ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Pencitraan?


__ADS_3

Annisa dengan kebiasaan barunya yang selalu menebar senyum ketika berdekatan dengan sang ayah. Padahal, di dalam hatinya ia merasakan rasa kesal yang luar biasa. Namun, ia harus menutupi rasa tersebut, demi keberlangsungan rencananya. Seperti yang sedang terjadi di meja makan ini.


"Jadi, kita mau jalan-jalan kemana akhir pekan ini?" tanya Aji yang akhir-akhir ini merasa sangat bahagia hingga selalu tersenyum sangat lebar. Karena merasa putrinya telah kembali.


Annisa yang sedang memotong steik-nya dengan pisau kecil, lantas mengalihkan pandangan sejenak dari piring itu. Ia langsung menatap ayahnya dengan seringai penuh kepalsuan. "Aku gak mau kemana-mana, pa. Aku tahu, papa kan orang yang selalu sibuk kerja, meskipun di akhir pekan. Aku akan membiarkan papa kerja. Cari aja uang yang banyak buat aku sama mama."


Annisa menatap ibunya saat di ujung kalimat. Ia menyadari ekpresi wajah wanita itu yang terlihat kebingungan.


"Baiklah. Papa akan menghasilkan uang yang banyak untuk membeli kebahagiaanmu dan ibumu. Papa akan membuat keluarga ini menjadi makmur, setelah keterpurukan kemarin," terang Aji penuh percaya diri. Lalu, ia segera bangkit dari kursinya. "Sebaiknya, sekarang papa pergi. Uang itu gak akan datang sendiri!"


Aji mengecup pucuk kepala putrinya, sebelum beranjak pergi dari ruang makan itu. Ia berniat pergi keluar kota, untuk mengurus sebuah proyek baru.


"Apa barusan itu, nak? Kenapa sikap kamu ke papamu berubah lagi?" tanya Silvia menyuarakan kebingungannya. Sikap baik putrinya pada Aji akhir-akhir ini, membuatnya kembali mengurungkan niat untuk menggugat suaminya tersebut.


Annisa berdeham sekali. Ia mempersiapkan diri untuk mengatakan kebenaran pada ibunya. Ia berharap, dirinya tak membuat langkah yang salah. "Aku punya kecurigaan sama papa, ma! Makanya aku berpura-pura bersikap baik padanya."


Silvia mengerutkan dahi. "Maksudmu?"


"Bagaimana kalau dia terlibat dalam penculikan anak-anak yang terjadi di kota ini?" terang Annisa dengan satu tarikan napas.


"Apa?" Silvia membelalakan matanya karena terkejut. Ia tahu, suaminya bukanlah orang yang baik. Namun, pikiran Annisa yang seperti itu, nampaknya terlalu kejam. "Kenapa kamu bicara kayak gitu?"


"Aku sama teman-teman, berhasil menemukan penculik itu. Maksudku, salah satunya. Dan mama tahu, kan? Penculik itu bekerja di pabrik teh milik papa. Bagaimana jika selain bekerja sebagai karyawan, penculik itu juga mengambil sampingan dengan melakukan pekerjaan kotor itu untuk papa?" papar Annisa dengan tatapan mata serius.


"Tapi, mama sudah hidup bersama papamu selama dua puluh empat tahun. Mama gak pernah mencurigai--,"

__ADS_1


Kalimat Silvia tiba-tiba berhenti di tengah, bersamaan dengan raut wajahnya yang berubah seperti sedang memikirakan sesuatu dengan sangat keras.


"Kenapa, ma?" tanya Annisa yang panasaran dengan lanjutan kalimat ibunya.


"Kecuali satu hal Annisa. Papamu punya rumah singgah untuk anak-anak dan remaja yang terlantar," jelas Silvia.


"Apa? Kemana aku gak tahu tentang hal itu, ma?"


"Dia mendirikan bangunan itu, sebelum kamu lahir, Nis. Pernikahan kami yang cukup lama belum diberi anak, membuatnya mendirikan bangunan itu. Tapi, ketika kamu lahir, ibu jadi sering mengabaikan bahkan sekarang hampir lupa akan rumah singgah itu. Tapi, papamu memang masih sering berkunjung kesana, Nis." terang Silvia panjang lebar.


Annisa menganggukan kepala. Ia sempat terkagum pada ayahnya yang ternyata memiliki kepedulian terhadap anak-anak yang terlantar. Namun, berbeda jika pikiran liarnya adalah sebuah kebenaran yang mengerikan. "Bagaimana jika rumah singgah itu dijadikan papa buat menutupi kebusukannya, ma? Dia ingin menjaga citranya sebagai orang yang baik hati di depan banyak orang, karena menutupi identitas aslinya sebagai penculik anak?"


"Tapi Annisa, untuk apa papamu melakukannya?" tanya Silvia masih berusaha berpikiran positif.


"Itulah yang dilakukan mafia yang kejam, ma. Papa mungkin saja melakukan perdagangan manusia? Atau dalam kasus ini, perdagangan anak kecil?" berondong Annisa.


"Aku tak membencinya, ma. Aku hanya membenci sifat jahatnya. Dan, kalau dengan menjatuhkan papa, bisa menghilangkan sifat jahatnya, maka akan kulakukan." terang Annisa.


Silvia hanya menggelengkan kepala. Hati kecilnya masih menolak untuk memercayai jika suaminya adalah orang sekeji itu. Ia mengenal Aji dari mulai manisnya, hingga pahitnya seperti sekarang.


***


Di sore hari ini, Intan terlihat melamun sambil menatapi perkebunan anggur yang terhampar hijau melalui jendela kamarnya.


Ia masih memikirkan segala kekacauan yang terjadi di kehidupannya. Bahkan sekarang, ia mulai menarik diri lagi dari jangkauan ibunya. Dirinya membenci hal itu.

__ADS_1


"Kenapa anak kesayangan papa ini melamun?" tanya Andi sambil menepuk pundak putrinya yang sedang terduduk di kursi belajar.


Intan terperangah. Dan langsung menoleh ke arah suara sambil tersenyum.


"Kenapa kamu gak pergi belanja aja, sayang?" tanya Andi berusaha membangkitkan semangat putrinya. Karena, ia tak senang melihat raut wajah Intan yang nampak cemberut, bahkan terlihat sedih.


Intan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kita harus berhemat, pa!"


Andi menautkan kedua alisnya. "Papa udah bilang, kan? Kamu gak perlu melakukan itu. Papa jamin, keadaan keauangan keluarga kita akan membaik sebentar lagi. Kamu gak perlu khawatir."


"Tetap aja, pa. Lagian, aku juga gak bersemangat buat belanja. Aku lagi banyak pikiran." jelas Intan.


"Kalau begitu, coba ceritakan apa yang menjadi pikiranmu sekrang, nak! Papa siap mendengarkan," saran Andi.


Intan mengatupkan bibirnya. Ia tak mungkin mengatakan pada ayahnya bahwa istri pria tersebut berkhianat. Ia takut, kekacauan di rumah ini makin membesar. Atau bahkan, terjadi peperangan.


Segera, Intan pun memberikan alasan yang tak akan membuat ayahnya kembali bertanya karena terheran. "Cuma masalah kecil di sekolah, pa. Pelajaran kadang bikin kepalaku pusing," jawab Intan berbohong.


Andi pun menganggukan kepalanya, memercayai perkataan putrinya dengan sangat mudah. "Makanya, nak. Lebih baik kamu pergi belanja, sekalian refresh otak. Anggaplah itu sebagai hadiah sebelum ulang tahun untukmu juga."


Intan mengembuskan napasnya kasar, dan lagi-lagi dirinya menggelengkan kepala. Anehnya, ia sama sekali tak berminat. Malah, ia memikirakan hal lain untuk membalas perkataan ayahnya barusan.


"Bisa gak, pa, kalau sebagai hadiah sebelum ulang tahun, aku minta papa mengerahkan anak buah papa untuk lebih gencar mencari adik temanku yang masih hilang? Cari Hilfa sampai ketemu!" tanya Intan.


Andi menganggukan kepala, lalu membelai halus kepala putrinya. "Papa masih mengusahakannya, sayang. Tapi, para anak buah papa belum menemukan jejak sekecil apapun. Kalau aja, penculik yang kamu ceritakan tempo hari itu tak meninggal. Mungkin aja, adik temanmu itu sudah ditemukan."

__ADS_1


Intan pun membuang napas pasrah. Memang, ia sudah menceritakan tentang kematian tragis ayah Helen pada ayahnya dengan sangat mendetail.


Lagipula, berita tentang kematian salah satu penculik itu, sudah menyebar di seluruh penjuru kota. Dan, hal tersebut masih tak membuat perasaaan warga menjadi tenang.


__ADS_2