ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Sebuah Kebetulan Menyeramkan


__ADS_3

“Intan, mama kira kamu pergi keluar, main sama Amora dan Rima,” ujar Cantika saat menghampiri putrinya.


Intan menangkap ekspresi aneh dari wajah ibunya. Ia melihat wanita di depannya itu sedikit terkejut ketika melihatnya.


“Ada apa ma, kenapa ayahnya Renaldi berduaan sama mama di ruang kerja papa?” Tanya Intan penuh curiga. Menurutnya, bukan hal benar jika dua orang yang tak seharusnya berduaan, berada dalam ruangan yang tertutup.


Cantika kelabakan, tak tahu harus menjawab apa, “anu, dia- itu, mau minjam uang, katanya buat bayar sekolah anaknya." Bibirnya gelagapan dalam memberikan jawaban.


Intan mengerutkan dahi, ia tak memercayai perkataan ibunya. Pasalnya, ibunya tersebut tak pernah ragu dalam berbicara, dan kali ini jelas berbeda. Pasti ada yang tak beres. “Jangan bohong!” cetusnya yang memang selalu berterus terang.


“Siapa yang bohong? Ingatlah kalau kecurigaan kamu itu pernah membuat hubungan kita renggang. Hentikan interogasi ini!” Tegas Cantika sambil mengangkat kaki dan beranjak pergi, meninggalkan anaknya dengan pertanyaan serius.


Hal itu sangat mengganggu pikiran Intan. Ia merasa ingin memberitahukan seseorang tentang kecurigaannya ini. Dan yang muncul di pikirannya adalah Renaldi.


***


Sudah setengah jam Naya memandangi air tenang yang menghampar luas di hadapannya. Ia bahkan hampir terlupa bahwa jam kerjanya masih panjang, jikalau dirinya tak melihat pria yang berdiri sedikit jauh dari tempatnya saat ini.


Entah sejak kapan pria itu berdiri disana. Sangking tenggelamnya dalam lamunan dan kesedihan, Naya jadi tak menyadari ada seseorang yang mungkin memerhatikannya termangu dari tadi.


Namun, gadis itu pun terheran. Mengapa pria itu malah berdiri di samping dan melamun, bukannya bekerja. Bahkan, pria itu telah bolos dari dua hari yang lalu.


Sungguh aneh, Naya mengetahui bahwa pria bernama Sandi itu sedikit konyol. Tapi dirinya tak menyangka jika pria berusia dua puluh tahun itu melakukan hal yang dapat membuat dirinya sendiri kehilangan pekerjaan satu-satunya. Padahal, Sandi pernah berkata pada Naya kalau dirinya memiliki seorang adik yang sedang sakit tifus.


Naya berjalan menghampiri pria bertubuh tinggi kurus itu, disapanya dengan tepukan di pundak. “Bang! kenapa gak kerja? Udah dua hari lo gak masuk," tanyanya ceria, seolah telah melupakan kesedihan yang melanda hatinya selama beberapa saat tadi.


Sandi nampak terkejut mendapati Naya berdiri di sampingnya. "Kenapa lo disini? Gak kerja?” Ia malah menjawab pertanyaan Naya dengan pertanyaan pula. Ia merasa sedikit aneh ketika melihat Naya mengenakan seragam kerja, tapi malah nongkrong di danau.


Naya mengerlingkan matanya sebal, “gimana kabar adik lo?” tanyanya mengubah topik.


“Masih sama, belum membaik,” terang Sandi sambil mengembuskan napas panjang. Terlihat wajah sedih yang berusaha ditutupinya.


Naya yang menyadari raut wajah Sandi, lantas menepuk-nepuk pundak pria itu mencoba menguatkan. Meskipun, ia sudah mengetahui bahwa Sandi adalah orang yang sangat kuat.


Buktinya, pria itu rela putus sekolah ketika masih duduk di kelas sepuluh, setelah ayahnya meninggal dunia. Dan dirinya mulai menjadi tulang punggung keluarga. Ibu Sandi juga hanya seorang penjahit yang jarang menerima pesanan dari pelanggan, karena sering sakit-sakitan.


Naya mengetahui cerita tersebut karena Sandi sendiri yang memberitahunya.

__ADS_1


Kedua insan itu terdiam untuk sejenak, kompak menatap air yang mulai terlihat sedikit berwarna jingga, sebab matahari sebentar lagi akan tenggelam.


“Nay! Menurut lo, kalau melakukan hal baik dengan cara yang buruk salah gak sih?” Tiba-tiba, Sandi melontarkan pertanyaan tersebut.


Naya berjengit heran, sangat jarang Sandi bicara padanya tentang hal serius. “Kalau menurut gue salah, bang! Ibaratkan hal kecil, misal lo makan jeruk, tapi gak dikupas kulitnya. Meskipun akan terasa manisnya, tapi rasa pahit dari kulitnya itu pasti ngebuat lo gak nyaman,” terang Naya membuat Sandi terkekeh kecil.


“Siapa juga yang makan jeruk sama kulitnya?” Sandi tak berheni tertawa.


“Maka dari itu, jangan menempuh cara buruk untuk mencapai hal yang baik. Gak peduli seberapa baik pun hal tersebut, pasti akan ada hal terasa yang salah,” sambung Naya.


Tawa Sandi terehenti seketika. Wajahnya bahkam terlihat menekuk setelah mulutnya diam tak bersuara.


Mengerti ada yang tak benar, Naya pun kembali bertanya, “Ada masalah apa sih, bang? Pakai bicarain hal kayak barusan?”


Samdi terdiam beberapa detik. Ia memiliki hal yang sangat mengganggu pikirannya. Namun, dirinya tak yakin akan menempuh langkah benar jika memberitahukan hal tersebut pada gadis yang sudah ia anggap sebagai saudarinya sendiri itu.


***


Keadaan menjadi sangat canggung antara Salman dan Iswanti.


Salman yang menurut Iswanti bersikap ambiugu. Karena saat bersama ibunya pemuda tersebut sangat bersemangat menggodanya, dan sekarang saat mereka berdua, Salman malah bersikap sangat dingin.


Dalam keheningan, Iswanti mendapatkan hal yang mungkin akan menjadi penyebab kesunyian ini pergi. Dilihatnya Helen bersama ibu dan ayah tirinya sedang memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi mobil.


“Helen mau kemana?”Gadis bertubuh langsing itu membuka mulut.


Dijawab cepat oleh pemuda yang tak kentara betapa senangnya mendapat pertanyaan tersebut. Tandanya Iswanti tak marah padanya.


“Hari ini dia mau pindah,” jawab Salman tenang.


“Kemana?”


“Belisia.”


Iswanti mengernyitkan dahi. Ia menerka-nerka bagaimana perasan Helen saat ini, mengingat gadis itu baru saja kehilangan ayah kandungnya, dan ikut menguburkan jasad sang ayah di Belisia. Sungguh menyedihkan. Semoga Helen baik-baik saja.


Melihat iswanti yang melamun untuk beberapa saat, Salman pun menjentikan jari beberapa kali tepat di depan wajah gadis itu, mencoba menyadarkanya. "Hei!"

__ADS_1


“Ibunya Helen belum tahu kalau—“


“Enggak!” Salman memotong ucpan Iswanti.


Iswanti baru saja ingin menanyakan apakah Helen sudah memberitahu ibunya tentang kematian ayahnya yang tragis.


Gadis bertubuh tinggi yang sedang berbenah itu menghampiri Salman dan Iswanti dengan senyum ceria. Namun, nampak sekali kesedihan yang berusaha disembunyikannya. Ia pun langsung memeluk Iswanti dengan erat. "Gue pergi dulu ya kak, jagain kak Salman.”


Iswanti mengangguk setelah Helen melepaskan tangan dari pundaknya, “lo baik-baik ya, di sana!"


Iswanti sangat berharap Helen tak akan mendapatkan masalah seberat kemarin dan hidup dengan damai.


Helen berpindah memeluk sepupunya, “jangan gatal-gatal sama cewek lain, jagain kak Iswanti,” ujarnya sambil terkekeh geli.


Salman membalas ejekan itu dengan toyoran di kepala Helen. “Gue lebih gede dari lo, harusnya gue yang nasehatin!”


Helen mencebikan bibir, sebelum akhirnya berbisik tepat di telinga Salman, “perjuangin sampai dapat!”


Salman tersenyum sumringah, dan mengatakan, “pasti!”


Helen siap berpindah, melanjutkan hidup dan keluar dari kota yang telah menorehkan luka cukup dalam di hati dan ingatannya. Tempat dimana ia melihat dengan matanya sendiri ketika sang ayah di tembak mati di hadapannya. Meskipun ia merasa, bahwa tempat yang akan dituju tidaklah lebih baik dari kota ini.


***


Naya masih menunggu sandi untuk membuka mulut, pria itu menggantungkan ucapannya sejak tadi.


“Ada yang nawarin gue kerjaan, anonymous gitu, buat melakukan penculikan anak,” terang Sandi.


Naya memelototkan matanya karena terkejut. Sungguh sebuah kebetulan yang mengerikan. Ia dan kawan-kawannya sedang menyelidiki kasus penculikan. Apakah tawaran yang datang kepada Sandi, datang dari dalang yang sama?


“Bayarannya lumayan besar, cukup untuk membaayar pengobatan ibu dan adik gue--,”


“Gak! Lo gak boleh melakukan itu. Salah besar kalau lo sampai tega jadi penculik anak," potong Naya dengan segera.


Sandi mengangguk paham. Lagipula, ia memang tak tega melakukan tindak kriminal tersebut.


Namun, di sisi lain Naya mempunyai ide yang baru saja muncul di kepalanya. Sedikit gila dan berbahaya.

__ADS_1


“Tapi, mungkin lo harus melakukannya!”


__ADS_2