ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Keganjilan Ulfa


__ADS_3

Ketiga orang itu masih berkonsentrasi, Renaldi dan Naya pada buku mereka masing-masing, Faisal pada ponselnya. Meski Faisal beberapa kali berjibaku mengontrol matanya untuk tak menatap Naya terlalu sering.


Tiba-tiba, Renaldi meminta izin untuk meninggalkan kegiatan belajar bersama itu, karena harus pergi bekerja. Maklum, meskipun di akhir pekan, ia harus tetap mengantarkan pizza, lumayan untuk menambah jam lembur. Uangnya dapat digunakan untuk tambahan memenuhi kebutuhan supaya tak menyusahkan sang ayah. Apalagi, kemarin ia telah meminta izin tak masuk kerja saat membantu Ulfa menyebarkan selebaran dan tak mengambil lembur, maka hari ini dirinya harus benar-benar semangat.


Naya dan Faisal mengiyakan dan akhirnya yang tersisa hanya mereka berdua. Membuat keadaan tak nyaman, bagi Naya tentunya. Sedangkan Faisal, keambiguan pikiran dan sikapnya sangat ditakutkan oleh gadis itu.


"Kita keluar!" Ketus Naya. Sangat tak sopan jika harus mengusir pemuda itu secara gamblang.


"Takut ada setan, ya?" sahut Faisal bercanda. Membuat Naya memutar bola matanya malas, dan mengambil langkah keluar rumahnya terlebih dahulu.


Faisal membuntuti, ikut duduk bersama Naya di sebuah bangku kayu yang tertanam di halaman sempit depan rumah sederhana itu.


Tak berselang lama, Wina pulang setelah menyelesaikan jam kerjanya di perkebunan anggur. Dengan perasaan letih, ia dibuat semakin kesal karena disambut dengan pemandangan tak sedap. Ia melihat putrinya terduduk bersama anak dari orang yang menyusahkannya selama tujuh terakhir.


"Siang tante," sapa Faisal ramah. Namun dibalas dingin oleh Wina yang langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.


Naya merasa tak enak hati, namun ia harus melakukan dan mengatakan hal ini, "lo harus pulang sekarang!" usirnya pada pemuda yang bingung akan reaksi ibu Naya barusan.


"Kenapa?"


"Udah. Lo pulang aja!" Tandas Naya dan meninggalkan Faisal, langsung masuk ke dalam rumah, mengekor jejak sang ibu.


Dengan perasaan dan pikiran yang terus bergumul, Faisal akhirnya mengerti. Pantas saja ibu Naya bersikap seperti tak menyukainya, karena ia memang layak diperlakukan seperti itu. Itu karena ayahnya yang telah menyusahkan keluarga Naya dengan bunga utang yang terus menggunung.


Akhirnya, Faisal pun segera pulang dan meninggalkan rumah itu dengan perasaan bersalah atas tindakan ayahnya.


***

__ADS_1


Naya menghadap ibunya, dan wanita itu terlihat gusar. Alasannya sudah pasti, Wina tak menyukai putrinya bergaul dengan anak lintah darat itu.


Naya pun bingung harus bagaimana. Dirinya memang bersalah. Sudah beberapa kali ibunya mengingatkannya untuk tak berteman atau bahkan bertemu dengan Faisal. Tapi dirinya yang bandel.


Akhirnya, Naya terdiam hingga ibunya meninggalkannya ke kamar mandi dengan diam dan wajah datar.


Level tertinggi kemarahan Wina adalah dengan tak mengucapkan sepatah katapun. Kemarahan terlihat di matanya. Berbeda dengan tatapan biasanya yang lembut penuh kasih.


Naya menyesal. Tapi juga bimbang, bagaimana ia dapat menghindari Faisal, jikalau faktanya pemuda itu sekarang telah sedikit berubah, bahkan bersedia membantu Ulfa. Pastinya mereka berdua akan tetap bertemu.


***


Faisal merebahkan tubuhnya di sofa empuk ketika sampai di rumahnya yang megah. Hermawan sang ayah, menyapanya hangat. Namun, dibalas dingin olehnya.


"Ada masalah apa? Kusut gitu muka," ujar Hermawan langsung duduk berhadapan dengan putra semata wayangnya itu.


"Ayah masalahnya," balas Faisal lemas, membuat ayahnya mengernyit. "Ibunya Naya benci aku gara-gara punya utang sama ayah!" lanjutnya dengan berani.


Beruntung, Faisal memiliki ayah yang menyayanginya, walaupun cap lintah darat pada ayahnya seringkali membuatnya risih. Tak terhitung lagi berapa kali ia meminta ayahnya untuk berhenti dari pekerjaan haramnya. Namun, ayahnya itu berhati sekeras batu.


Hermawan mencerna kata-kata Faisal, dan langsung merasa geram. Berani sekali orang yang meminjam uangnya menolak putra yang sangat disayanginya itu, "kamu masih suka sama anaknya Wina? Gak ada gadis lain apa?"


Faisal menggelengkan kepalanya. Dirinya memang sangat menyukai Naya dari dulu. Dan hingga sekarang, rasa tersebut malah makin bertambah setiap harinya.


"Kamu tenang aja, nanti ayah akan ancam ibunya Naya biar menerima kamu."


"Kalau ayah sampai melakukan itu, aku lebih baik pergi dari sini," kecam Faisal dan langsung meninggalkan ayahnya, menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Ungkapan anaknya itu tentu membuat Hermawan tak akan melancarkan niatnya barusan. Ancaman Faisal biasanya tak main-main. Karena Faisal adalah jenis orang yang memegang kata-katanya sendiri.


***


Hari telah berganti malam, gelap gulita telah menutupi seluruh kota. Di tengah malam, Ulfa terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya terasa sangat kering.


Ia hendak mengambil segelas air, namun sedikit teralihkan saat mendapati ponselnya berbunyi. Ada notifikasi pesan WhatsApp dari Annisa bertuliskan ucapan selamat ulang tahun yang ketujuh belas untuknya.


Pesan itu membuat gadis tambun itu terkejut, karena dirinya sendiri bahkan terlupa jika jam 00:00 ini adalah tepat hari ulang tahunnya. Mungkin pikirannya yang sedang kacau-balau karena selalu memikirkan adiknya yang hilang, membuatnya melupakan hal ini.


Ia membalas pesan itu dengan ucapan terima kasih. Dengan mengingat bahwa seharusnya dirinya tak terlarut dalam kegundahan hati yang terlalu dalam, karena ia masih memiliki teman sebaik Annisa. Tak dipungkiri, Annisa adalah teman terbaiknya dari sekian teman-temannya yang dapat terhitung oleh jemari.


Setelah itu, Ulfa melanjutkan niat awalnya terbangun dari lelap, yaitu demi segelas air putih dingin. Ia pun bergegas menuju dapur. Lalu, membuka lemari es dan mengambil air dari Tupperware dan menuangkannya ke dalam gelas kaca.


Tegukan panjang ia ambil untuk memuaskan dahaga. Dan tiba-tiba Ulfa terhenyak, ketika mendengar sebuah gelas yang pecah karena terbentur ubin dapurnya menimbulkan dengung di telinga.


Anehnya, ia tak melihat siapapun di ruangan ini, hanya ada dirinya seorang diri. Siapa yang menjatuhkan gelas kaca yang sudah berubah menjadi pecahan beling itu?


Tak diabaikan, jelas bulu kuduknya mulai berdiri. Tak mungkin angin dapat menjatuhkan gelas, dan bahkan faktanya, malam ini tak terlalu berangin. Tengah malam seperti ini membuat keadaan kian sunyi, ditambah pikirannya yang mengingat kejadian-kejadian aneh yang pernah dialaminya beberapa hari terakhir.


Tak mau berlama-lama, dengan cekatan ia memasukkan Tupperware yang diambilnya tadi ke tempat asal, setelah mengisi kembali gelas yang masih dipegangnya, hendak dibawa ke kamar tidur. Siapa tahu dirinya merasa haus lagi.


Namun kakinya tak dapat bergerak, seakan ada rantai yang menahannya, hingga memaku, mengeras dan membeku.


Suara-suara aneh dan tak jelas kini membuat telinga Ulfa pengang. Seperti suara auman, jeritan, tangis dan tawa berbaur menjadi satu membuat tubuhnya bergetar hebat. Air mata dengan sendirinya perlahan mengucur membasahi pipi. Sudah beberapa kali Ulfa berteriak sangat kencang, namun ia tak mendapat respons dari ayah maupun ibunya. Seperti tak ada telinga yang mendengarnya.


Tak hanya itu, bayang-bayang sekelebat yang melayang di bagian atap dapur membuatnya makin tak berdaya. Bayangan yang tak berobjek. Hal aneh apa lagi ini? Pikirnya.

__ADS_1


Hari ulang tahun harusnya menjadi hari yang menyenangkan dan berkesan. Jangan salah, kali ini juga berkesan, namun kesan menyeramkan yang Ulfa rasakan.


Bukan sweet seventeenth, namun creepy seventeenth!


__ADS_2