ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Jalan Kaki Itu Menyehatkan


__ADS_3

Annisa dan Ikbal sudah resmi berbaikan. Berlandaskan karena sama-sama ingin berubah menjadi lebih baik.


Mereka pun memasuki ruangan beriringan, menyebabkan sedikit keanehan di pikiran orang-orang yang melihat.


Annisa kembali menyempurnakan duduk di kursi, setelah wajahnya benar-benar terlihat seperti biasa. Tak merah lagi, dan matanya pun tak sembab lagi. Sehingga teman-temannya tak mengetahui bahwa ia habis menangis.


"Jadi, gimana?" tanya Intan meminta pendapat, ambigu bagi Annisa dan Ikbal yang tak tahu apa-apa, karena tak ikut berembuk.


"Gimana apanya, nih?" tanya Annisa.


"Kita akan pergi ke hutan. Mencari tahu apakah benar anak-anak itu ada di sana. Karena, kita gak bisa kalau hanya terus menunggu dan berdiam diri," jelas Intan.


"Oke. Gue setuju," sahut Annisa tak keberatan. Suasana hatinya kini sudah lebih baik. Jadi, sikapnya dapat lebih terkendali.


"Gue telepon Faisal dulu ya!" ungkap Ikbal tiba-tiba membuat Naya berjengit.


"Buat?" tanya Naya heran.


"Kita mau ke markas penculik, bukan mau ke wahana istana balon. Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk bantuan sebanyak mungki. Bisa saja kita menemukan penculiknya, kalau perkataan Salman gak main-main, dan kita perlu melawan. Kalau ada banyak laki-laki, pastinya akan lebih mudah buat membela diri atau bahkan mengalahkan mereka. Lo ngerti kan, gembel?" jelas Intan masuk akal.


Tak butuh waktu lama, Faisal yang telah dihubungi, langsung tiba dengan ekspresi cengengesan saat melihat Naya. Pergelangan tangan kanannya terbalut oleh perban, untuk menutupi lukanya kemarin malam.


"Hai semua!" sapanya hangat namun dengan senyum jahil.


Semua orang membalas sambil menatapnya aneh. "Si Faisal gila! Tangan lagi sakit, kok malah senyum-senyum."


"Hai Nay!" ujar Faisal mengkhususkan sapaan pada gadis yang disukainya.


Dibalas oleh Naya menggunakan senyuman getir.


"Oke. Semua pasukan sudah terkumpul. Ayo cabut!" ajak Intan mengomandoi. "Tunggu, Kalian kesana naik apaan?"


"Maksud?" tanya Naya heran.


"Kan gue naik motor sama Ikbal, kalian mau jalan kaki?" terang Intan sambil berdecih meremehkan.


"Plis deh Intan. Jarak ke hutan dari sini gak jauh, mungkin cuma 500 meter. Kenapa kita semua gak jalan kaki aja?" ujar Naya sebal.


"Hah? Lo nyuruh gue buat menggunakan kaki indah ini jalan ke hutan? Hell no! Gue gak biasa jalan kaki, suka pegal-pegal," tutur Intan rewel, sambil menggerakan kdeua kakinya yang mulus.

__ADS_1


"Benar kata Naya, mending kita jalan kaki aja, gak jauh kok!" sahut Ikbal menjelaskan hati-hati, mencoba membuat saudarinya mengerti.


Karena suara terbanyak mendukung Naya, akhirnya Intan pun menyerah, tapi bukan berarti mengalah. Dia masih meracau tak jelas.


"Kaki lo suka pegal-pegal? Makanya, biasakan pake jalan, jangan dianggurin!" ketus Naya membisikkan kata-kata itu ketika melewati Intan.


Intan membalas dengan sebuah kerlingan mata.


Akhirnya, semua orang bersiap untuk memulai perjalanan. Petualangan untuk mencari kebenaran. Dengan harapan, akan ada sebuah kepingan petunjuk yang membawa mereka lebih dekat dengan tujuan.


Menyusuri trotoar di tengah teriknya matahari membuat Intan makin mendumel, "lanas banget. Gue lupa gak bawa payung," ujarnya sambil berjalan paling depan.


Semua orang tak aneh dengan sikap Intan yang seperti itu, hingga mereka memutuskan untuk mengabaikannya.


"Kalian gak malu dilihatin sama orang-orang yang naik motor mobil?" tanya Intan tak henti-henti berteriak. Tak menyadari jika teriakannya itu yang menyebabkan mereka menjadi pusat perhatian kendaraan yang berlalu lalang.


"Jangan bawel kalau gak mau dilihatin orang!" ketus Naya dari arah belakang, sedikit jauh dengan Intan.


Intan makin berjengit. Kakinya sudah merasa pegal, membuat langkahnya sedikit tak terkendali, dan hampir saja terhuyung.


Tetapi, Renaldi yang berada tepat di belakangnya segera meraih tangan gadis itu. Namun, niat baiknya membuat Intan sedikit sebal. Bukan apa-apa, kalau sedang dalam keadaan kesal begini, Intan sering merasa risih jikalau berinteraksi dengan orang lain.


"Jangan pegang-pegang!" tolaknya dengan segera.


"Jangan bantu!"


Intan dengan segera kembali memimpin, tak menghiraukan pemuda yang mengkhawatirkannya. Sedangkan Renaldi kembali berjalan berdampingan dengan Ulfa.


**


Iswanti yang berjalan di tengah-tengah berdekatan dengan Salman, memulai perbincangan, "lo gak main-main kan, sama ucapan lo?"


"Gue berani sumpah. Gue masih ingat banget sama sensasinya. Kepala gue sakit banget, melebihi migrain!" ujar Salman meyakinkan.


Rasa percaya Iswanti akan pemuda itu kian membesar. Jangan-jangan, ini saatnya membuktikan kebenaran tentang buku-buku yang ia baca tentang salah satu misteri dan mitos kota ini.


**


"Nay," bisik Faisal pelan di telinga Naya, berusaha menggoda.

__ADS_1


"Ih.. Gak usah bisik-bisik di telinga gitu!" reaksi Naya sedikit merasa kegelian, ketika ada udara hangat yang menyentuh telinganya, membuatnya sedikit kesal.


"Oke," Faisal berpindah posisi dari di belakang Naya, menjadi di sebelahnya. "Apa kabar?"  ia berasa-basi.


"Lo lihat sendiri kan, gue baik," jawab Naya sedikit tak antusias, "tapi kelihatannya, lo lagi gak baik-baik aja, ya?"


"Iya nih," Faisal memajukan bibir, sambil mengangkat sedikit tangan kanannya.


"Oh."


"Oh doang? Gak ditanya kenapa, gitu?"


"Oh iya. Kenapa?" ralat Naya berusaha memunculkan minat untuk berbincang dengan Faisal.


"Kemarin pas lo masuk rumah, gue belum jauh tuh dari rumah lo. Terus gue lihat pencuri itu. Setidaknya, seseorang yang tampilannya mirip sama pencuri itu," ungkap Faisal sedikit mendramatisir.


"Terus?" Naya berpura-pura tertarik. Ia sedikit tak mempercayai pemuda itu, karena belum mengenal terlalu dekat. Jadi, ia tak mengetahui sifat asli Faisal. Yang ia tahu, pemuda itu adalah orang yang sama yang selalu mengejar dan mengganggunya.


"Dia nabrak gue. Alhasil, gue jatuh ke aspal, tangan gue berdarah, dan bokong gue sakit," lanjut Faisal sambil mengusap pantatnya sendiri.


Naya hanya tertawa mendengar penjelasan Faisal yang ekspresif.


"Kok malah ketawa? Eh, gue mau tanya, kemarin gak ada yang kemalingan lagi kan, deket rumah lo gitu?" cerca Faisal.


"Nggak tuh," sahut Naya berusaha mengehentikan tawa.


"Oh syukurlah. Soalnya, gue lihat, secara gak jelas sih, dia kayak masuk ke salah satu rumah atau gang dekat rumah lo," tukas Faisal merasa lega.


"Tunggu. Cerita lo ini beneran?" tanya Naya untuk menghilangkan keraguan, rupanya masih tak menganggap orang di sebelahnya itu serius.


"Iyalah. Lo kira gue bohong?" jawab Faisal sedikit kesal.


"Siapa yang tahu, kan? Tapi, kalau cerita lo benar, kemarin malam atau tadi pagi, gak ada kok cerita heboh tentang yang kerampokan di lingkungan gue," tandas Naya masih setengah hati memercayai Faisal.


**


Annisa dan Ikbal berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun di jajaran paling belakang. Mereka hanya mengikuti langkah kaki membawa.


Dan tiba-tiba, kaki Annisa sedikit tercengklak karena tak sengaja menginjak sebuah lubang di trotoar. Dirinya bahkan sempat mengerang kesakitan dengan suara tertahan.

__ADS_1


Otomatis, Ikbal membantu gadis itu dengan wiweka. Ia mengalungkan tangan Annisa di pundak, memapah nya perlahan-lahan.


"Oke semuanya, kita sudah sampai. Sekarang, siapa yang mau menggantikan gue mimpin di depan ketika masuk hutan? Soalnya, gue sedikit takut," ujar Intan tak seperti biasanya. Baru kali ini, ia berani mengungkapkan kelemahannya. Karena biasanya, dirinya selalu meninggi dan membanggakan diri.


__ADS_2