
"Bukannya menuduh, tapi mungkin Tante sudah mengetahui hal ini?" tanya Renaldi sopan.
Dengan kabar yang demikian mencengangkan, Risma hanya dapat menggelengkan kepalanya tak percaya. Pria yang selalu bersikap manis di depannya, mengapa melakukan kejahatan bengis di belakangnya. Ia benar-benar tak menyangka, apalagi mengetahuinya.
"Kalau tante gak tahu, apakah tante pernah melihat keanehan dari sikap mendiang?" sambung Annisa.
Risma masih berusaha mencerna berita yang baru saja didengarnya itu dengan susah payah. Sampai pada satu titik, ia tersadar jika dirinyabharus membantu anak-anak muda yang sedang berada di ruang tamunya tersebut.
"Selama dua bulan terakhir, sikap mas Ardi memang sedikit aneh. Dia sering berpergian, urusan kerja alibinya. Padahal, pabrik sedang tutup, karena bosnya lagi di penjara. Walaupun dua minggu ke belakang, sudah dibebaskan karena tuduhan korupsi yang dilayangkan pada bosnya itu tak benar," tutur Risma.
"Tunggu. Om Ardi kerja di pabrik milik Aji Atmaja?" potong Salman sedikit terkejut.
Annisa sedikit tertegun mengetahui ayahnya adalah bos dari mendiang Ardi. Ia mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Bagaimana jikalau sebenarnya ayahnya adalah dalang dari semua penculikan yang terjadi? Pastinya, sekarang rasa bencinya kian bertambah.
"Tante, apa ayah ninggalin Hape-nya disini? Soalnya, kemarin kita gak nemuin itu di tempat kejadian. Kalau ada, mungkin di dalamnya ada bukti yang dapat membantu kita," tanya Helen.
"Oh, ada. Kayaknya, kemarin dia lupa bawa hape pas mau berangkat ke Alpenia," balas Risma sambil berlalu mengambil ponsel suaminya yang berada di kamarnya. Lalu, memberikannya pada Helen.
Lantas, Helen memeriksa ponsel almarhum ayahnya, mencoba mengoreh informasi yang mungkin saja berguna. Matanya langsung tertuju pada kotak panggilan tak terjawab berkali-kali dari kontak orang yang diberi nama "BOS" di sana. Ia juga menemukan pesan yang ditulis ayahnya pada nomor itu.
"Aku mau berhenti,"
"Aku tak mau menculik anak-anak yang tak bersalah dan membuat keluarganya menderita,"
"Mulai sekarang lakukan pekerjaan kotormu sendiri, aku ingin berubah, aku ingin menjadi manusia yang benar. Menjadi suami berguna untuk istriku dan ayah yang baik untuk anak-anakku."
__ADS_1
Helen membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ada panggilan 13 kali, dari nomor ini, juga ada pesan ini." Sambil menghapus air matanya, Helen menunjukkan hal yang baru saja ditemukannya di ponsel milik ayahnha pada semua orang yang ada di sana.
"Bos? Annisa, apakah ini adalah salah satu dari ribuan perbuatan keji ayah kesayangan lo itu?" ketus Naya pada Annisa yang tak dapat berkata apa-apa.
Risma membaca pesan itu penuh haru sambil memegangi perutnya. Sekarang, ia sedang mengandung, usia lima minggu. Ia merasa kasihan dengan nasib anaknya yang tak akan pernah bertatap muka dengan sang ayah.
"Tante." Helen makin merasa iba dan mengusap pundak ibu tirinya itu. Tak disangka, nasib wanita itu lebih malang darinya.
Salman mengambil ponsel pamannya dari tangan Risma dan berusaha untuk menghubungi dalang dari semua ini. Namun, setelah beberapa kali dicoba, tak ada yang menyahut dari seberang sana.
"Gak usah repot-repot, Salman. Coba lo pinjam hape Annisa, terus cek, apakah nomor telepon 'BOS' itu sama dengan nomor telepon ayahnya Annisa?" Naya dengan santainya masih menyindir Annisa. Namun, idenya tak ada salahnya untuk dicoba, akhirnya Annisa memberikan nomor telepon ayahnya untuk disamakan, dan hasilnya berbeda.
"Oke. Jangan senang dulu, penjahat kan biasanya punya banyak identitas. Mungkin ayah lo punya banyak nomor lain, yang gak lo tahu Nis, buat menyembunyikan kejahatannya, biar dia terlihat sempurna di mata lo." Semua tuduhan Naya timpakan pada ayah Annisa. Sosok ayah Annisa di matanya adalah penjahat yang tak punya sisi baik.
Dan Annisa, ia hanya dapat terdiam mendengar semuanya. Karena mungkin saja, ayahnya memanglah orang kejam. Benar-benar kejam. Ia menatap semua orang yang tak satupun berkomentar, terutama Ulfa yang kini menatapnya dengan berbeda.
Gadis tambun itu memandang Annisa dengan tatapan kesedihan, kekesalan, dan kekecewaan. Kenapa setiap kesalahan ayahnya, harus Annisa yang menerima dampaknya?
Setelah dari rumah Risma di Belisia, kesepuluh orang itu pun kembali pulang ke Alpenia. Mereka mendapatkan tersangka pertama untuk di selidiki, yaitu Aji Atmaja.
Mereka juga telah memiliki rencana untuk mengungkap segalanya, jikalau benar dugaan mereka bahwa ayahnya Annisa adalah penjahat utama dalam semua keresahan yang tengah terjadi di kota ini.
***
__ADS_1
Sekolah kembali dibuka setelah dua minggu ke belakang tutup karena libur semesteran. Senasib dengan rasa siswa-siswi yang gundah karena merasa liburan hanya berlangsung singkat, ditambah ada kabar yang membuat kegelisahan semakin besar. Terjadi lagi, anak balita dari salah satu guru mereka kembali menghilang, di duga karena diculik.
Mendengar kabar demikian, sepulang sekolah, Naya dan kesembilan kawan lainnya mulai membahas rencana yang telah mereka rancang kemarin.
"Dalam dua bulan terakhir, udah ada 11 anak hilang, dan tak ada yang kembali, kapan semua ini berakhir?" Ulfa dengan sedihnya mengingat adiknya, Hilfa.
"Ternyata, penculiknya bukan cuma ayah gue," Helen berkomentar. Tentu, di luar sana masih banyak orang yang menjadi kaki tangan orang keji yang sedang mereka cari itu.
"Annisa. Sekarang tersangka yang kita punya hanya ayah lo. Jadi, kita minta lo melakukan hal yang kita diskusikan kemarin secepatnya, ya?!" Pinta Renaldi, mencoba penuh pengertian.
Dengan berat hati, Annisa menganggukan kepalanya lamat-lamat. Rencana yang dimaksud sebenarnya sangat malas dilakukannya. Ia harus berpura-pura berbaikan dengan ayahnya untuk lebih dekat dan menyelidiki lebih jauh. Ia tak tahu lagi, jikalau benar-benar ayahnya berada dibalik semua kekacauan ini, apakah ia dapat menerimanya lagi? Kasus kemarin saja sudah membuatnya kesal dan merubah sikap dan pandangannya.
***
Rambut panjang Annisa terlihat indah saat tersapu oleh semilir angin. Niat hati ingin melancarkan rencananya, ia malah menenangkan dan mempersiapkan hati terlebih dulu dengan duduk sendirian di taman kota. Dengan masih memakai seragam sekolah, ia hanya termenung sejak dua puluh menit lalu.
"Gue tahu lo bisa," suara berat itu membuyarkan khayalannya. Ikbal langsung duduk di sampingnya.
"Andai perkataan lo benar. Tapi, lo tahu gak cara mengalahkan ego yang besar itu kayak gimana?" sahut Annisa dengan tatapan kosongnya ke depan.
"Pertanyaan yang cukup sulit. Lo tahu sendiri, gue kan egois banget," kekeh Ikbal, diikuti Annisa yang menaikkan alisnya.
"Gue gak lagi nyindir lo. Tapi, emang hubungan gue sama bokap lagi buruk banget. Gimana kalau dia curiga dengan perubahan sikap baik gue yang tiba-tiba banget?" Annisa menatap lelaki itu sekejap sebelum akhirnya ponselnya mendapatkan pesan masuk. Ibunya menyuruhnya untuk pulang. Lantas, ia pun bangkit dan hendak pergi jika saja Ikbal tak meraih pergelangan tangannya.
"Lo kuat. Gue tahu itu. Dan jika lo butuh seseorang agar lebih kuat, gue ada di sini," ujar Ikbal sedikit ragu-ragu, sebelum akhirnya, "maksud gue, teman-teman lo ada disini," ralatnya sedikit kikuk.
__ADS_1
Annisa sendiri merasakan sedikit keanehan dari kata-kata yang baru saja keluar dari mulut tipis milik pria itu.
"Oke. Gue pulang dulu!" balas Annisa tak memedulikan perasaannya yang aneh saat melihat Ikbal kali ini. Ia pun melenggang pergi, tanpa mengetahui bahwa dirinya meninggalkan lelaki yang terduduk dengan kebingungan yang sama sepertinya.