ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Hutan Lindung


__ADS_3

"Udah, lepasin asa. Gak apa-apa, gak sakit banget kok, gue bisa jalan sendiri," pinta Annisa sehingga Ikbal melepaskannya. Kakinya memang sedikit ngilu, namun hanya sesaat, kini sudah tak terlalu terasa.


Intan dengan tergesa menyejajarkan diri bersama Ulfa dan Renaldi, tak mau jika harus berjalan di depan sendirian ketika memasuki hutan yang lebat akan pepohonan itu. Hutan lindung milik pemerintah daerah. Sudah jarang dimasuki manusia, meskipun ada jalan setapak beraspal yang masuk dua mobil berlawanan arah.


Kesembilan orang itu memasuki area hutan bersamaan. Baru saja masuk, auranya sudah berbeda, dari yang tadinya terang ketika di luar, kini menjadi sedikit gelap. Sinar matahari terhalang oleh lebatnya pepohonan besar yang rimbun.


Tak hanya itu, udara dingin juga menyeruak, menusuk kulit mereka, membuat suasana kian aneh. Akhirnya, mereka merapatkan jarak, supaya mengurangi kesunyian.


"Guys! Gue mau minta maaf. Kalau selama ini, sikap gue gak baik. Terutama pada Annisa, Ulfa, dan Iswanti" tak ada angin, tak ada hujan, Ikbal memecah keheningan dengan hal yang bertentangan dengan stereotip-nya selama ini.


Intan yang merasa heran, akhirnya bertanya, "lo baik-baik aja, Bal?"


"Lo sendiri yang bilang, gue harus berubah. Inilah saatnya, dan gue berusaha minta maaf. Karena ada orang yang menyadarkan gue, betapa pentingnya permintaan maaf pada orang yang pernah kita sakiti, sebelum terlambat!" jelas Ikbal. Di akhir kata, matanya jelas menatap Annisa.


Gadis yang menangkap tatapan itu, membalas Ikbal dengan senyuman yang paling hangat. Senyuman lega.


Intan merasa bangga. Senang melihat saudara kembarnya dapat bersikap lebih dewasa. Dan, mereka yang dimintai maaf oleh Ikbal pun, dengan sukarela memberikan pengampunan.


Keadaan telah lebih baik, bahkan Faisal dan Salman pun menyampaikan permohonan maafnya. Mungkin hati mereka telah terketuk pula.


"Semuanya sudah baikan. Baguslah!" ujar Intan gembira.


"Tapi, gue gak ingat, lo minta maaf sama kita. Tunggu, lo emang belum pernah minta maaf!" canda Naya sambil terkekeh.


"Jelaslah! Gue gak pernah menyesal akan hal apapun. Ingat, i'm a Queen," balas Intan dengan percaya diri penuh, membuat semua orang tersenyum.


Mereka mengetahui bahwa dibalik sifat Intan yang terkadang menyebalkan, gadis itu etap memiliki hati dan perasaan yang tulus. Jadi, setiap perkataannya yang tidak enak di dengar, sering mereka anggap becanda.


"Aduh. Dingin banget ya," Intan kembali bersuara dengan keluhan sambil memeluk diri sendiri.


"Bukannya tadi mau dingin, gak mau kepanasan?" ejek Naya.


"Gue mau sejuk. Bukannya dingin kayak di lemari es gini!" balas Intan sebal.


"Ribet deh lo, Tan!" tegur Annisa terkekeh.

__ADS_1


"Ribet itu telah menjadi bagian dari diri gue," sahut Intan tak malu mengakui hal tersebut.


Perjalanan yang mereka tempuh sudah terhitung jauh memasuki hutan. Semakin dalam, semakin dingin, dan semakin menakutkan.


"Sebagai orang baru di kota ini dan pertama kali main sampai ke hutan ini, gue heran deh. Di jalan raya, mobil motor banyak banget yang lalu lalang, tapi gak ada loh dari tadi yang lewat sini. Ini kan jalan pintas," tutur Annisa, mencoba memecahkan rasa penasaran.


"Lo heran, atau takut?" Sahut Ikbal yang berada di sampingnya.


"Bukan dia aja yang takut, gue juga. Dan orang-orang mungkin juga takut, makanya gak lewat jalan ini. Lagipula, siapa yang milih buat masuk ke terowongan hantu kayak gini? Benar, kita,"  sahut Intan tak menjaga ucapannya, hingga ngalor ngidul tak jelas. "Wait, i feel stupid!"


"Jaga ucapan lo! Lo gak tahu apa, penunggu disini mudah tersinggung!" bisik Naya pada Intan, bermaksud becanda.


"Penunggu? Penunggu apa, siapa?" Tanya Intan menanggapi candaan Naya dengan serius.


"Yang lo bilang tadi. Hantu. Bukan, hantu-hantu maksud gue, disini ada banyak, ibu gue pernah cerita waktu gue kecil. Ada yang gelayutan di pohon, ada yang ngesot di jalan, ada yang tanpa kepala, ada yang tanpa kulit, ada yang tanpa wajah," papar Naya mengambil kesempatan untuk menakut-nakuti Intan. Jarang sekali ia mendapatkan kesenangan seperti ini, mengganggu Intan. Biasanya, dirinya yang diganggu.


Tanpa sadar, Intan memegang erat lengan Renaldi. Candaan Naya membuatnya ketakutan setengah mati.


Naya menatap pemandangan tak mengenakkan tersebut, dan merasa senjata makan tuan. Malah dirinya yang merasa terganggu sekarang.


Sekarang, Naya makin risih, karena Intan tak kunjung melepaskan tautan tangan dari pemuda yang disukainya, dan Faisal malah berpikiran kotor.


"Pikiran lo cuma seputar itu aja!" sahut Naya kesal pada Faisal.


"Enggak dong. Kan ada lo juga di kepala gue," gombal Faisal. Seperti biasa.


"Gue gak mau dipikirin. Apalagi di pikiran lo banyak hal jorok!" Tandas Naya masih kesal.


"Kalian cute banget deh," ujar Intan mengulas senyuman melihat interaksi Naya dan Faisal.


"Kita juga!" timbrung Renaldi pada Intan. Membuat gadis itu menyadari bahwa dirinya telah lumayan lama menggenggam tangan yang berjalan di sebelahnya.


"Enggak! Jaga jarak sana!" tandas Intan sembari melepaskan tautan tangannya, dan berpindah posisi berjalan di dekat Annisa, cukup jauh untuknya bisa meraih tangan pemuda itu. Lagi-lagi, perasaannya dibuat tak karuan. Serba salah. Makin tak jelas


"Salman, lo bilang mobil yang lo ikutin tiba-tiba hilang. Dimana tepatnya?" tanya Ulfa setelah sekian lama terdiam.

__ADS_1


"Sebentar lagi, dari sini udah terlihat. Yang dekat tunggul pohon beringin itu," terang Salman sambil menunjuk pada sebuah tunggul pohon berdiameter besar. "Ayo. Kita jalan terus!"


Iswanti yang dari tadi sama terdiam merasakan aura paling aneh, karena dirinya peka terhadap hal-hal mistis. Merinding, bulu kuduknya berdiri, merasakan pusing yang luar biasa sejak pertama kali menginjakkan kaki di hutan ini. Panas dan dingin menghampiri tubuhnya bergantian.


"Nah. Kita sampai!" ujar Salman setelah beberapa saat mereka berjalan, sambil memegang tunggul beringin yang ia sebutkan tadi.


"Hey. Jangan pegang itu!" tegur Iswanti pada Salman sedikit panik.


"Kenapa?" Salman Yeng mendengar teriakan gadis berkacamata itu terhenyak kaget dan langsung melepaskan tangannya dari atas tunggul yang setinggi panggulnya.


Iswanti terdiam. Tak dapat menjawab. Ia juga tak tahu apa alasannya melarang Salman untuk menyentuh pohon tak utuh itu. Seplah, larangan tersebut tiba-tiba muncul di pikirannya.


"Iswan. Lo kenapa?" tanya Ulfa yang berdiri di sampingnya dengan heran. Sangat jarang dirinya mendengar Iswanti berujar dengan nada tinggi.


Tak berkata apapun, Iswanti tiba-tiba seperti kehilangan kendali akan tubuhnya. Ia terjatuh ke pangkuan Ulfa, tak sadarkan diri.


Semua orang seketika panik, dan membawa gadis itu ke pinggir, disandarkan tepat di tunggul beringin itu.


"Plis.. Jangan kesurupan lagi!" ujar Intan sebal sekaligus paranoid, menyebabkan Annisa menyenggol pundaknya pelan, menyuruh untuk tak berkata aneh-aneh.


"Iswan, Bangun!" ujar Ulfa mencoba menyadarkan temannya itu dengan menggoncangkan tubuhnya.


"Kenapa dia?" tanya Faisal sedikit khawatir.


"Mungkin dia lupa sarapan?" jawab Salman sedikit masuk akal.


Selang beberapa menit, Iswanti kemudian tersadar. Namun, seperti orang kebingungan, ia menanyakan dan melakukan hal tak masuk akal, "gue dimana?" Iswanti bangkit dengan tubuh lemasnya.


"Hey guys! kalian dimana?" lanjutnya masih berteriak, membuat kedelapan temannya terheran. Ia berlari ke depan sana sendirian.


Mereka tepat di belakang Iswanti. Namun gadis itu seolah tak dpaat melihat mereka.


Dalam keheranan, kedelapan temannya itu sedikit memperhatikan dari jarak sedikit jauh, melihat Iswanti yang berbicara sendiri. Tentu saja mereka tak ingin mendekati keanehan itu.


Tiba-tiba, gadis berkacamata itu terjatuh lagi, tak sadarkan diri. Dan Semua orang pun baru berani menghampirinya. Semakin cemas dan tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Gue gak suka ini!" tutur Intan sambil memegang leher belakangnya, karena sebelumnya ketakutannya hanya sedikit, namun sekarang kian membesar.


__ADS_2