ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Kehebohan Dan Tanda Tanya


__ADS_3

Iswanti yang sudah membaca beratus kali sejarah tentang kota ini, tak perlu pusing lagi untuk menulis esainya. Hal tersebut sudah ia hafal di luar kepala.


Selembar kertas telah terpenuhi dengan tulisan tangannya yang rapih. Sebentar lagi, tugasnya pasti beres.


Tiba-tiba pemuda jahil yang sering mengganggunya menghampiri. Disangkanya akan merundung lagi, namun perkiraannya kali ini salah. Seorang Salman Darmawan tiba-tiba menyapa hangat.


"Boleh duduk di sini?"


Gadis berkacamata itu tak menjawab. Dan, Salman tiba-tiba duduk disampingnya tanpa ijin. Menciptakan jarak yang begitu dekat, tak lebih dari sejengkal.


"Wah, esai lo udah panjang ya?" ucap Salman berbasa-basi.


Iswanti menyadari sesuatu. Pasti pemuda menyebalkan itu ingin meminta bantuan darinya. Sifat manusia kadang aneh. Ketika membutuhkan, orang-orang akan menjadi sebaik malaikat. Dan saat kebutuhannya terpenuhi, mereka akan kembali ke sifat asalnya, yang tak jarang lebih buruk dari hewan.


Iswanti tetap memilih diam. Meneruskan tulisannya yang dirasa masih kurang.


Salman mencuri-curi pandang tulisan gadis itu menggunakan pinggir matanya.


Iswanti yang menyadari hal tersebut tak tinggal diam. Ia langsung menutup kertas itu dengan kedua telapak tangannya.


Salman merasa bingung. Bagaimana ia akan menyelesaikan tugas ini, kemampuan menulisnya benar-benar buruk. Ditambah lagi, sekarang ia dipinta untuk mengomentari sejarah. Makin runyamlah isi kepala.


Gadis yang hendak dimintai bantuan, sepertinya tak akan bersedia. Salman mengetahui, Iswanti sama sekali tak bersalah jika tak ingin menolong.


Pemuda itu pun tersadar. Ia seharusnya dapat bertingkah lebih baik kepada orang lain. Agar ketika membutuhkan pertolongan, akan ada orang yang sudi mengulurkan tangan. Sekarang, dia sendiri yang susah, karena semua orang telah memalingkan wajah.


Salman akhirnya pergi dengan hasil nihil.


Sedangkan Iswanti menatap mimik muka pemuda itu yang sedikit murung.


Ada sedikit rasa bersalah di hatinya, karena telah mengabaikan Salman. Namun, Iswanti hanya manusia biasa. Ingin membalas untuk meringankan rasa sakit, wajar kan?


***


Ulfa dan Annisa terlihat kompak, menulis di kertas yang berbeda namun menatap buku paket yang sama.


Renaldi yang duduk berhadapan dengan mereka sesekali memerhatikan, karena tak jarang gadis-gadis itu tertawa kecil ketika membaca.


Sedikit aneh memang, sejak kapan pelajaran sejarah ada humornya? Tapi, itulah intinya. Hal kecil saja, jika dilakukan bersama teman, akan memiliki kesan lebih menyenangkan.


Intan dan Ikbal duduk bersebelahan, berpunggungan dengan Renaldi. Mereka berdua juga terlihat rukun dan bahagia.


"Aduh .. Ini guru nyusahin banget deh!" protes Intan yang kewalahan membuka-buka halaman buku di depannya. "Ini buku tebal banget!"


"Sabar!" ucap Renaldi tanpa melihat Intan.


"Gue gak butuh saran dari lo!" sahut Intan bernada sebal, "kerjain urusan lo sendiri!"


Renaldi menaikan alis. Merasa aneh. Kemana Intan yang kemarin sore? Sekarang, gadis itu sepertinya sudah kembali ke mode pabrik.

__ADS_1


"Oke," balas Renaldi, lalu meneruskan tulisannya.


***


Ikbal yang dari tadi mendengarkan, ternyata mulai risih karena Annisa dan Ulfa yang terlalu sering tertawa kecil. Ia pun meradang, dan menegur mereka dengan wajah tak berekspresi.


"Bisa diam gak?!" Ikbal membalikkan badan, menatap dua gadis itu yang langsung berhenti tertawa.


Annisa menatapnya sekejap, lalu menutup mulutnya rapat-rapat. Menuruti kemauan si pria panas dingin. Panas karena cepat marah, dingin karena memang wajahnya yang kadang tak berekspresi.


Annisa yang mencoba untuk bertahan, dalam kurun waktu dua menit kemudian, tawa kecilnya kembali hadir.


"Ini perpustakaan, bukan panggung lawak. Bisa diam gak sih lo?!" tegur Ikbal lagi. Kali ini tanpa membalikkan wajah, namun dengan nada bicara sedikit meninggi.


Annisa mengakui dirinya bersalah. Tapi seingatnya, ia hanya tertawa pelan. Apakah perbuatannya itu dapat sangat mengganggu Ikbal?


"Oke Annisa. Diam!" tanamnya dalam hati.


Annisa dan Ulfa melanjutkan, kali ini membaca dalam hati. Tapi ketika menemukan kata yang aneh dan lucu, mereka saling menatap, dan menahan tawa.


Berkali-kali seperti itu, sampai akhirnya mereka tak dapat lagi menahannya. Spontan, memuncratkan semua tawa yang tertahan tadi. Kali ini dengan keras, sampai semua siswa-siswi yang berada di ruangan terheran-heran.


Tanpa basa-basi lagi, Ikbal langsung menghadap mereka, membawa semua amarah yang siap ditumpahkan dengan cercaan dan racauan tak jelas.


"Gue bilang diam, ya diam!" ujarnya memelototi Annisa dan Ulfa.


"Pengacau!" ketus Ikbal sambil membalik badan.


"Permisi! Gue baru bisik-bisik ketawa aja, lo bilang pengacau? Bayangin sebutan buat lo yang selalu gangguin dan ngericuhin hidup orang lain!" balas Annisa tak terima.


Ikbal menghentikan langkah, kembali menatap Annisa penuh kesal.


Annisa pun tak kalah percaya diri, menengadahkan wajah supaya dapat melihat mata pria menyebalkan itu.


Renaldi akhirnya berdiri untuk menengahi, tak ingin terjadi keributan lagi. "Udah, udah, jangan berantem!"


Dan tiba-tiba, suasana kacau yang sebenarnya terjadi ketika tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya di luar ruangan. Lalu, Iswanti memekik sangat kencang. Tubuhnya melayang, dan matanya juga memutih semua. Kejadian persis seminggu lalu, kembali terulang.


"Seriusan dia kesurupan lagi?" umpat Intan masih sempat-sempatnya mengerlingkan mata sebal, meskipun dengan sedikit rasa takut.


"Ayo keluar!" Ikbal menarik saudari kembarnya itu keluar ruangan. Bersamaan dengan semua orang yang berhamburan, tak peduli jika harus menerjang hujan.


Annisa mengajak Ulfa untuk keluar, namun lagi-lagi Ulfa terjebak oleh kursi. Masalah berat badan.


Buku-buku berterbangan dari raknya. Dan entah bagaimana, sepertinya Iswanti yang mengendalikan. Tak hanya itu, ia juga membanting pintu hanya dengan menggerakkan tangannya tanpa menyentuh, bak memiliki kekuatan telekinetik.


Annisa berhasil mengeluarkan Ulfa yang terjebak. Namun sudah terlambat, pintu telah tertutup rapat. Mereka pun bersembunyi di sela-sela rak buku yang sudah kacau balau.


Tak lama, Iswanti mengetahui keberadaan Annisa dan Ulfa yang ketakutan. Ia pun menghampiri kedua gadis itu.

__ADS_1


"Iswanti. Sadar!" teriak Annisa dengan badan yang gemetar mendengar Iswanti yang terkikik. Dengan mulut yang bergerak, mengatakan hal aneh. Seperti membaca mantra.


Namun, Iswanti malah bertindak semakin jauh. Ia mementalkan tubuh Annisa jauh sampai jatuh ke lantai dengan kekuatan tak kasat mata. Memisahkannya dari Ulfa.


Ulfa kembali menangis, ingin membantu Annisa yang sudah tak sadarkan diri. Namun tubuhnya seolah membeku. Tak dapat digerakkan sedikitpun.


Iswanti kian mendekat. Dengan seringaian di wajah seramnya, yang membuat gadis gemuk itu merinding setengah mati.


"Aahhh," teriak Ulfa dengan suara bulatnya.


Iswanti menggerayangi tubuh Ulfa, tak lupa dengan menampilkan senyum lebar dan meringkik semakin nyaring.


Kejadiannya persis seperti minggu lalu. Ia tak menyakiti Ulfa secara fisik sedikitpun. Namun, kali ini, Iswanti membisikkan sesuatu. "Bersiap-siaplah dengan yang akan datang!" Suara serak mirip wanita tua itu memenuhi gendang telinga Ulfa.


Hanya dengan membisikan kata-kata tersebut, arwah yang menempel di tubuh Iswanti, tiba-tiba terlepas begitu saja, menguar ke udara. Sedangkan Iswanti terjatuh ke lantai dari ketinggian satu meter.


Ulfa yang setengah ketakutan, mencoba membangunkan Annisa. Karena ia masih tak berani menyentuh Iswanti yang sama tak tersadar.


"Annisa, bangun!" Ujar Ulfa sambil mengguncangkan tubuh temannya itu.


Dan setelah beberapa goncangan, Annisa pun tersadar sambil memegangi kepalanya yang terasa pengar. Ia pun menatap Iswanti yang terkapar di lantai tak jauh di sana. Lalu bertanya pada Ulfa.


"Dia udah gak apa-apa?"


Ulfa menggelengkan kepala, tanda tak tahu. "Ayo kita keluar!" ujarnya masih gemetar.


"Tunggu. Kita bangunin dulu Iswanti!" ucap Annisa bangkit dengan rasa lemas di lututnya, menghampiri Iswanti yang masih tak sadarkan diri.


"Hey. Hey. Bangun!" ujar Annisa memberanikan diri, berbeda dengan Ulfa yang berdiri sedikit jauh disana. Takut Iswanti masih bukan Iswanti yang sebenarnya.


Terlihat sorot mata yang terpancar melalui kacamata yang dipakainya. Warna mata Iswanti telah kembali. Tak seperti tadi, putih semua.


Annisa membangkitkannya dengan mengalungkan tangan gadis itu di pundak. Karena Iswanti masih tak mampu berdiri sendiri.


Melihat kedua sahabatnya membutuhkan bantuan. Dan merasa suasana mulai normal, Ulfa akhirnya membantu, memapah Iswanti yang lunglai tak berdaya.


Ia berkecamuk, memikirkan perkataan arwah yang merasuki Iswanti tadi.


"Apa maksudnya?"


"Apa yang akan datang?"


"Kenapa hanya dirinya yang diberi pesan?"


"Kenapa bukan Annisa yang juga berada di ruangan sama?"


"Dan kenapa arwah itu seperti tak berani menyakitinya? Sedangkan kepada Annisa, dengan mudahnya tanpa aba-aba. "


Semua pertanyaan itu menggunung di dalam kepala Ulfa.

__ADS_1


__ADS_2