ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Luka Renaldi


__ADS_3

Iswanti dan Ulfa mencegat Naya saat baru tiba di depan pintu. Mereka memiliki misi yang sama. Yaitu, menyadarkan Naya, mengingatkannya bahwa teman mereka itu memiliki sebuah keistimewaan yang terpendam.


"Lo spesial, Nay!" ujar Ulfa.


Naya hanya mengernyitkan dahi. Ia baru saja tiba, dan malah ditodong dengan perkataan ambigu seperti itu. "Makasih," candanya dengan tawa canggung.


Iswanti menepuk dahi. "Lo ingat waktu gue nyeritain tentang laki-laki berjubah hitam itu? Kasusunya sama kayak perkataan leluhur Ulfa tentang lo!" jelasnya berusaha membuat Naya mengerti.


"Maksudnya?" tanya Naya sambil mengalihkan pandangan pada Ulfa.


"Jatiya bilang, kita—lo sama gue adalah keluarga," sahut Ulfa.


Naya mengangguk paham. "Mungkin karena kita temenan, jadi udah dianggap kayak keluarga sendiri?"


"Bukan begitu! Ceritain mimpi aneh tapi bermakna yang pernah lo alamin," saran Ulfa.


Naya akhirnya menganggap perbincangan itu serius. Perkataan Ulfa barusan seolah berkaitan erat dengan mimpi anehnya beberapa hari lalu.


"Gue ketemu ayah gue di dunia yang asing. Kayak bukan di bumi gitu. Menurut gue, mimpi itu aneh tapi bermakna," jelas Naya.


"Terus?" desak Iswanti.


"Kami bicara sebentar, lalu telapak tangan gue mengeluarkan cahaya saat ayah gue pegang. Dan gak lama, dia langsung hilang. Cuma itu yang gue ingat," lanjut Naya.


"Itulah lo sebenarnya. Lo adalah manusia cahaya!" cetus Ulfa seenak jidat.


"Apaan sih? Lagian itu cuma mimpi. Kenapa lo nganggap serius?" sangkal Naya dengan tawa.


"Coba tunjukin kekuatan lo!" pinta Iswanti.


"Maksud lo?" tanya Naya makin tak mengerti.


"Coba lihat tangan lo!" Ulfa merebut tangan Naya ke genggamannya. Dengan serius, dirinya mengamati telapak tangan itu.


Naya malah makin tergelak. Ia mengira kedua temannya itu telah hilang akal.

__ADS_1


"Coba paksain buat mengeluarkan cahaya, Nay! Dorong tenaga lo dari dalam!" desak Ulfa makin tak masuk akal.


"Apaan yang didorong? Gue gak lagi berak, Ulfa!" Canda Naya yang masih terkekeh.


Iswanti dan Ulfa hanya dapat berdecih, karena Naya masih menganggap mereka becanda. Sedangkan, Naya langsung mengalihkan perhatiannya pada Renaldi yang baru saja tiba di depan pintu kelas. Ia memang tak berangkat dengan sahabatnya itu pagi ini. Renaldi sendiri yang memintanya untuk lebih dulu berangkat ke sekolah.


Pemuda itu terlihat meringis di wajah. Sikunya nampak diplester, sebab kemarin sore dirinya terjatuh dari motor saat mengantar pizza, hingga sikunya lecet.


Dengan perasaan khawatir, Naya langsung menghampiri sahabatnya itu. "Kenapa lo?" tanyanya seraya menautkan alis.


"Jatuh dari motor," jawab Renaldi santai. Ia memang merasakan sikunya berdenyut sedikit nyeri sekqrang, tapi itu bukanlah masalah besar.


Naya segera memukul pelan bahu Renaldi. "Kenapa? Lo baru belajar naik motor? Sampa jatuh kayak gitu?" sarkasnya masih merasa cemas.


Renaldi tersenyum. Naya memang sahabatnya yang terbaik. "Lo kenapa, sih? Padahal gak bantu obatin juga, malah mukul gue kayak barusan!" sela Renaldi menanggapi candaan Naya.


Gadis itu mengerlingkan mata kesal. "Sini lihat siku lo!"


"Gak mau! Nanti lo pukul kayak barusan lagi. Kan sakit!" tolak Renaldi sembari menyembunyikan tangannya ke belakang punggungnya.


Naya berdecak. "Mana mungkin? Gue cuma mau lihat!" Ia membelalakan matanya, agar sahabatnya itu menuruti permintaannya.


Gadis itu meringis, melihat perban putih itu dari jarak yang begitu dekat. Ia bahkan dapat melihat noda darah dan campuran obat merah yang rembes di sana.


"Boleh gue pegang?" tanya Naya dengan polos.


"Hah? Gak boleh! Gila lo! Sakit nanti," sangkal Renaldi secepatnya. Ia langsung menarik lengan kirinya itu kembali ke punggung, karena takut Naya malah mengerjainya nanti.


Naya berdecih. "Gak bakal. Sebentar aja! Gue penasaran!"


Renaldi menaikan alisnya terheran. "Penasaran apa sih? Kan barusan lo lihqt sendiri. Lo aneh banget," tuturnya diakhiri tawa.


Naya menggelengkan kepala. Ia juga tak mengerti dengan kepenasaranan yang tiba-tiba timbul di pikirannya itu. Seolah ada yang mendorongnya dari dalam. Akhirnya, ia menarik lengan Renaldi dengan paksa.


Renaldi meringis karena merasa sedikit ngilu. Namun, saat Naya menyentuh area lukanya, seolah ada keajaiban yang terjadi. Rasa sakitnya seolah menghilang begitu saja.

__ADS_1


Naya masih memegang luka Renaldi dengan mata yang menatap fokus ke arah sana. Ia merasakan ada aliran energi yang berpindah dari dalam dirinya ke Renaldi. Begitu pula sebaliknya.


"Apa yang lo lakuin?" tanya Renaldi berhasil membuat Naya memicingkan mata. Gadis itu seolah terlarut dalam lamunannya untuk sejenak barusan, karena merasakan keanehan yang tak dapat dirinya ungkapkan.


"Hah?" ucap Naya yang celingukan.


"Siku gue!" Renaldi segera membuka balutan perban di sikunya secara kasar. Karena mendadak, tangannya sudah tak merasakan sakit sedikit pun. Malah, dirinya merasa sangat segar bugar.


"Heh? Kenapa lo buka?" tanya Naya yang sedikit terkejut dan khawatir. Ia mengira jika lengan Renaldi masih terluka. Namun, saat matanya menatap kulit sawo matang itu terlihat baik-baik saja seperti biasanya, dirinya hanya dapat kicep, dan tak dapat berkata apa-apa.


"Apa ini, Naya?" tanya Renaldi yang sedikit takut, tetapi takjub dalam waktu bersamaan.


Ulfa dan Iswanti yang ikut menyaksikan, akhirnya saling melempar tatapan.


"Gak diragukan lagi. Ada sesuatu dalam diri lo, Nay!" ujar Ulfa.


"Lo baru aja nyembuhin luka Rey. Bilang ke gue, Rey! Lo gak cuma pura-pura pake perban dan terluka, kan? Cerita lo tentang jatuh dari motor itu gak mengada-ada juga, kan?" Cerocos Iswanti untuk memastikan bahwa Renaldi tak sedang memainkan sebuah sandiwara untuk menarik perhatian.


"Enggak lah. Buat apa?" jawab Renaldi jujur.


Naya masih menggelengkan kepala. Ia juga memandangi kedua tangannya yang sedikit gemetar. Sesuatu yang sangat mustahil baru saja terjadi di hadapannya. Dan itu membuatnya sangat ketakutan.


"Lo manusia cahaya yang bisa nyembuhin orang," ketus Ulfa kembali asal-asalan memberi julukan pada Naya.


"Tapi, gue manusia normal!" sangkal Naya masih tak menerima.


"Kita bahkan gak tahu apa definisi normal yang sebenarnya. Di dunia ini, adakah hal yang bisa dikatakan normal?" cetus Iswanti.


"Iswanti benar. Gue adalah penyihir, dia bisa ngelihat orang-orang yang udah gak ada. Dan sekarang, kemungkinan lo adalah manusia cahaya yang ajaib. Siapa tahu nanti, Rey juga punya kekuatan. Mungkin dia adalah manusia kadal," cerocos Ulfa panjang lebar.


"Hah?" ujar Renaldi setelah mendengar namanya asal disebut oleh Ulfa. "Apa hebatnya jadi manusia kadal?"


Ulfa mengedikkan bahu, "memiliki kelincahan berlebih mungkin?"


Renaldi hanya menggelengkan kepala. "Nay! Gue kira, ini adalah salah satu kunci jawaban dari mimpi aneh yang lo ceritain sama gue waktu itu."

__ADS_1


Iswanti dan Ulfa menganggukan kepala setuju.


Sedangkan Naya, dirinya hanya dapat bungkam dalam kesunyian. Tiba-tiba, ia merasakan rasa rindu pada sang ayah lebih besar dari biasanya.


__ADS_2