ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Tanda Tanya


__ADS_3

Sandi hendak menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu cukup lama. Ia sama sekali bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Karena, rencana yang diharapkan mereka benar-benar berjalan dengan kacau balau. Tak ada pertemuan yang terjadi antara dirinya dengan si misterius itu. Hanya ada pesan teks dari nomor tak dikenal sama yang masih menjadi tanda tanya.


Beberapa kali, Sandi memutar badan dan memastikan bahwa dirinya tak diikuti dari belakang. Bagaimanapun, ia merasa takut jika orang misterius itu mengetahui atau mencurigai meski sedikit bahwa dirinya memiliki rencana lain bersama kawan-kawannya.


Alhasil, Sandi pun lebih memilih bermain aman dengan terus mengabarkan informasi kepada Naya melalui pesan singkat saja.


"Nay! Gue harus berhasil menculik anak kecil dalam kurun waktu paling lambat dua minggu. Gue harus gimana sekarang?" tanya Sandi melalui ketikannya.


Naya yang dari tadi menggigit jari karena merasa cemas, langsung mengajak teman-temannya lagi untuk berdiskusi sesaat pesan dari Sandi masuk ke dalam ponselnya.


Sekelompok anak muda itu sekarang kelimpungan. Mereka tak mengira jika rencana mereka akan melenceng sejauh ini.


"Ini hal yang gue takutin," ujar Ulfa makin merasa bersalah. Bagaimana jika ada anak-anak lain lagi yang bernasib sama seperti Hilfa?


"Terus gue harus jawab apa?" tanya Naya yang sama kebingungan.


"Jawab aja, kita bakal temukan cara nanti."


"Kenapa dari tadi lo nyikapin ini dengan tenang banget, Rey! Yang kita bicarain disini adalah sebuah tindak kejahatan, loh!" protes Iswanti seraya memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


"Tenang, Is!" timbrung Salman berusaha menenangkan gadis di sebelahnya.


"Di situasi kayak gini, kita gak boleh terlalu panik. Kita harus berusaha tenang, biar kepala kita dingin buat cari solusi," ucap Renaldi menjelaskan sikapnya.


***

__ADS_1


Naya sudah dapat melihat rumahnya dari tempatnya berjalan cukup santai. Hendak beristirahat karena kelelahan, bebannya malah bertambah ketika melihat pemandangan mengejutkan yang terjadi.


Bersama Renaldi, gadis itu berlari terburu saat melihat orang-orang berpostur badan besar menyambangi rumahnya. Mereka terlihat mengangkut barang-barang dari rumah Naya. Memindahkannya ke dalam mobil pick-up. Ada kulkas, mesin cuci, bahkan kursi butut dari rumah kecil itu pun diambil.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian merusak rumah ini?" cerocos Naya dengan marah. Apalagi, saat dirinya melihat keadaan sang ibu yang sangat menyedihkan, membuatnya ingin mengamuk saat ini juga.


"Aku sudah terlalu bosan menunggu. Sampai kapanpun, ibumu tak akan pernah berhasil melunasi utangnya. Sudah tiga bulan terakhir ibumu menunggak. Jadi, aku memilih alternatif lain. Dengan mengambil barang-barang seadanya dari rumah butut ini," jelas Hermawan sambil tersenyum pongah.


Jika saja bukan karena moralitas yang selalu ibunya tanamkan dari dulu hingga sekarang, Naya pasti sudah memukul orang tua sombong itu tepat di wajah. Namun, Naya tak berdaya. Ia hanya dapat menyembunyikan kepalan tangannya di belakang punggung.


"Barang-barang ini masih sangat kurang banyak dari total uang yang harus dibayar oleh ibumu. Jadi, anggap saja ini sebagai peringatan agar kalian lebih tepat waktu dalam membayar utang. Dan juga, anggap ini sebagai pelajaran untukmu, gadis miskin! Karena ulahmu, anakku jadi membantah semua perkataanku sekarang," lanjut Hermawan yang juga menyimpan emosinya di dalam dada.


"Tapi, aku gak dekat lagi sama Faisal," ujar Naya berusaha membela diri.


Naya tertegun dengan jawaban yang baru saja didengarnya dari mulut Hermawan. Saking sibuknya, ia bahkan tak memerhatikan Faisal lagi. Ia kira, pria itu tak pergi ke sekolah karena merasa tak enak badan atau sedang ada keperluan lain. Namun, dengan kabar barusan, Naya tiba-tiba merasa khawatir. Ia penasaran, kemana pria itu pergi?


***


Salman baru saja sampai di halaman rumahnya, berbarengan dengan sang ayah yang keluar dari garasi setelah menyimpan mobil sepulang kerja.


Egi langsung merangkul pundak sang putra. Ia juga menanyakan bagaimana hari putranya itu dilalui. Dirinya tipikal ayah yang sibuk, tapi tetap berusaha peduli pada perkembangan anaknya.


Salman pun menjelaskan hal baik-baik yang dilakukannya hari ini. Jelas ia tak menyebutkan bahwa dirinya telah menjalankan rencana yang cukup berbahaya bersama kawan-kawannya.


"Omong-omong, mengenai pertanyaanmu mengenai buku Misteri Kota Hitam itu, ayah punya informasi yang mungkin dapat membantu," ucap Egi masih berjalan beriringan dengan putranya.

__ADS_1


Mata lelah Salman tiba-tiba kembali segar setelah mendengar perkataan ayahnya barusan. Semangat yang tadinya layu, kini mulai kembali terisi. "Benarkah?"


"Ya. Karena kamu sepertinya sangat penasaran dengan buku itu, apalagi demi mendapatkan seorang gadis, jadi ayah tanya-tanya ke teman-teman," jelas Egi sambil terkekeh.


"Apa kata mereka, yah?" tanya Salman yang rasa penasarannya kian menggebu.


"Mereka juga sama lupa-lupa ingat kayak ayah. Tapi, salah satu dari mereka ingat betul, kalau buku itu pertama kali bukan ditemukan oleh ayah. Tapi, buku itu ditemukan oleh Agung, ayahnya temanmu—Renaldi," terang Egi.


Salman mengernyitkan dahi. "Siapa teman ayah yang bilang gitu?"


"Feri, dia memiliki putri seumuran kamu, kan? Kalau gak salah namanya Ulfa, dan putri bungsunya yang masih hilang sampai sekarang. Dia memang orang yang paling pandai dan mungkin paling panjang ingatannya di antara perkumpulan teman-teman ayah," tutur Egi.


Salman pun mengangguk paham. "Tapi, apakah pak Feri bilang ke ayah, tentang kejadian spesifik buku itu ditemukan?"


"Feri bilang, buku itu tergeletak di depan pintu rumah Agung, setelah pesta ulang tahun Agung yang ke tujuh belas. Waktu itu, kami kira kalau itu adalah sebuah kado dari salah satu pengagum rahasia Agung," jelas Egi sambil mengedikkan bahu. Pertanda, ia tak begitu yakin dengan cerita yang didapatkannya dari temannya tersebut. Lagipula, kejadian itu sudah terjadi di masa lampau cukup lama. Hampir dua puluh dua tahun yang lalu.


"Dan, sampai sekarang, pengagum rahasia pak Agung gak pernah diketahui identitasnya?" tanya Salman yang makin tertarik dengan perbincangan ini.


Egi menggelengkan kepalanya. "Kami sebagai teman-temannya gak tahu, nak. Tapi, siapa yang tahu kalau Agung sudah mengetahuinya? Dia memang sedikit tertutup jika mengenai masalah asmara waktu itu."


"Satu hal lagi yang membuat aku penasaran, yah! Gimana buku itu bisa ada di tangan ayah, bahkan sampai bertahun-tahun hingga sekarang?" tanya Salman untuk terakhir kalinya.


Egi tertawa renyah. "Itulah, nak! Ayah sendiri gak ingat pasti. Tapi, Feri juga bilang, kalau buku itu memang disebar, karena saking bagusnya. Sampai, orang yang gak suka baca kayak ayah pun, penasaran mau baca. Tapi, kamu tahu sendiri, ayah gak pernah mau baca. Alhasil, mungkin ayah kelupaan, saat semua teman-teman yang lain sudah pada baca, dan tiba giliran ayah, buku itu malah ayah biarkan, gak dibaca. Makanya, ayah gak inget sama sekali tentang buku itu!" pungkas Egi panjang lebar.


Salman pun ikut tertawa bersama ayahnya. Sekarang, ia mengetahui langkah berikutnya yang harus diambil. Ia harus lebih sering bergaul dengan Renaldi, untuk mencari tahu tentang kebenaran buku tersebut. Bagaimanapun, buku itu masih terasa menyimpan misteri sangat aneh, yang mungkin akan membantu menyingkap semua kejanggalan yang terjadi di kota ini.

__ADS_1


__ADS_2