ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Ulang Tahun Alpenia


__ADS_3

Alpenia yang dikenal sebagai kota gelap, kota sepi, sebantar lagi akan berubah menjadi kota penuh hingar bingar. Karena seluruh penduduk dengan kompak merayakan hari jadi kota yang ke-115. Akan ada acara besar-besaran selama tiga hari ke depan. Kesempatan tersebut digunakan untuk meramaikan, menghibur dan membangkitkan semangat kota dari hal-hal yang membuat kota terpuruk akhir-akhir ini.


Naya dan ibunya duduk di sebuah bangku, memandangi langit warna-warni yang ditimbulkan dari letupan kembang api beraneka ragam. Riuh gemuruh terdengar nyaring di telinga, membuat suasana kian ramai.


Renaldi tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua, membuat pandangan Naya mendongak.


"Seminggu ini tante jarang lihat kamu main ke rumah, Rey," sapa Wina ramah.


Jelaslah tidak, sebab sikap Naya berubah total menjadi sangat canggung setelah menyatakan isi hatinya seminggu lalu. Sungguh sebuah ironi, Naya yang berkeinginan untuk menjaga hubungan persahabatan dengan Renaldi, tetapi dirinya sendiri yang nyatanya membentangkan jarak.


Wina bangkit dari bangku panjang itu, "temanin Naya ya, tante mau ketemu teman-teman tante di sana," pintanya sambil beranjak ke arah kerumunan. Ada teman-teman yang biasa diajak bergosip olehnya ketika bekerja di perkebunan anggur milik keluarga Wijaya.


Renaldi melangkah tanpa ragu, dan terduduk di samping gadis yang detak jantungnya sedang berpacu kencang itu. Keadaan sangat tak bersahabat bagi Naya.


"Sikap lo gak usah jadi dingin gini. Kita kan tetap sahabatan." Renaldi tanpa basa-basi mengatakan kata-kata yang sangat menohok hati Naya.


Gadis itu merasa, dalam hal ini dirinya yang bersalah. Karena terlalu menutup diri ketika mendapat penolakan yang sama sekali tak diharapkannya. Harusnya, ia tak perlu bersikap demikian. Sebab Renaldi pun tak dapat di salahkan, karena hati orang tak dapat pula dipaksakan.


Naya mengulas senyum hambar, "lo tahu, gue juga merasa kita akan bisa bersikap biasa seolah-olah gak terjadi apa-apa. Tapi, perasaan juga butuh ruang dan waktu agar pulih. Gue minta, lo bisa ngerti posisi gue sekarang. Nanti kalau gue udah siap, keadaan kita pasti akan sama seperti dulu."


Renaldi menelan kata-kata itu dengan bijak. Ia mengerti jikalau Naya merasakan sakit. Akhirnya, tangannya menempatkan kepala gadis yang baru saja menjatuhkan air mata itu di pundaknya. Andai saja dirinya mengetahui cara untuk meringankan luka tak terlihat yang tengah dirasakan Naya.


"Hai guys!" Suara cempreng nan lantang dari arah belakang membuat dua muda-mudi itu terhenyak. Intan yang tiba-tiba datang bersama Amora dan Rima di sampingnya ikut terduduk bersama Renaldi dan Naya..


Kenapa lo nangis?" tanya Intan ketika melirik Naya dengan nada bicara ambigu. Khawatir namun seperti mengejek. Maklum, bawaan dari lahir.

__ADS_1


Naya yang sudah khatam dengan sikap Intan hanya menggelengkan kepalanya angkuh, bermaksud becanda.


"Oke kalau gak mau ngasih tahu. Lagipula, gue juga gak penasaran amat kok. Bukan urusan gue juga kan?" ketusnya karena tak mendapat jawaban. Dibalas Naya dengan memutar bola mata.


"Hai kalian!" Annisa yang baru saja tiba bersama Ulfa setelah berkeliling dan mencoba jajanan-jajanan yang tersedia di pesta ini, menyapa dengan penuh semangat.


"Aduh kenyang banget gue," oceh Ulfa sambil memegangi perut buncitnya.


"Ya iyalah, kalau gak kenyang, kebangetan. Udah beli hampir semua jajanan juga!" balas Annisa sambil tertawa.


"Kalian jangan lupa, ya! Pesta ulang tahun gue sebulan lagi," Intan dengan semangat mengingatkan hal yang agaknya sudah diketahui semua orang itu. Dia kan telah menyebar undangannya dari sebulan lalu.


Semua orang yang terlibat perbincangan tak merespons, kecuali Renaldi yang dengan segera menjawab, "iya sayang, kamu mau hadiah apa dari aku?"


"Hey. Akhirnya ketemu kalian, gue dari tadi muter-muter nyariin tau," dengan wajah seperti kelelahan, Iswanti yang baru saja tiba mengambil posisi duduk di samping Naya.


"Gue chat tadi, katanya lo gak mau datang kesini," balas Annisa sambil melipat tangan di depan perut.


Iswanti tak menjawab, dengan semangatnya ia berbicara hal lain, "gue baru aja nyelesai-in baca buku ini." Ia mengangkat sebuah buku yang dipegangnya. Berjudul, "Misteri Kota Hitam."


"Oke. Gak penting banget deh," balas Intan mendelik sebal.


"Dengerin dulu. Menurut penulisnya, buku ini terinspirasi dari kisah nyata. Di sini ditulis tentang penculikan anak-anak yang kerap terjadi di kota ini. Dan yang paling aneh, kejadian aneh yang menimpa kita di hutan juga dialami oleh sekelompok tokoh dalam cerita ini," ungkap Iswanti dengan serius.


"Terus, gimana?" tanya Ulfa langsung bersemangat.

__ADS_1


"Anak-anak yang diculik digambarkan berada di dunia lain, yang dibuat oleh suatu mantra sihir hitam atau jahat. Anak-anak itu disimpan untuk sebuah ritual persembahan kepada iblis. Gue tahu bagi sebagian orang ini mengada-ada. Tapi bagi kita ini bukan, kita lihat sendiri kalau Ulfa dan ibunya mempunyai kekuatan sihir juga, kan?" lanjut Iswanti. Ia tak mengindahkan nada bicaranya, padahal sedang banyak orang di sana.


Masalahnya, Ulfa dan keluarganya menjaga rahasia itu rapat-rapat agar tak diketahui orang banyak. Ia hanya memberitahu pada teman-temannya tersebut.


Semua yang mendengarkan mengerti, dan memercayai hal yang bahkan tak dapat dipastikan kebenarannya. Namun, Ulfa menegur Iswanti agar tak terlalu bersemangat, sehingga tanpa di sadari akan membuka rahasianya nantinya.


Ikbal dan Faisal baru saja ikut bergabung, tapi yang menjadi pusat perhatian Iswanti adalah Salman yang menggandeng seorang gadis dengan mesra.


Kala itu, ketika Salman menyatakan perasaannya, Iswanti telah mengetahui bahwa Salman hanya mencoba mengacaukan dirinya. Buktinya sekarang, cowok itu malah bersama orang lain. Padahal, ia menyukai Salman sebenarnya, sayang sekali sikap Salman yang susah ditebak membuatnya takut untuk mencoba membuka hati.


"Kalian ngapain disini? Ayo kita ikut pawai obor!" Faisal dengan penuh semangat mengajak mereka yang tengah duduk santai, tak lupa dengan bermain mata kepada Naya.


"Apaan sih, gak mau ah, nanti pegel kaki gue. Desak-desakan, terus panas, gak banget deh," oceh Intan seperti biasa.


Mereka yang terduduk di bangku panjang mulai bangkit dari berdiri, siap mengikuti acara yang sepertinya akan sangat menarik dan menyenangkan.


"Ya udah kalau gak mau ikut," cibir Naya pada Intan.


Intan membalas Naya dengan kerlingan mata, tetapi akhirnya ikut bangkit juga, setelah Amora dan Rima memilih ikut serta.


Kota gelap itu sekarang dipenuhi cahaya oranye hampir di sepanjang jalan raya. Keramaian dan kehangatan tercipta di malam yang dingin ini.


"Gimana intan? Gak nyesel kan ikut?" Annisa membalikan tubuhnya untuk mengejek Intan yang berjalan di belakangnya sambil mengeluh karena sepatu hak-nya yang terlalu tinggi.


Namun, perhatian Annisa teralihkan ketika mendapati seorang pria yang selama ini ia cari. Pria yang tempo hari berpapasan dengannya didepan elevator, sambil menggendong Desi yang sedang terlelap. Akhirnya, salah satu penculik terlihat juga!

__ADS_1


__ADS_2