ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Kepulangan Yang Tak Diharapkan


__ADS_3

Dengan ragu, Syifa hendak menjelaskan hal yang sangat penting kepada putrinya, karena di sana ada Annisa, Naya, dan Iswanti, yang menurutnya tak perlu mengetahui masalah keluarganya. Namun, Ulfa bersikeras bahwa gadis-gadis itu adalah sahabatnya, jadi ujung-ujungnya dirinya akan memberitahukan hal yang akan disampaikan oleh ibunya tersebut ketika sesi curhatan nanti.


Syifa pun setuju dan akhirnya memberitahukan hal tersebut di depan teman-teman putrinya. "Ketika usiamu genap tujuh belas tahun, akan ada perubahan di diri kamu, mama dulu juga seperti itu."


Permulaan kata tersebut membangun keambiguan di pikiran Ulfa dan kawan-kawannya.


"Kamu dan mama adalah keturunan orang hebat. Orang-orang masalalu seringkali mengatakan leluhur kita adalah seorang penyihir, yang punya kekuatan dari dalam diri hanya dengan mengucapkan kata-kata aneh," lanjutnya sambil tertawa canggung.


Spontan, gadis-gadis yang mendengarkan ungkapan Syifa, hanya dapat menautkan alis karena terheran.


Syifa tak tinggal diam. Perkataan jika tak dibarengi bukti pasti akan dianggap bualan semata. Ia pun mengangkat tangannya, mengarahkan telunjuknya pada sebuah kotak tisu yang berada di atas meja. Kotak tisu itu mengikuti gerak jarinya dengan melayang, seolah ada tali yang menghubungkan antara jemari dan kotak tisu tersebut.


Semua orang yang melihatnya terheran-heran dengan sedikit paranoid. Mereka hanya dapat melongo dan mengerjapkan mata berkali-kali.


Kebingungan empat orang itu mulai tercerahkan ketika Syifa menjelaskan semakin jauh. Meskipun yang dijelaskan wanita paruh baya itu makin tak masuk akal.


"Kamu pasti telah merasakan ada yang aneh. Apa kamu mendengar suara wanita aneh yang mengganggumu?" tanya Syifa pada putrinya setelah berhasil meraih kotak tisu ke genggaman kedua tangannya.


Ulfa hanya mengangguk dengan dada naik turun. Ia sedikit takut dengan ibunya yang ternyata memiliki kekuatan sangat aneh.


"Sekarang, dia ada berada di dalam tubuhmu, nak. Dia adalah leluhur kita!" cetus Syifa sambil memegang bahu putrinya.


Ulfa membelalakan mata, dan melangkah mundur. "Aku masih terkejut dengan semua ini. Jadi, kejadian tadi malam, dan kejadian aneh lainnya pagi ini, adalah ulah roh leluhur kita yang berhasil masuk ke dalam tubuh aku?" Tanya Ulfa sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Untuk itulah ibu langsung pulang dari toko. Karena ibu tahu, kalau kamu orangnya penakut. Sekarang, ibu sudah menjelaskan semuanya, kamu jangan takut lagi," pinta Syifa pada putrinya.


Jantung Ulfa memompa darah lebih cepat. Ia menolak percaya hal yang menurutnya adalah kemustahilan itu. Segera, ia berteriak "siapapun kamu, sekarang juga keluar dari tubuh aku." Ia ketakutan, mengetahui ada sosok lain yang menumpang di tubuhnya, dan dirinya sama sekali tak menginginkan hal tersebut.


"Kamu tenang! Roh leluhur kita adalah orang yang baik. Bahkan, di saat diri kamu ingin melakukan suatu hal buruk, akan ada sebagian di dalam diri kamu yang menolak, itu ulah leluhur kita, mencegah agar kamu tak terjerumus," balas Syifa berusaha menenangkan putrinya. Meskipun kenyataannya, untuk menenangkan Ulfa butuh usaha keras.


"Wow, Ulfa. Lo udah mendapatkan hadiah ulang tahun terbaik," ujar Annisa takjub, namun kentara sekali rasa takut di wajahnya.


"Tunggu, mama punya satu lagi hadiah untuk kamu," Syifa melangkahkan kakinya ke dalam kamar, dan membuka lemari yang di dalamnya terdapat laci terkunci oleh gembok cukup besar. Sesuatu yang terdapat di dalamnya sangat berharga sehingga harus benar-benar dijaga. Ketika terbuka, diambilnya sebuah buku yang sangat tebal, bersampul keras berwarna coklat dengan corak unik.


Diberikannya buku itu pada putrinya, "ini adalah buku pusaka. Buku turun-temurun dari leluhur kita. Di dalamnya terdapat semua hal yang ingin kamu ketahui. Ada jurnal dari perjalanan hidup leluhur kita, sejarah, silsilah, sampai mantra-mantra yang ditulis dan biasa digunakan oleh orang-orang seperti kita, khususnya dari garis keturunan yang memiliki darah penyihir pendahulu kita. Buku ini milik Jatiya," terang Syifa pada putrinya.


Dengan tangan yang masih gemetaran, Ulfa menerima buku itu, "butuh waktu buat aku menerima ini. Yang membuat aku takut, mama bilang ada roh leluhur kita di tubuh aku? Apakah itu akan ada di dalam sana selamanya?" Lagi-lagi, dirinya menanyakan hal itu. Sangat risih jika dirinya harus berbagi tubuh, apalagi dengan orang yang tak dikenal.


Penjelasan itu sedikit membuat perasaan Ulfa lega dan mengerti, "makasih ma hadiahnya. Aku janji gak akan pernah berbuat yang nggak-nggak dengan kelebihan yang tak diharapkan ini, biar dia cepat pergi."


Tiba-tiba suatu hal yang mengganjal dari kemarin mulai mendapatkan pencerahan di benaknya, "kemarin gue, Naya sama Iswanti gak terpengaruh dengan kejadian aneh di hutan. Iswanti punya kelebihan, mungkin kelebihan yang gue punya ini yang membuat gue tak terpengaruh juga. Tapi lo Naya? Apa lo punya kelebihan juga?" Ia mengingat ketika teman-temannya yang lain digiring tanpa sadar untuk kembali keluar hutan.


Naya mengedikkan bahu, "gue ... gak punya."


Ulfa menggelengkan kepala. "gue yakin, kalau ada sesuatu dalam diri lo."


Naya mengerutkan dahi, lalu menggelengkan kepala. "Udahlah. Baca dong bukunya, pengen tahu ada apa aja di dalamnya," ujarnya tak menggubris perkataan Ulfa.

__ADS_1


Ulfa pun membuka sampul buku yang bertekstur kasar dan keras itu, dilihatnya semua tulisan dalam lembaran-lembaran tebal itu menggunakan ejaan lama. Ia berbagi dengan kawan-kawannya yang sama penasaran.


Melihat putrinya sedikit tenang karena memiliki dukungan dari teman-temannya, Syifa pun kembali ke pekerjaannya. Karena profesinya itu dijadikan sebagai pengalih perhatian agar tak terlarut dalam lamunan, berharap putri bungsuya yang hilang akan segera pulang. Ia sepenuhnya telah menyerahkan hal itu pada polisi, karena dirinya telah mencoba dengan menggunakan kemampuan sihirnya.


Syifa mencoba menggunakan mantra pelacak sejak hari pertama Hilfa menghilang, namun anaknya tak kunjung ditemukan. Dalam pemahaman sihirnya, jika orang yang dicari dengan mantra pelacak itu tak berjejak, kemungkinan besar orang itu telah meninggalkan dunia ini. Tetapi, dirinya berharap putrinya masih hidup. Semoga saja.


***


Tak terasa, hari sudah menjelang siang. Annisa, Naya, dan Iswanti harus pulang dari rumah Ulfa agar mempersiapkan diri untuk ujian besok. Waktu memang berlalu cepat ketika digunakan untuk tersenyum, tertawa, dan bahagia.


Ketika di perempatan, ketiga orang itu memilih jalannya masing-masing. Naya berjalan lurus, Iswanti berbelok ke kiri, dan Annisa berbelok ke kanan.


Dengan santai, Annisa berjalan menuju apartemennya yang tak jauh dari perempatan jalan itu. Namun, ketika sampai di tujuan, suasana dan perasannya berubah menjadi gerah, melihat seorang pria paruh baya yang sangat dikenalnya, menyambutnya di depan pintu dengan senyuman hangat.


Bukannya membalas, Annisa malah menatap pria tinggi besar itu tajam. Sedikit marah melihat pria yang biasa disebutnya ayah itu berada dalam satu ruangan dengannya, kaget apalagi. Harusnya ayahnya berada di tempat yang sepantasnya, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Hati Annisa meradang, matanya terasa perih ketika mengingat setiap perbuatan jahat ayahnya yang baru terungkap olehnya akhir-akhir ini. Kadang dirinya tak percaya, pernah menjadikan orang dihadapannya ini sebagai panutan.


Pria bernama Aji itu memeluk erat putrinya, jelas membuat Annisa semakin geram.


Dengan segera, gadis itu memaksakan diri untuk melepaskan tangan besar yang berada di belakang punggungnya itu, "lepas!"


Aji terheran dengan sikap ketus putrinya. Apakah hal tersebut terjadi karena Annisa belum diberi hadiah? Pikirnya.

__ADS_1


Sama seperti dulu, jika sepulang dari pekerjaan, tak jarang Aji membelikan hadiah mahal, sebagai perayu ketika putrinya marah karena dirinya pulang terlambat.


__ADS_2