
"Apa maksud lo? Nama dia bukan Annisa," ujar Ikbal pada Candra yang terlihat melengkungkan garis bibirnya ke bawah.
"Ya, nama gue Olivia," sahut Annisa menguatkan kebohongan Ikbal. Ia takut, penyamarannya terbongkar dan pemuda di depannya malah mengadukannya pada ayahnya.
Candra mengangkat bahunya dengan segera. "Sebenarnya, gue gak peduli nama asli lo siapa. Itu bukan urusan gue."
"Baguslah, karena namanya emang Olivia," jawab Ikbal.
"Lo gak sadar, kalau dengan lo ngomong terus kayak gitu, yang seolah terus mencari pembenaran dan pengakuan, itu malah menjadikan gue makin yakin kalau namanya adalah Annisa," kekeh Candra makin memercayai dugaannya.
Annisa dan Ikbal saling melempar pandangan.
"Udahlah. Dia udah tau semuanya!" Annisa menyerah. Ia pun melepas masker yang menutup mulut dan hidungnya dengan terpakasa.
"Gue gak salah, kan?" Candra terlihat meledek Annisa yang mengerlingkan mata.
"Kenapa lo bisa tau nama gue? Kita bahkan gak saling kenal," tanya Annisa sedikit penasaran.
Candra tersenyum getir. "Gue yakin kebanyakan orang kota ini bakal tahu lo, karena kasus ayah lo itu cukup menggemparkan. Gue juga punya hape kali, buat scroll media sosial dan nyari berita itu. Disana, gue juga nemu foto lo banyak banget, karena lo adalah anak dari sang koruptor. Biar gue kutip judul artikelnya, 'Annisa Atmaja, gadis manja yang suka berfoya-foya dengan uang haram sang ayah.' Begitu kira-kira, dan masih banyak lagi berita sejenisnya. Jadi, gue sedikitnya udah tau bentuk mata lo barusan, makanya gue bisa nebak," papar Candra panjang lebar.
Ikbal menaikan alis terheran. "Lo gak malu ngomong kayak barusan, sedangkan lo sendiri tinggal di rumah orang yang lo sebut koruptor itu?" Ia berusaha membela Annisa yang menahan napas sambil menundukan kepala karena merasa malu.
"Gue belum selesai ngomong. Gue gak peduli sama berita di luaran sana. Yang penting, gue masih punya tempat tinggal, karena orang yang mereka anggap koruptor itu. Jadi, gue akan bersikap biasa aja. Gak menyalahkan atau membela jika hal itu benar terjadi," jelas Candra santai menyuarakan suara hatinya sejujur-jujurnya.
"Lo cowok yang aneh," sahut Ikbal sambil menaikan sebelah alisnya.
"Gue setuju! Dan gue gak masalah dengan hal itu," ujar Candra seraya menganggukan kepalanya.
Ikbal mengerutkan dahi. Sosok pemuda di depannya itu mengingatkannya akan saudari kembarnya yang suka berterus terang.
"Lo tinggal di rumah ini udah berapa lama?" tanya Annisa yang telah mengenyahkan rasa sakit di hatinya, sebab mendengarkan perkataan fakta sedikit tajam dari Candra.
"Kalian mau interogasi gue sekarang?" jawab Candra dengan pertanyaan pula.
"Bukan. Gue cuma nanya," jelas Annisa sedikit merasa emosi.
"Gue gak mau jawab." Candra menyidekapkan tangannya di depan dada, dan membuat kedua orang di hadapannya geleng-geleng kepala.
"Kenapa?" tanya Ikbal yang sedikit lagi mungkin akan tersulut emosi.
"Gak ada yang gratis di dunia ini. Kalau lo mau sesuatu dari gue, maka ada biaya adminnya," terang Candra sambil tersenyum nakal.
"Hah?"
__ADS_1
"Ayolah. Kalian gak mungkin kecopetan beneran, kan? Gue tau, kalian berdua adalah bocah-bocah yang bergelimanngan harta orang tua. Kalian gak mau berbagi sama anak sebatang kara kayak gue?" sarkas Candra menampilkan raut wajah memelas pura-pura.
Annisa dan Ikbal lebih sering berpandangan, karena sikap menyebalkan dari Candra.
"Kalau gak mau, silakan cari informasi dari orang lain. Gue doain semoga kalian beruntung, karena penghuni-penghuni rumah ini cuek semua," terang Candra berusaha menekan sekaligus meyakinkan kedua orang yang sudah berdiskusi dengan berbisik di hadapannya hampir selama semenit penuh.
Annisa dan Ikbal merasa tak memiliki pilihan lain. Mereka telah bertanya pada beberapa orang sebelum pada cowok menyebalkan sekarang. Dan perkataan Candra memang benar, orang-orang di dalam bangunan ini begitu sulit diajak bersosialisasi.
"Oke," Ikbal pun mengeluarkan dompet dari saku celana jinsnya dengan sedikit kesal. Ia juga mengambil beberapa lembar uang di sana, yang kalau dihitung jumlahnya cukup banyak. Ia yakin, setelah ini Candra akan segera membuka mulut menyebalkannya untuk hal yang berguna.
"Dan jangan sebut kita berdua bocah kaya! Umur lo sama kayak kita, jangan sok jadi orang dewasa!" sahut Annisa pada Candra.
Candra tersenyum, "terserah gue. Gue akan berkata hal apapun yang gue mau. Kalian yang jangan ngatur-ngatur!" Ia pun memasukan uang perasan dari Ikbal itu ke dalam sakunya dengan rasa bahagia.
Annisa menepuk dahinya. Pemuda seperti Candra memang susah untuk didebat, apalagi dikalahkan. Jadi, dirinya memilih untuk tak memperpanjang percekcokan tak bermutu itu.
"Jadi, sejak kapan lo tinggal disini?" tanya Ikbal dengan mimik wajah serius.
"Sejak ... selamanya!" jawab Candra dibarengi kekehan.
"Serius! Atau gue bakal mukul wajah nyebelin lo itu sekarang juga!" jawab Ikbal yang sama sekali tak menganggap becandaan Candra itu sebagai kelucuan.
"Sabar, bro! Gue bilang gitu, cuma buat ngilangin kecanggungan di antara kita bertiga," kilah Candra.
"Gue tinggal disini sejak sepuluh tahun yang lalu. Gue datang kesini pas umur tujuh tahun, setelah kabur dari keluarga gila tante gue," jelas Candra dan langsung mengatupkan bibir di ujung kalimatnya.
"Lanjutkan!" pinta Annisa.
"Lo mau denger kisah hidup gue?" guyon Candra dibarengi dengan tawa getir. Ia sungguh tak bisa menceritakan kepahitan yang terjadi di kehidupan masa lalunya. Setelah kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, ia harus tinggal bersama keluarga tantenya yang sama sekali tak menyayanginya.
Mereka itu hanya ingin uang orang tua dari Candra. Sedangkan anak malang berusia enam tahun itu, hanya mendapatkan balasan yang sangat menyakitkan. Tak hanya omelan, Candra kecil sering mendapatkan pukulan di wajah jika terlambat mencuci piring dan baju, atau membereskan rumah.
Ia juga sering merasa kelaparan dalam menjalani hari-hari masa lalunya. Tubuhnya sampai kurus kerempeng, karena hanya diberi makan dua hari sekali. Candra hanya dapat mengganjal perutnya dengan air keran waktu itu. Sampai, ia pun tak kuasa lagi. Dirinya yang dulu tinggal di kota berbeda, akhirnya menemukan kenyamanannya di Belisia—tepatnya di rumah singgah ini hingga sekarang.
"Buat apa kita tahu cerita hidup lo? Gak penting banget!" jelas Annisa.
Candra yang sempat melamun, akhirnya terhenyak dan kembali ke dunia nyata. Ia yang barusan bersedih, kini kembali pada karakternya yang menyebalkan. Ia harus menunjukan jika dirinya kuat. "Lo sendiri yang barusan bilang ke gue 'lanjutkan!'"
Annisa menggelengkan kepala. "Gue bilang gitu ke Ikbal. Biar dia nanyain pertanyaan berikutnya ke lo!" jelasnya meluruskan.
"Oh!" Candra pun menganggukan kepala.
"Selama tinggal disini, lo pernah mengalami kejadian aneh, gak?" tanya Ikbal.
__ADS_1
"Misalnya? Kayak lihat hantu gitu?" tanya Candra masih berguyon. Ia senang becanda. Hal itu ia jadikan sebagai tameng penguatnya dari kehidupannya yang penuh duka.
"Bukan. Pernahkah ada kejadian, seperti penghuni rumah ini hilang? Kayak diculik gitu?" jelas Ikbal.
"Siapa yang mau menculik penghuni rumah ini? Gak ada untungnya! Karena kita semua gak punya orang tua kaya yang bakal ngeluarin uang tebusan," terang Candra.
"Benar juga!"
"Gue emang selalu benar," sahut Candra.
"Lo berdua cari apa sih? Kenapa tiba-tiba nanya gitu?" cerocos Candra bertubi-tubi. "Dan Annisa, bukannya lo udah pindah ke Alpenia? Ngapain jauh-jauh kesini?"
Annisa dan Ikbal tak menjawab. Mereka kira, jawaban yang keluar dari mulut Ikbal tadi, telah menjelaskan kebingungan mereka. Mungkin ayah Annisa memang tak seburuk itu, yang rela melakukan hal keji seperti perdagangan manusia. Itu hanya rasa paranoid mereka yang terlalu berlebihan.
"Hei!" Sosok kecil baru saja muncul dan tiba-tiba menarik kaos yang sedang dikenakan Candra.
"Hei, bro!" jawab Candra dengan semangat dan tersenyum riang, dan segera menarik sosok itu ke pangkuannya.
"Adik lo?" tanya Ikbal yang kembali terfokus pada Candra.
"Bukan. Tapi, dia udah kayak kakak gue," jawab Candra.
"Hah? Kakak?" Annisa membelalakan matanya karena terkejut.
"Iya, gue tahu. Tubuh gue emang kecil dan pendek. Tinggi gue bahkan gak lebih dari ukuran balita. Tapi, usia gue udah dua puluh tahun," jawab cowok kecil itu dengan tersenyum. Ia sangat menerima dengan ikhlas kekuarangan pada fisiknya tersebut.
"Awas kalau lo ngejek dia! Lo bakal berurusan sama gue," kecam Candra dengan wajah serius. Pemuda kecil bernama Eksa itu adalah teman baiknya dari dulu. Kedatangan mereka ke rumah singgah ini hampir bersamaan.
"Enggak! Gue gak mungkin sekejam itu sekarang," jelas Annisa. "Btw, nama lo siapa?" tanyanya pada sosok di pangkuan Candra itu sambil mengulas senyum.
"Eksa!"
"Hai Eksa! Gue Annisa!" Gadis itu mengulurkan tangannya, dan bersalaman dengan Eksa.
"Gue tahu nama lo!" jawab Eksa persis seperti Candra.
Annisa tersenyum, "gue cuma mau bilang, gue salut sama lo."
"Kenapa?" tanya Eksa sambil menaikan alis.
"Kelihatannya lo udah berdamai sama diri sendiri. Gue harap, lo selalu menampilkan senyuman ikhlas di wajah lo itu," terang Annisa.
Eksa merasa terharu. Annisa adalah salah satu dari segelintir orang yang membuatnya merasa senang dan tenang. Ia mengetahui, dengan keadaan fisiknya yang seperti balita, orang-orang tak akan mudah menerimanya. Terkadang, sebagian dari mereka malah menyakiti hatinya. Namun, perkatan Annisa barusan benar-benar membuatnya sangat percaya diri.
__ADS_1