
Dalam suasana penuh ketegangan, sekelompok remaja itu membawa jenazah ayah Helen ke rumah sakit setelah ablulans yang dihubungi sampai di tempat kejadian perkara. Tak ada tujuan lain, mereka tak mungkin membawa jenazah itu pulang ke rumah Helen. Ibunya mungkin saja akan marah, karena hubungan antar keduanya tak pernah baik-baik saja setelah resmi bercerai.
Dalam keadaan terguncang, Helen sedikit meratapi nasibnya. Selama tiga tahun terakhir, ia tak pernah bertemu dengan sang ayah. Karena keretakan dan kerenggangan yang terjadi, ayahnya tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya, bak hilang ditelan bumi. Namun mengapa ketika kerinduannya terobati, harus bersamaan dengan duka yang menyelimuti? Helen benar-benar merasa sakit.
***
Dalam waktu setengah jam, mereka telah sampai di tujuan. Semuanya menyaksikan jenazah itu dibawa ke kamar mayat.
"Helen. Gue turut berduka cita," lirih Intan menyampaikan belasungkawanya.
Salman dengan segera menyela ucapan itu, "kalian tahu. Kita berduka bukan untuk kematiannya, tapi karena kita kehilangan petunjuk yang bisa kita koreh dari dia."
Helen mengerjap kaget, mendapati seorang yang ia sangka akan memberinya dukungan dan semangat, malah sama sekali tak memedulikan ayahnya. Tega sekali abang sepupunya berkata demikian.
Dengan ragu, Iswanti menyentuh bahu Salman, memberi kode agar tak berkata keterlaluam. Pemuda itu harusnya memikirkan perasaan Helen yang sedang hancur.
Setelah beberapa saat menunggu dalam keheningan untuk menguatkan hatinya, tiba-tiba Helen mengangkat suara. Ia sadar bahwa orang-orang yang tengah menemaninya ini membutuhkan informasi tentang penculik itu, meskipun hanya sedikit. "Tiga tahun lalu, ayah dan ibu bercerai. mereka bertengkar hebat setelah ibu tahu kalau ayah udah nikah siri sama selingkuhannya."
"Dan mungkin ini semua karmanya. Bukan aja selingkuh, tapi dia suka KDRT juga sama tante," celetukan Salman itu membuat Helen makin bersedih.
Namun, Helen adalah gadis yang kua. Ia tak akan memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang lain.
"Kita mendapatkan petunjuk. Kita akan menanyakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ini pada ibu tiri lo. Mungkin dia tahu sesuatu. Karena gak mungkin kan ibu kandung lo tahu tentang hal-hal penculikan ini?" cerocos Intan mengangkap maksud Helen yang menceritakan tentang pengkhianatan ayahnya.
"Seharusnya kita telepon dulu istrinya, beri kabar kalau suaminya meninggal," saran Faisal.
"Itu masalahnya. Kita gak punya nomornya, dan ayahnya Helen kayaknya tadi gak bawa HP deh," sahut Renaldi bingung.
"Tunggu. Apa dia tinggal di kota ini? Soalnya jujur, gue aja baru pertama kali lihat paman lo di sini. Mukanya terlihat asing, makanya tadi gue mukulin dia, karena gue gak kenal," tanya Ikbal pada Salman.
__ADS_1
"Gak, dia pindah ke Belisia. Sorry Helen, gue pernah kesana tahun lalu tapi gak pernah ngasih tahu lo, karena dia bukan pria yang baik," jawab Salman menyebutkan kota besar di negara Antartina yang mana kota itu adalah kota tetangga Alpenia. Ia berusaha menenangkan Helen agar tak bereaksi berlebihan. Karena, ketika gadis itu kebingungan dan tak pernah mengetahui keberadaan ayahnya, rupanya Salman mengetahui dan tak memberitahunya.
"Bagus, seenggaknya pekerjaan kita akan lebih mudah ketika ada orang yang pernah tinggal di sana," Annisa menimbrung, "gue udah tahu seluk-beluk kota itu." Ia memang pindahan dari kota Belisia.
"Iyalah. Muter-muter kota adalah sebagian kecil dari kegiatan seorang anak manja yang suka foya-foya pakai uang haram sang ayah," ketus Naya sambil memutar bola mata. Rupanya, ia masih memiliki kekesalan kepada Annisa.
Annisa hanya terdiam, apakah ia salah bicara? Sedangkan Renaldi berusaha menenangkan Naya yang akhir-akhir ini memiliki emosi tak stabil.
"Sekarang, ayo kita pulang!" Salman meraih tangan Helen, tak mau berlama-lama di sini. Ia benar-benar tak menyukai pamannya.
"Tapi--," Helen mencoba membantah, tetapi tubuhnya diseret paksa oleh sepupunya itu.
Semua orang mengikuti dengan terheran-heran. Seperah itukah kebencian Salman pada pamannya?Sehingga di dada pemuda ituk tak ada rasa simpati sedikitpun, bahkan hanya untuk berbasa-basi pada Helen.
***
Tak ingin membuang waktu, keesokan paginya, Helen dan kawan-kawannya melancarkan niat mereka untuk menyambangi rumah ayahnya di Belisia.
Meskipun dengan sukarela meminjamkan dan sebenarnya idenya pula yang menyarankan untuk memakai Van milik keluarganya, Intan dengan sikap kekanakannya sangat menyebalkan selama perjalanalnn. Alasannya karena dekengan sejatinya, Amora dan Rima tak ikut dalam perjalanan tersebut.
Setelah tiga jam berlalu dengan ocehan Intan yang tak ada habisnya, mereka akhirnya tiba di alamat yang dituju dengan bimbingan dari ingatan Salman yang samar-samar. Terlihat sebuah rumah sederhana dengan taman bunga di depannya sangat asri. Entah suasana itu masih akan bertahan ketika mereka memberikan informasi yang mencengangkan kemudian pada si pemilik rumah.
Salman dan Helen memimpin untuk mengetuk pintu.
Tak lama, seorang wanita yang berjalan dibantu dengan tongkat yang diapit di kedua ketiaknya, menyunggingkan bibir ketika membuka pintu, "iya, ada apa?"
Helen menatap wanita itu datar. Pasalnya semalam, ia berniat untuk melabrak wanita yang telah membuat ayahnya jauh darinya selama ini. Namun melihat keadaan wanita itu yang mengkhawatirkan, ia hanya dapat terdiam.
"Eh. Kamu anaknya mas Ardi? Helen?" wanita itu makin menunjukkan keramah-tamahannya setelah mengerutkan dahi untuk beberapa detik. Wajah yang awalnya berseri, tiba-tiba sedikit redup ketika melihat mobil jenazah yang baru saja terparkir di depan halaman rumahnya.
__ADS_1
"Ayo silahkan masuk!" pintanya masih tak menyadari bahwa mobil yang baru saja tiba di tempatnya itu membawa jenazah sang suami di dalamnya.
Helen tak melenggang masuk, ia malah menghembuskan napasnya panjang, "itu ayah. Dia udah gak ada, kemarin kena tembakan di kepala," jelas Helen dengan tatapan dinginnya.
Bola mata wanita bernama Risma itu tiba-tiba membesar, kaget tentunya mendapatkan kabar demikian, meskipun ia belum memercayai, "gak mungkin, kemarin dia bilang, dia mau ke Alpenia bertemu kamu, Helen. Dia sadar selama ini telah salah karena menelantarkan putri satu-satunya, gak mungkin ini terjadi," sangkalnya sambil menggelengkan kepala tak terima.
Akhirnya, Helen pun tak dapat menahan air matanya lagi ketika mendengar bahwa rencana almarhum sang ayah sebelum meninggal adalah untuk berubah menyayanginya lagi. Namun, kekejaman waktulah tak memberi ayahnya kesempatan lebih lama.
Dengan tongkatnya, Risma menangis tersedu dan berjalan tergopoh-gopoh menghampiri sang suami yang sudah tak bernapas lagi, hendak diturunkan oleh petugas rumah sakit menggunakan brankar.
***
Hari telah sore, suasana haru masih kental setelah jenazah dikebumikan. Helen dengan dewasanya berbaikan dengan ibu tiri yang selama ini ia anggap wanita jahat.
Namun, setelah banyak bercerita, Helen menyadari jika kepergian ayahnya di masa lalu, ternyata bukan salah wanita itu sepenuhnya.
Risma menjelaskan bahwa tiga tahun lalu, Ardi datang melamarnya mengaku sebagai seorang duda. Dan setahun terakhir, Risma baru mengetahui kebenarannya, bahwa Ardi mafsih berstatus sebagai suami orang ketika menikahinya.
Sikap Ardi pada Risma sangatlah baik dan nyaris tak pernah menyakitinya, membuat Risma memaafkan kebohongan sang suami saat itu. Dengan senyumannya, Risma menceritakan sikap manis almarhum suaminya itu ketika hidup.
"Beneran kita mau dengerin wanita ini curhat terus?" bisik Intan pada Annisa, kesal karena sudah terhitung sejam lebih, Risma berbicara mengenai almarhum suaminya.
Lantas, Annisa mencubit lengan Intan, memberi isyarat agar mengerti. Mungkin itulah cara Risma mengobati duka citanya.
Intan pun hanya mendengus kesal.
Namun, tujuan awal mereka kesini bukan untuk hal itu, Salman dengan beraninya mengatakan, "permisi, apakah anda tak penasaran dengan apa yang menimpa suami Anda?" ujarnya sedikit ketus pada Risma.
Senyuman itu memudar, ingatan akan suaminya yang meninggal dengan tragis membuat pikirannya kembali kacau. Risma hanya termangu dan tak menjawab pertanyaan Salman itu.
__ADS_1
"Tante. Kita kesini ingin berbicara pada Tante mengenai--," tak seperti biasanya, Naya tak berani untuk melanjutkan perkataannya.
"Suami tante adalah penculik anak," sambung Intan tanpa ragu.