
Tubuh gadis itu masih mematung, hanya pikirannya saja yang bergerak, mencoba menemukan cara untuk melewati kejadian ganjil ini.
Ulfa menatap sekeliling, bayang-bayang menyeramkan itu masih menggerayanginya. Dan, tiba-tiba suara tak jelas yang sudah bergumul di kepalanya tadi, kini mulai beradaptasi di telinganya. Ternyata terdapat perkataan seseorang yang memangil-manggil namanya.
"Ulfa, kau adalah keturunan kami. Mulai sekarang, kau telah resmi menjadi bagian dari kami."
Sontak kata-kata dengan suara parau itu membuat Ulfa makin takut. Beberapa kali ia meyakinkan diri bahwa semua yang dialaminya ini hanyalah mimpi.
Siapa yang berkata seperti demikian? Tak mungkin hal itu adalah sebuah kejahilan untuk orang yang berulang tahun, kan? Siapa yang akan melakukannya di tengah malam begini?
Tanpa Ulfa ketahui, sebuah bayangan ternyata telah merasuk ke dalam tubuhnya melewati punggung hingga menyerap ke pembuluh darah. Dan, saat hal tersebut terjadi, gadis tambun itu langsung terjatuh ke ubin dan berakhir dengan kehilangan kesadaran.
Tak butuh waktu lama, sekitar semenit kemudian, Ulfa kembali bangkit. Namun, ada yang tak biasa. Mata gadis itu belum terbuka dan dirinya masih tak sadarkan diri. Seolah ada sesuatu yang mengendalikannnya dari dalam, sehingga membuat tubuhnya melayang, membawanya kembali ke tempat tidur.
***
Ulfa terperanjat ketika membuka mata, meyakinkan diri bahwa kejadian tadi malam hanyalah sebatas mimpi. Buktinya, dirinya berada di tempat tidur sekarang. Karena hal yang terakhir diingatnya hanyalah ketika seluruh pandangannya menjadi gelap sesaat setelah suara menyeramkan itu berbisik padanya.
Hari minggu pagi ini tak dapat digunakan untuk bersantai dan bermalas-malasan, karena besok akan dilaksanakan ujian tengha semester. Setelah mandi, Ulfa berniat untuk membaca materi yang akan diujiankan besok.
Ia menatap rak di sudut kamarnya yang berisi buku-buku pelajaran. Dan tiba-tiba, salah satu buku terjatuh sendiri. Ilmu Pengetahuan Alam. Kebetulan sekali, dirinya memang akan membaca buku itu. Akhirnya ia tak perlu memilah ataupun mencari.
Ulfa mulai membaca, berusaha mencerna semua tulisan yang tertera dalam lembaran-lembaran kertas yang ia pindahkan dari halaman ke halaman. Anehnya, dengan sekejap saja membaca, dirinya sudah mengerti. Bahkan mengenai materi yang dulu dirinya sama sekali tak paham ketika diterangkan oleh guru di sekolah. Sungguh mengherankan sekaligus melegakan dalam waktu bersamaan.
Ada satu hal terlupa yang langsung diingatnya ketika mendengar suara yang berasal dari perutnya, bahwa ia belum sarapan. Oleh karenanya, sejenak Ulfa menghentikan aktivitas membacanya, lalu melenggang ke dapur, mencari makanan. Semoga ayah atau ibunya sudah membuat sarapan sebelum berangkat ke toko milik mereka. Ia sedang malas bersentuhan dengan wajan, kompor, dan kawan-kawannya.
__ADS_1
Dan ternyata, tak ada sarapan yang sudah siap santap. Dengan berat hati, Ulfa harus memasak. Ia menatap lemari es, hendak mengambil telur. Tiba-tiba, pintu lemari es itu terbuka sedikit dengan sendirinya.
Ada apa dengan hari ini? Tadi buku, sekarang lemari es. Meskipun sedikit mengherankan, tetapi hal-hal tersebut tak terlalu digubrisnya. Tak apa lah, alam mungkin sedang mempermudahnya, edisi khusus bagi gadis yang sedang berulang tahun. Ia masih berpikir yang melakukan hal-hal itu adalah angin. Mengingat lemari es nya memang sudah tua, mungkin pintunya sudah loyo.
Ulfa tersenyum, "andai aja kebetulan terjadi lagi, seperti buatin gue makanan gitu," gumamnya.
Dan, terdengar 'ceklek', suara dari tombol kontrol kompor yang menyala dengan sendirinya. Mata Ulfa dibuat terbelalak tiba-tiba, menyesal akan perkataannya yang terlanjur terucap barusan.
Ia menatap api di tungku itu dengan saksama. Ternyata matanya tak menipu. Memang benar, ada yang menyalakan kompor. Tapi siapa? Tak mungkin ulah angin lagi, kan?
Niatnya untuk memasak, Ulfa urungkan dengan langsung berlari ke kamarnya, setelah mematikan api yang menyala di kompor tadi, kali ini benar-benar menggunakan tangannya.
Dengan rasa waspada, bola matanya berkeliling ke seluruh sudut kamar. Jantungnya berdegup kencang, napasnya pun memburu, dengan pikiran berkecamuk membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Kemarin malam bukan mimpi!"
***
Dan betapa leganya, ketika pintu dibuka, Ulfa melihat ternyata ada Annisa, Naya, dan Iswanti, dengan membawa sebuah kue ulang tahun bulat rasa coklat, sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
Ulfa langsung mempersilakan mereka masuk dan duduk. Lalu, merayakan pesta kecil-kecilan itu dengan membuat harapan dan meniup lilin. Akhirnya hari ulang tahunnya mendapatkan kesan bahagia setelah gangguan-gangguan menyeramkan.
Kebahagiaan hanya sampai di sana, karena setelah itu Ulfa menampakkan mimik wajah murung. Ia kembali mengingat adiknya. Biasanya ketika ada orang rumah yang berulang tahun, dirinya dan Hilfa akan saling berebut siapa yang akan mendapatkan bagian kue paling banyak, meskipun ujung-ujungnya ia harus mengalah karena ayah dan ibunya selalu berkata dirinya sudah besar. Tersadar, bahwa hal yang membuatnya kesal waktu itu, kini merupakan momen yang indah.
Matanya berlinang air yang tertahan di pelupuk, sebentar lagi pasti akan meluncur membasahi pipinya. Dan tiba-tiba, selembar tisu melayang tepat di depan wajah Ulfa tanpa ada tangan yang memegang atau mengarahkan.
__ADS_1
Keadaan kembali aneh, keempat gadis itu cekatan berdiri dengan ketakutan lalu merapatkan tubuh satu sama lain, terkaget dengan apa yang dilihat mata mereka.
Ulfa apalagi, keempat kalinya dirinya mengalami kejadian serupa.
"Fa, ini gak lucu banget tahu!" ujar Annisa gemetaran.
"Harusnya gue yang bilang gitu, bisa jadi kan ini semua prank dari kalian?" sahut Ulfa tak henti-hentinya menatap tisu yang masih melayang itu.
Ketiga orang itu menggelengkan kepala, menolak tuduhan Ulfa.
Tisu itu pun jatuh ketika kesedihan Ulfa telah hilang, karena tergantikan oleh rasa takut.
Setelah mengatur napas dan menenangkan diri, Naya pun bertanya, "Iswanti, lo kan punya indera keenam, lo lihat ada sesuatu barusan?"
Iswanti mengangkat bahunya, karena sebenarnya tak melihat apapun. Penglihatannya sama seperti teman-temannya, dirinya hanya melihat selembar tisu tak bertuan itu melayang.
"Gue udah mengalami hal aneh dari semalam. Gelas jatuh sendiri, buku juga, kulkas kebuka sendiri, kompor nyala sendiri, dan barusan tisu terbang. Apakah mungkin itu ulah penunggu rumah ini?" terang Ulfa menyimpulkan bahwa kebetulan-kebetulan yang menimpanya sebenarnya bukan disebabkan oleh alam, melainkan ulah makhluk lain dan saling berkaitan.
"Tapi gue gak melihat apa-apa. Atau bisa jadi, penglihatan gue belum peka banget?" jawab Iswanti tak yakin.
Di tengah kebingungan dan ketakutan itu, pintu rumah Ulfa terbuka dari luar. Ternyata Syifa, ibunya yang datang dengan tergesa-gesa. Segera memeluk anaknya dengan erat.
"Mama lupa tanggal. Gak ingat kalau hari ini kamu ulang tahun, untung saja pas tadi di toko ada pelanggan yang menanyakan tanggal, mama cek HP, dan ingat, hari ini tanggal lahir kamu. Selamat ulang tahun, sayang," ungkap Syifa sedikit berlebihan untuk orang yang hanya melupakan tanggal ulang tahun, karena sambil menangis.
Ulfa pun heran dibuatnya, tahun-tahun sebelumnya pun Syifa mengucapkan ulang tahun padanya ketika kembali dari toko. Tak seperti sekarang, ibunya dengan sengaja meninggalkan toko di tengah jam sibuknya.
__ADS_1
Ulfa tertawa hambar, "ada apa ma? Hari ini mama aneh banget deh, mama ninggalin toko cuma buat ngucapin selamat ulang tahun?"
Syifa berusaha menenangkan diri, bukan tanpa alasan dirinya bertindak seperti ini, "ulang tahun kamu kali ini akan berbeda, kamu pasti juga sudah merasakannya!" jelas Syifa masih tak dapat dicerna oleh keempat orang yang sama terherannya itu.