-benar menjauh," terang Naya mengatakan hal yang sering ia katakan pada waktu lalu.
Namun Faisal tak pernah menjauh, sampai mereka berada di titik sekarang ini, hubungan mereka berangsur membaik.
Faisal yang mendengarnya jelas terkejut dan tak terima, "kenapa?" Melihat mimik wajah sedih gadis di sampingnya, perasaannya mulai tak nyaman.
"Bukan karena gue benci sama lo. Dengan sikap lo yang terus lebih baik, gue mulai suka sama lo, atau setidaknya gak benci kayak dulu." Naya mengambil jeda sambil tersenyum miris. Ia menyadari bahwa hari demi hari, rasa bencinya pada Faisal berubah menjadi sesuatu yang lain.
"Gue juga sayang sama lo," celetuk Naya membuat Fasial terkesiap dan tak percaya.
Pemuda itu tersenyum untuk sekejap sebelum Naya kembali berkata, "makanya lo harus jauhin gue, sebelum perasaan gue berkembang lebih jauh."
__ADS_1
"Tapi--"
"Gue gak bisa kalau direndahkan terus sama ayah lo. Dan yang terpenting, gue gak bisa mengecewakan ibu gue dengan berhubungan sama anak dari orang yang jelas-jelas membuat dia susah." Naya sedikit tersulut emosi, tanpa sadar nada bicaranya meninggi.
Berusaha tegar, dengan susah payah Faisal menelan kata-kata yang terasa pahit itu. Ia mengerti keresahan yang sedang dirasakan Naya. Akhirnya, ia pun berdiri dan berkata, "oke." Singkat, tapi hatinya seperti tertusuk panah. Ini adalah keputusan tersulit, tapi juga terbaik yang dapat diambilnya. Faisal tak dapat melihat gadis yang dicintainnya terus menderita karena ayahnya, jika dirinya memaksakan ego sendiri.
Naya ikut bangkit, dan tiba-tiba memeluk tubuh pemuda yang sedikit mematung didepannya. Hanya itu yang dapat ia lakukan, memberikan pelukan pertama dan mungkin menjadi yang terakhir kali pula.
Tak lama, gadis itu melepaskan dekapannya, dan memalingkan wajah dari Faisal. Ia mengedarkan matanya ke segala arah, agar tak melihat kesedihan dari mata Faisal.
Usai sudah, kisah mereka berakhir bahkan sebelum sempat dimulai.
Setelah Faisal pergi, Naya berteriak kencang untuk membuat hatinya sedikit ringan. Ia tak pernah membayangkan hal ini terjadi ketika dirinya melepaskan pria itu pergi, hatinya terasa sedikit pilu. Ia bahkan tak sadar, jikalau butiran bening baru saja berhasil keluar dari pelupuk mata dan membasahi pipinya.
***
Cantika bahkan memecat tiga dari sepuluh pelayan di rumahnya, untuk menipiskan pengeluaran.
Jadi, Intan benar-benar tak pernah lagi membeli barang-barang mewah yang hanya digunakan untuk menaikkan pamornya saja. Kali ini, ia berusaha membiasakan untuk hidup seadanya. Hanya satu hal yang ia takutkan, pesta ulang tahunnya yang akan tiba tiga minggu lagi, mungkin tak akan semeriah yang ia idamkan.
Sore ini, Intan berkeliling di kebun belakangnya memetik anggur. Walaupun bukan masa panen, mungkin saja ada sebagian yang sudah matang.
Angin sore membelai rambut gadis itu lembut. Di tengah pikiran buruknya mengenai pesta ulang tahun, hatinya merasa tenang karena suasana keluarganya membaik. Meskipun ayah dan saudara kembarnya masih saling diam dan dingin.
"Hai!"
Suara besar itu mengejutkan Intan ketika berjongkok, hendak memetik buah anggur yang baru saja ia temukan.
__ADS_1
Gadis itu menyempurnakan tubuhnya untuk berdiri tegap, dengan wajah kesal karena terkejut, ia menoleh pada sumber suara. "Iya, ada apa?" ujarnya lembut, berusaha bersikap tenang, karena menyadari yang memanggilnya adalah Renaldi. Pemuda yang belakangan ini mampu mencuri perhatiannya.
Renaldi tersenyum mendapatkan reaksi tersebut dari Intan. Akhir-akhir ini, ia pun merasakan perubahan yang terjadi di antara mereka menuju arah yang lebih baik. Setelah dengan susah payah, ia mencoba mencuri perhatian gadis itu selama empat tahun terakhir, kali ini mungkin saatnya mereka menjalin hubungan.
"Gue mau cari ayah, gue kira dia masih berada di perkebunan. Tapi kayaknya semua orang udah pada pulang, ya?!" jelas Renaldi angsung pada inti, sambil mengedarkan mata ke seluruh tanaman anggur yang membenatang luas.
"Ya, seperti yang terlihat. Dan lo tahu kan, jam kerja petani cuma sampai jam satu siang?" Intan menerangkan hal yang sudah diketahui pemuda itu. "Jadi, apakah benar tujuan lo kesini cuma buat ayah cari ayah lo, atau ada maksud lain?"
Renaldi menatap Intan dengan sedikit berbeda dari biasanya. Ia pun merasa tatapan Intan pun berbeda. mata gadis itu terlihat lebih berbinar saat bertemu dengan matanya kali ini. "Ya, cuma itu alasan gue, siapa tahu dia masih disini, kan? Soalnya ini hari ulang tahunnya, dan gue berniat buat ngajak dia jalan atau makan di luar."
Renaldi mengacaukan situasi, ekspresi wajah Intan mulai berubah sedikit merengut dalam sekejap.
Dengan sebal, Intan meninggalkan Renaldi yang tak mengerti bahwa dirinya mengharapkan jawaban yang lain. Padahal, dirinya telah memberi pancingan berupa kode. Tapi, apa yang terjadi, Renaldi yang biasanya selalu menggodanya, kali ini malah bersikap biasa saja.
Intan sungguh merasa aneh. Bahkan, pemuda itu tak mengejar langkahnya dan memilih mematung di belakang. Intan sungguh tak suka dengan keadaan ini, ia ingin cepat-cepat kembali ke rumah.
Renaldi berdecih kesal sambil berjalan keluar, "kebiasaan ayah gini, nih. Kalau udah janjian, pasti suka lupa." Ia pun pergi dari perkebunan itu, setelah melihat Intan yang baru saja membuka pintu utama rumah termegah di kota ini. Kali ini, dirinya tak memberikan atensi pada gadis itu. Karena menurutnya sang ayah lebih menjadi prioritasnya untuk satu hari saja.
"Intan bisa lain kali, hari ini spesial buat ayah," Renaldi bermonolog penuh semangat, mengingat ia akan mentraktir ayahnya dari uang gaji yang baru kemarin ia dapatkan. Sekarang, ia akan kembali mencari ayahnya, yang mungkin saja telah pulang ke rumah.
Intan membanting pintu rumahnya kesal, "bego!"
Namun, rasa kesal Intan berubah ketika mendapatkan suatu pemandangan sangat. Ia melihat orang yang dicari Renaldi baru saja keluar dari ruangan kerja ayahnya sambil mengaitkan dua kancing teratas kemejanya yang terbuka.
Mata Intan terus mengikuti langkah pria paruh baya itu yang sepertinya akan keluar melewati pintu samping rumah. Hendak mengekori langkah pria tersebut, tapi deritan pintu yang terbuka membuat niat Intan terurungkan, saat dirinya melihat sang ibu keluar dari ruangan yang sama, sambil membenarkan ikatan rambut. Ini semakin mengherankan.
Hal aneh apa yang dilakukan ibunya dan ayah Renaldi di ruangan sana?
__ADS_1