
Annisa terdengar beberapa kali cekikian. Ia sungguh senang berbincang dengan Eks. Sosok kecil yang sudah berdamai dengan segalanya itu, ternyata memiliki sifat yang sangat menyenangkan.
Begitu pun Eksa. Ia senang memiliki teman baru seperti Annisa yang ternyata adalah gadis baik, yang tak membuatnya merasa kecil hati sedikitpun.
"Lo gak seperti yang orang-orang katakan, Annisa!" ujar Eksa sambil mengambil posisi duduk.
Annisa yang masih berdiri dengan sikunya yang menjadi penyangga di langkan balkon itu pun akhirnya ikut duduk bersila bersama Eksa. "Maksud lo?" tanyanya seraya menaikkan alis.
"Mereka bilang, lo gadis kaya yang manja, angkuh, dan sombong. Bahkan, mereka bilang lo adalah gadis kejam yang suka bully orang," jelas Eksa. Ia mengetahui gosip itu karena rajin berselancar di media sosial. Banyak artikel yang mengatakan hal-hal buruk tentang Annisa di sana. Namun, setelah bertemu sosok aslinya, dirinya merasa sangat tak percaya sekarang.
Annisa mengedarkan matanya ke segala arah untuk sejenak, lalu ia menghembuskan napas panjangnya untuk membuang kegugupan. "Mereka gak salah, Eksa. Gue yang dulu, emang seburuk itu. Dan sekarang, gue mau berubah menjadi gadis yang lebih baik. Meski gue tahu, hal itu gak dapat menebus dosa-dosa masa lalu gue."
Eksa melihat kesedihan yang tiba-tiba timbul di perkataan Annisa. Meski wajah gadis itu terlihat berseri, ia meyakini jika Annisa hanya berkamuflase untuk menutupi lukanya.
"Orang yang berani mengakui kesalahannya, dan berani untuk berubah, menurut gue adalah orang hebat. Lo itu hebat, Annisa!" ungkap Eksa berusaha membuat Annisa merasa lebih baik.
Annisa tertawa getir, tanpa sadar sebutir air matanya jatuh tanpa permisi terlebih dahulu. Segera, ia menggunakan telunjuknya itu menghapus air mata tersebut, dan melanjutkan tawanya bersama Eksa.
"Sekarang ceritakan tentang lo, Eksa! Gimana kisah hidup sosok hebat yang duduk di samping gue ini tercipta? Gue penasaran!" pinta Annisa.
Perkataan Annisa sungguh membuat Eksa merasa begitu dihargai. Namun, menyebut dirinya hebat, adalah sebuah pujian yang sangat berlebihan. "Lo emang paling bisa ya, Annisa!"
Annisa masih terkekeh. Lalu, ia memasang kupingnya benar-benar untuk mendengarkan cerita dari Eksa dengan penuh khidmat.
"Gue berasal dari kota Hexia. Lo tahu?"
Annisa mengangguk. "Gue belum pernah kesana, tapi gue tahu kalau kota itu bersebelahan dengan Alpenia."
__ADS_1
"Ya, lo benar. Gue kesini sekitar sepuluh tahun lalu. Gue gak datang sendirian. Gue punya adik perempuan seusia lo. Dia normal, gak kecil kayak gue," ungkap Eksa.
"Oh, benarkah? Mana dia? Gue mau ketemu," sahut Annisa bersemangat. Jika kakaknya saja baik hati seperti Eksa, mungkin saja adiknya juga seperti demikian.
Eksa tertawa getir, dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca. "Gue harap lo gak ketemu dia dalam waktu dekat."
"Hah?" Annisa menautkan alisnya karena tak mengerti dengan ucapan Eksa.
"Karena, dia ada di surga sekarang," terang Eksa.
Sinar di wajah Annisa tiba-tiba raib setelah mendengar jawaban dari Eksa. "Oh, maafin gue. Kapan dia ... ?"
"Baru tiga bulan kami tinggal disini, adik gue meninggal karena kecelakaan. Seenggaknya, itu yang mereka ceritain ke gue," terang Eksa.
"Maksud lo?" Annisa kembali mengernyitkan alisnya karena gagal paham.
"Gue gak pernah melihat jasadnya. Gue cuma lihat kuburannya. Sebab, waktu itu kaki gue patah setelah jatuh dari pohon mangga. Dan, gue gak bisa ngapa-ngapain, cuma baringan di tempat tidur. Lalu dua hari kemudian, kabar adik gue yang kecelakaan sampai jasadnya gak bisa dikenali lagi wajahnya pun tiba. Gue baru bisa melayat ke makamnya sebulan kemudian setelah kaki gue membaik." Eksa terlihat kuat menceritakan kisah sedihnya itu. Ia menahan air matanya agar tak rembes keluar.
Eksa mengaggukan kepala. "Seperti lo bilang, gue udah berdamai dengan semuanya. Lo bahkan akan tertawa kalau mengetahui bahwa gue pernah mencoba melakukan hal bodoh, seperti melenyapkan diri sendiri setelah kepergian Mia—adik gue itu."
"Hah? Mana mungkin gue ketawa? Gue gak ngetawain hal semacam itu, Eksa," bantah Annisa makin merasa miris.
"Kematian Mia adalah titik terendah di hidup gue. Kami hidup luntang-lantung di jalanan setelah ayah kami masuk penjara karena melenyapkan ibu kami," ujar Eksa.
"Apa?" Annisa kembali membelalakan matanya makin terkejut. Selain menyedihkan, ternyata kisah hidup Eksa juga mengenaskan.
"Yah! Gue tahu. Sadis, bukan? Tapi begitulah adanya. Sampai sekarang, gue gak peduli lagi sama keadaan ayah yang suka mukulin keluarganya setiap hari itu. Seperti yang gue bilang, titik terendah gue adalah ketika gue yang harus ngamen di bis-bis sama Mia. Kami terus berjalan mengikuti arah bis yang membawa kami, hingga kami menemukan tempat ini. Tapi, ketika kami mulai menemukan kehidupan nyaman di tempat ini, itu tak berlangsung lama. Mia malah harus pergi untuk selamanya. Makanya, gue putus asa banget waktu itu, Annisa," jelas Eksa panjang lebar.
__ADS_1
Tanpa direncanakan, Annisa sudah berlinang air mata. Ia merasa sangat sedih mendengar kisah hidup Eksa yang sangat kejam.
"Dan kadang, rasa putus asa itu masih kembali ke dalam diri gue sampai sekarang. Tapi, gue gak pernah kepikiran lagi buat menghabisi diri sendiri," ujar Eksa dengan diakhiri senyuman.
Annisa menggelengkan kepalanya, lalu segera menghapus air mata di pipinya mengguunakan jemarinya dengan kasar. "Lo jangan pernah putus asa lagi. Gue yakin, Mia gak menginginkan itu. Dia ingin kakaknya bahagia menjalani kehidupan berharga ini. Gue yakin, lo bakal melakukan hal hebat suatu hari nanti, Eksa. Gue sangat yakin!" tegas Annisa.
Eksa tersenyum. "Hey! Kenapa lo nangis? Harusnya gue yang nangis, bukan lo!"
Annisa mengangguk dengan air matanya yang tiba-tiba turun lagi. "Boleh gue meluk lo?"
Eksa menghembuskan napasnya panjang, lalu mengangguk mengiyakan permintaan Annisa.
Gadis itu segera merangkul tubuh kecil Eksa. Ia juga mengusap punggung pemuda tersebut dengan penuh peduli. "Lo adalah orang paling kuat yang pernah gue kenal. Gue sangat yakin, ada alasan besar yang menunggu di depan sana, yang membuat lo masih hidup sampai sekarang. Teruslah menjadi orang baik, sampai lo menjadi orang hebat. Jangan pernah menyerah pada kehidupan."
Akhirnya, sebutir air mata jatuh dari kelopak mata milik Eksa, setelah tadi dirinya terus menahan. Sosok Annisa benar-benar mengingatkannya pada mendiang Mia. Jika masih ada di dunia, adiknya itu pasti akan menjadi gadis baik dan cantik seperti Annisa.
"Perkataan lo benar-benar membuat gue lebih baik, Annisa. Terima kasih!" Ucap Eksa saat melepaskan pelukannya dari tubuh Annisa.
"Gue yang terima kasih. Lo mengajarkan pelajaran berharga bagi gue," sela Annisa.
Akhirnya, kedua orang itu menertawakan diri mereka masing-masing karena malah menangis sesenggukan. Padahal, ini adalah pertemuan pertama, tetapi mereka sudah merasa sangat akrab.
"Hey, Eksa! Lo bilang, lo gak pernah lihat jasad Mia, dan hanya mengetahui kuburannya?" tanya Annisa yang tiba-tiba memiliki kecurigaan baru di kepalanya. Bagaimana jika waktu itu, Mia tak benar-benar meninggal, dan malah dijual oleh ayahnya.
Pikiran buruk itu disebabkan oleh rasa benci Annisa pada sang ayah yang selalu bertambah tiap detiknya.
"Ya, kenapa?" tanya Eksa memanggapi pertanyaan Annisa.
__ADS_1
Annisa segera menggelengkan kepala. Ia tak akan menyeret Eksa pada permasalahan hidupnya. Ia tak harus memperkeruh kehidupan pemuda hebat itu dengan sangkaan dan dugaan yang belum tentu kebenarannya.
Namun, Annisa masih tetap akan melanjutkan pencariannya. Ia akan mengungkapkan sosok seperti apa ayahnya. Apakah baik, atau memang jahat?