ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Kesedihan Annisa


__ADS_3

Annisa segera memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa. Akan terasa sangat sesak jika terus berdekatan dengan pria yang dulu ia anggap sebagai cinta pertamanya itu.


Aji mengekor, "kamu kenapa, sayang?" sapanya lembut di ambang pintu pada Annisa. Padahal, putrinya itu telah menutup pintu rapat-rapat, namun ia masih menerobos masuk.


"Ma. Tolong bilang pada laki-laki itu, gak usah masuk kamar aku!" pinta Annisa dengan tegas pada Silvia yang berdiri di belakang suaminya.


Seolah tak mendengar, pria berbadan gagah itu nekat melaju masuk dan duduk bersebelahan dengan putrinya, "sayang--," ia mengelus kepala itu penuh kasih.


Namun dengan segera, Annisa menepis telapak tangan yang menyentuh kepalanya itu, dan mulai kehabisan kesabaran, "ngapain papa di sini? Harusnya kan di penjara!" Teriaknya penuh emosi dengan mata yang sudah tak kuasa lagi menahan hujannya.


Jelas Aji tak mengerti, harusnya putrinya ini senang karena dirinya sudah bebas dan pulang ke keluarganya.


"Aku lupa, jaman sekarang apa sih yang gak bisa dibeli pakai uang?" lanjut Annisa dengan tawa getirnya.


Melihat putrinya sedang tak stabil, Aji pun memilih untuk memberikan waktu. Kedatangannya mungkin terlalu tiba-tiba sehingga membuat Annisa tercengang. Lagipula, dirinya mempunyai hal lebih penting yang menjadi pertanyaan di benaknya, sehingga harus diluruskan.


Ia pun bangkit dari ranjang empuk itu, dan membawa pula istrinya yang menunggu di depan pintu kamar putri mereka. Ada hal yang harus mereka berdua bicarakan di dalam ruangan tertutup.


Kedua orang itu melangkah ke dalam kamar yang biasa digunakan Silvia. Setelah keadaan dirasa aman dan tak ada mata atau telinga yang memperhatikan, Aji menatap tajam istrinya, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ia adalah tipe pria yang selalu berprasangka buruk. Kali ini contohnya, dirinya mencurigai bahwa istrinya sendiri telah mendoktrin pikiran putri semata wayang mereka agar membencinya.


Dengan tatapan sangarnya, Aji mulai mendikte Silvia dengan cercaan pertanyaan dan tuduhan tak berdasar, membuat istrinya tak berdaya.

__ADS_1


Silvia telah berkata sejujurnya, bahwa dirinya tak ada sangkut-pautnya dengan perubahan sikap Annisa yang menjadi ketus pada Aji.


"Jangan bohong, apa saja yang kamu katakan pada dia tentang aku?" Dengan nada pelan namun penuh emosi, Aji mencengkeram pipi istrinya dengan tangan kananannya kuat-kuat.


Silvia meringis kesakitan, rahangnya terasa akan patah karena perlakuan menyakitkan lelaki yang sudah dinikahinya selama dua puluh tahun itu. Tahun-tahun tersebut menjadi yang terburuk selama kehidupannya di dunia ini. Suaminya kerap bermain fisik, terutama melayangkan tangan ketika dirinya menentang, atau tak sependapat.


Ingin sekali rasanya Silvia meninggalkan suaminya, dan hidup damai. Namun alasannya tetap bertahan adalah Annisa, sang putri yang sangat menyayangi ayahnya. Akan tetapi, dengan sikap putrinya tadi, sekarang ia memiliki secercah harapan untuk menghirup udara kebebasan dari kungkungan suami jahatnya itu.


***


Keadaan memaksa Annisa untuk tak berlama-lama di rumah, karena malas melihat wajah ayahnya sendiri. Ia belum dapat menerima kehadiran orang yang sekarang telah menjadi daftar hitam di hatinya tersebut.


Naya menyambut Annisa di depan pintu dengan ekspresi datar, "gue baru lihat berita, dengan judul yang menarik sekali. 'Aji Surya Atmaja, terbebas dari tuntutan, karena terbukti tak melakukan korupsi'," ujarnya diakhiri tawa getir.


Lidah Annisa terasa kelu, bibirnya kini seakan terekat dengan sendirinya, tak mau terbuka. Apa yang telah direncanakan dalam pikirannya, mengenai kata-kata yang akan diungkapkannya pada Naya, kini telah menguap ke udara, menghilang dari kepala.


"Masuk," lanjut Naya, tak kunjung menghilangkan wajah datarnya.


Annisa pun mengekor. Dalam hati, ia merapal serius untaian kata yang siap dilontarkan sebagai permintaan maaf. Meskipun dirinya tak bersalah, tapi tetap saja hatinya merasa perlu.


"Enak banget ya jadi orang kaya," Naya tersenyum miring. "Keluar uang, bisa keluar dari penjara. Sini duduk!" Ajak Naya pada Annisa yang masih mematung, memintanya untuk ikut serta terduduk di karpet bututnya itu.

__ADS_1


"Oh lupa. Ini pertama kali lo ke rumah gue. Sorry, disini gak ada sofa empuk kayak di rumah atau apartmen mewah lo. Gak apa-apa kalau lo gak mau duduk di sini, berdiri aja," sindir Naya membuat Annisa menelan ludah. Sepertinya Naya sedang marah.


Mencoba mematahkan pendapat Naya tentang dirinya, Annisa dengan cekatan terduduk di sampingnya, "gue minta maaf," ungkapnya pelan.


"Hah? Kenapa lo yang minta maaf, bukan lo juga kan yang mengeluarkan ayah lo dari penjara?" Naya masih berpura-pura ramah. Hatinya sebenarnya sudah kepalang sakit, mencoba untuk tak marah pada Annisa. Namun, egonya hanya memikirkan tentang siapa yang sedang duduk di sampingnya itu, adalah anak dari orang yang sangat dibencinya.


Naya melihat temannya itu menahan tangis, tetapi dirinya malah memperburuk suasana karena mengatakan hal yang makin membuat gadis itu terpuruk. "Gak usah pura-pura sedih, deh. Mulai sekarang, lo bisa jadi anak manja ayah lagi. Kalau ada yang ganggu, tinggal ngadu aja, kan? Gampang dan enak banget jadi lo!" ketusnya membuat butiran air terjatuh di pipi Annisa.


"Nay. Terserah lo percaya atau enggak, tapi perasaan lo dengan perasaan gue sama sekarang. Marah, kecewa, karena ayah gue bebas dari hukuman yang pantas dia dapatkan. Lo marah dan kecewa karena mengetahui kalau ayah lo gak pernah mendapat keadilan. Sedangkan gue mengetahui kalau ayah gue gak akan pernah belajar dari kesalahan, dan tak akan pernah menyesal, sehingga memungkinkan dia untuk melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi." Dengan segenap hatinya, Annisa mencoba membuat Naya mengerti.


Bukan Naya jikalau tak tegas. Keras hati membuatnya buta akan ketulusan gadis yang sedang sama bersedih sepertinya itu.


"Maaf. Tapi, kita emang gak akan pernah menjadi teman baik." Tandas Naya sambil bangkit, dan membukakan pintu depan rumahnya. Dengan terang-terangan ia meminta Annisa angkat kaki dari rumah reotnya. Tak ingin lepas kendali, tak tahu apa yang akan dilakukannya ketika membiarkan kemarahan terus menanjak hingga memuncak ke kepalanya yang sudah terlanjur panas.


Dengan berat hati dan mata yang terus berair, Annisa pun pergi dari rumah Naya. Usahanya selama ini untuk berteman dan menjadi lebih baik dirasa telah gagal seketika.


Langkah kaki membawanya ke taman kota, karena tak ingin langsung pulang ke rumah. Sebenarnya, ia ingin pergi ke rumah Ulfa atau Iswanti, tetapi setelah dipikir dua kali, dirinya hanya akan menyusahkan dan menambah beban mereka yang tak sedikit pula. Ulfa dengan masalah adiknya, sedangkan Iswanti tadi sempat mengeluh tak enak badan ketika hendak pulang dari pesta ulang tahun Ulfa.


Dirinya berusaha menenangkan diri dengan menatap sejuknya pemandangan dari bunga dan pepohonan indah nan beragam yang ada disana. Ditambah lagi, kali ini taman tak terlalu ramai pengunjung, membuat pikiran dan telinganya dingin, karena tak terganggu keramaian.


Sedang asyik melamun, suara bulat seorang pemuda dari belakang bangku yang sedang ia duduki membuatnya sedikit terkejut. Ikbal?

__ADS_1


__ADS_2