ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Kutukan?


__ADS_3

Naya berjalan dengan rasa waswas. Bahkan beberapa kali, dirinya menoleh ke belakang, karena merasa ada yang membuntutinya. Namun, tak ada siapapun yang nampak oleh matanya.


Sampai sebuah hal yang megejutkan berhasil mengalihkan perhatian dan ketakutannya. Seseorang yang jatuh dengan sepeda motornya di depan sana, berhasil membesut aspal jalan hingga berhenti tepat di hadapannya.


Naya segera berjongkok, berniat menolong orang yang sedang menahan kesakitan itu. Ia pun membantu membuka helm pemuda yang sangat dikenalnya tersebut.


"Lo kenapa?" tanya Naya saat helm itu terlepas sepenuhnya dari kepala Faisal. Ia ingin mengomeli pemuda itu, karena telah menghilang berhari-hari. Namun, rasanya sekarang bukanlah waktu yang tepat.


Wajah Faisal terlihat sangat tegang dan ketakutan. Napasnya masih memburu, rambutnya juga basah bermandikan keringat.


"Pergi!" pekik pemuda itu pada Naya. Ia masih mengerang kesakitan setelah melihat robekan jins di bagian lututnya, sampai tembus ke kulitnya yang ikut mengucurkan darah segar.


"Hah? Apaan sih?" tanya Naya terheran. Segera, ia menunjukan wajah kesalnya dan memelotot tajam. "Gua mau bantu lo!" ujarnya geram.


"Jangan! Pergi sekarang!" kekeh Faisal yang bahkan tak membiarkan Naya menyentuhnya. Gadis itu hendak membantunya berdiri, tapi ia selalu menghempas tangan Naya menjauh.


"Lo aneh banget!" pekik Naya yang masih tak menyerah. Ia segera menekukan lututnya kembali.


"Gue mohon, Nay—"


Kalimat Faisal menggantung saat melihat segerombolan pengendara motor yang berhenti di depan sana. Wajah ketakutannya makin kentara.


Naya mengikuti arah mata Faisal memandang. Ia membelalakan matanya karena terkejut, lalu membuat terkaan sendiri di pikirannya. "Apa yang udah lo lakuin, Faisal?"


"Sesuatu yang sangat buruk," jawab Faisal dengan dada yang masih naik turun.


"Sini lo, bocah ingusan!" pekik salah satu pria dengan wajah sangar itu. Nampaknya, dia adalah pemimpin dari geng motor tersebut. Langkah tegap penuh kemarahannya yang kian mendekat, seolah siap meluluhlantakan Faisal dengan hukuman yang sangat berat.


"Gue mohon, Nay! Pergi sekarang! Jangan ngebahayain diri lo demi gue," pinta Faisal sekali lagi.

__ADS_1


Naya menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Meskipun Faisal lebih sering membuatnya kesal, tapi dirinya tak akan berbuat setega itu. Sekarang, ia hanya dapat memejamkan mata. Ia membayangkan perkataan Ulfa dan Iswanti di sekolah tadi tentang dirinya yang memiliki kekuatan.


"Gue mohon, kalau di dalam diri ini memang ada sesuatu, mohon tunjukanlah itu sekarang. Gue mau bantu Faisal!" batin Naya penuh harap.


"Nay! Pergi!" pekik Faisal makin panik karena melihat gerombolan orang berpenampilan preman itu makin mendekat.


"Diem lo!" ketus Naya sambil memelototkan matanya. Mencoba membungkam Faisal yang terlalu banyak bicara.


Gadis itu tak mengetahui apa yang sedang di lakukannya. Sekarang, ia menggesek-gesekan kedua telapak tangannya. Ia hendak meniru adegan di film-film fantasi yang pernah dirinya tonton. Tangannya seolah mendorong angin, berharap ada pancaran energi yang akan membumihanguskan para musuh dengan satu hentakan.


Namun, setelah beberapa kali tangannya maju dan mundur, Naya tetap tak melihat pancaran sinar atau apapun itu. Ia malah berhasil membuat Faisal mengernyit keheranan.


"Lo kenapa?" tanya Faisal yang malah merasa sedikit lucu. Karena Naya nampak orang kehilangan akal sekarang.


Naya mengedikkan bahu. Ia juga tak mengetahui apa yang sedang dilakukannya sekarang.


"Bantu aku, ayah!" batin Naya sekali lagi. Tiba-tiba, terasa ada hal aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia merasakan darahnya mengalir bersamaan getaran yang ia sendiri tak dapat menyebutnya apa tepatnya.


Tak merasa digerakan oleh otaknya, Naya mendapati tangannya terangkat sendiri, dengan posisi menghempas angin seperti tadi. Dan, ia hanya dapat terkejut dengan apa yang dilihat matanya. Sebuah sinar berwarna putih baru saja keluar memancar dari kedua telapak tangannya, dan melesat, hingga menabrak tubuh ketua geng motor itu.


Pria malang itu langsung terhempas beberapa meter jauhnya ke belakang, setelah sempat melayang di udara dalam sepersekian detik.


Kesepuluh orang pengikut ketuanya hanya melongo melihat kejadian aneh itu. Mereka mengucek mata beberapa kali, memastikan jika kejadian itu adalah nyata. Bukanlah sebuah fatamorgana yang disebabkan karena mereka sedikit tak sadar setelah mengonsumsi minuman keras dalam jumlah cukup banyak.


"Apa itu barusan, Naya?" tanya Faisal yang sama terkejutnya. Matanya membola begitu lama.


Naya lagi-lagi hanya dapat menggelengkan kepala. Sambil menatap Faisal, ia hanya dapat tersenyum kecut.


"Awas!" Faisal kembali panik, karena orang-orang itu berlari mendekatinya. Ia memperingatkan Naya yang masih menatapnya, tak mengira orang-orang itu akan kembali menerjang.

__ADS_1


Tak berpikir apa-apa lagi, Naya segera menoleh, dan tangannya seolah ringan dalam mengeluarkan semburat cahaya itu lagi. Kali ini, tak hanya satu orang yang terjungkal. Melainkah kesepuluhannya. Seolah cahaya itu mengetahui jalannya sendiri, tanpa diarahkan oleh kehendak Naya.


Faisal makin melongo dengan para korban yang berjatuhan. Ia menatap Naya dengan heran, sampai tak dapat berkata-kata.


Naya pun sama. Ia tak mengatakan apapun pada Faisal. Ia malah memilih bangkit berdiri untuk memeriksa keadaan para korban yang berjatuhan akibat ulah semburat cahaya dari telapak tangannya. Ia takut, mereka tak bernapas lagi. Dirinya sangat merasa bersalah sekarang.


Namun, ketika langkah perlahan diambil oleh Naya untuk menghampiri mereka yang terpental cukup jauh di sana, para lelaki yang berpenampilan sangar itu ternyata baik-baik saja, dan dapat kembali berdiri dengan kedua kaki mereka sendiri.


"Penyihir!"


"Orang aneh!"


"Ampun! Jangan sakiti kami!"


Kalimat itu saling bersahutan, datang dari mulut orang-orang yang lumayan merasa kesakitan, disebabkan oleh serangan dari Naya. Kepala mereka juga cukup pengar dibuatnya.


Naya menggelengkan kepalanya. Memang sedikit aneh, dirinya ingin meminta maaf karena takut menyakiti mereka. "Tunggu!" Pekiknya saat melihat kesepuluh orang itu tunggang langgang, untuk kembali menaiki motor mereka masing-masing, dan melaju menjauh.


"Nay!" teriak Faisal yang masih terduduk di trotoar, dengan kakinya yang diselonjorkan.


Naya segera berlari, dan kembali memfokuskan seluruh perhatiannya kepada Faisal. "Maaf! Maaf!"


Faisal malah bungkam. Ia kembali dibuat terheran dengan Naya yang tiba-tiba mengeluarkan air mata. Bahkan, tangan gadis itu juga gemetaran. "Lo kenapa?"


Naya menunduk, ia juga menggelengkan kepala. Ia benar-benar merasa ketakutan sekarang.


"Hey! Hey! Lihat gue! Lo gak boleh nangis! Lo adalah cewek terkuat yang pernah gue kenal." Jelas Faisal sambil menangkup pipi Naya agar dapat mengarah lurus ke netranya.


Naya malah makin sesenggukan. "Apa yang terjadi sama gue, Faisal? Kutukan macam apa yang gue terima ini?"

__ADS_1


__ADS_2