
Naya menutupi lutut berdarah Faisal menggunakan kedua telapak tangannya. Masih dengan tangisnya, ia merasakan ada perpindahan energi yang merambat dari luka itu, seperti rasa sakit kecil yang menyelusup kulitnya.
Faisal yang masih bingung dengan apa yang baru saja disaksikan matanya, hanya dapat melihat Naya yang menurutnya sedang membuat keanehan lagi. Lukanya tiba-tiba mengering, dan tak mengeluarkan darah lagi. Seolah darah yang timbul tadi tak pernah ada.
"Lo pasti takut sama gue sekarang," ujar Naya dengan tatapan penuh sembilunya.
Faisal tak dapat membohongi dirinya sendiri. Ia memang sedikit paranoid dengan perbuatan Naya yang diluar nalar itu. Namun, ia tak akan mengatakan hal tersebut pada Naya secara langsung, agar gadis itu tak bertambah sedih.
"Makasih," sahut Faisal dibarengi senyuman.
Naya sempat diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali melontarkan pertanyaan kepada Faisal. "Kemana aja lo selama empat hari terakhir? Kenapa lo menghilang?"
"Bukannya itu yang lo mau?" jawab Faisal membalikkan pertanyaan.
"Hah? Kapan gue bilang begitu?" Naya menerka-nerka jika perbincangan terakhirnya dengan Faisal, membuat cowok itu salah sangka. Ia memang ingin Faisal menjauhinya demi kebaikan bagi setiap orang terdekatnya, tapi bukan berarti pemuda itu harus menghilang dan membuatnya khawatir.
"Gue becanda Nay!" jawab Faisal diiringi tawa canggung.
"Terus, kemana aja lo?"
"Gue melakukan sesuatu yang sangat bodoh, Nay. Karena gak mau kepikiran sama lo terus, makanya gue kabur dari rumah buat nenangin diri dulu sebentar. Gue ke Hexia dan malah gabung sama geng motor preman-preman tadi," jelas Faisal.
Naya mengernyit. "Demi menghindari masalah kecil, lo malah terjerumus ke masalah yang lebih besar."
"Ya, gue tau," jawab Faisal langsung menundukan kepala, tak kuasa menatap mata Naya yang selalu memaksanya untuk semakin jatuh cinta.
"Apa yang lo lakuin sampai preman-preman itu marah kayak tadi?"
__ADS_1
Faisal menghembuskan napas panjang. "Mereka benar-benar gak baik. Dan, gue baru sadar itu. Ternyata, mereka pengedar obat-obatan terlarang. Jadi, gue laporin mereka ke polisi. Tapi, saat polisi datang menggeledah markas, mereka udah nyembunyiin semua bukti bisnis haram itu. Gak tahu dimana"
"Aneh banget. Kenapa bisa gitu? Lo lapor polisi diam-diam, kan? Gak terang-terangan sampai bisa mereka tau, dan bisa mempersiapkan diri untuk menyembunyikan bukti perbuatan jahat mereka?" tanya Naya sedikit terheran.
"Jelaslah! Mana mungkin gue umumin ke mereka kalau gue mau lapor polisi. Pikiran lo yang aneh sekarang, Nay," sangkal Faisal. "Tapi, siapa yang tau, mungkin salah satu dari mereka berhasil buntutin gue saat mengendap-endap ke kantor polisi," tukasnya sambil mengangkat bahu.
Naya akhirnya mengangguk paham. "Makanya, jangan suka aneh-aneh!"
"Kalau gue gak alihin diri gue buat suka ngelakuin hal aneh, pasti pikiran gue sukanya terus mikirin lo, Nay!" kilah Faisal.
Naya tersenyum sejenak. Ia menyadari, gombalan Faisal ternyata cukup dirindukannya. Sebelum akhirnya, gadis itu kembali menjadi dirinya sendiri, berpura-pura ingin muntah setelah mendengar ucapan Faisal yang cukup menggelikan.
Faisal tertawa melihat Naya yang perlahan telah melupakan tangisnya. Ia senang melihat gadis itu menjadi galak sekalipun, daripada melihatnya menangis.
"Gue serius, Faisal. Jangan coba-coba lagi kabur dan melakukan hal yang gak berguna. Pikirin perasaan orang-orang yang peduli sama lo!" ujar Naya.
Faisal menaikan sebelah alisnya. "Emang siapa yang peduli sama gue?" tanyanya berusaha memancing Naya mengeluarkan jawaban yang ingin didengarnya. Ia kira, Naya mulai memedulikannya.
"Terus, siapa lagi?" tanya Faisal masih belum puas dengan jawaban yang keluar dari mulut Naya.
"Ikbal sama Salman. Mereka kan sahabat karib lo," jawab Naya lagi dengan mengedarkan pandangannya. Mengapa ia merasa sedikit gugup dengan tatapan Faisal yang begitu lekat ke arahnya?
"Terus?"
"Udah. Cuma ketiga orang itu. Lagipula, lo gak sespesial itu sampai semua orang harus peduli dan khawatir sama lo," ketus Naya kembali membohongi diri sendiri.
"Masa? Terus, cewek yang bilang udah mulai sayang gue beberapa hari lalu, gak peduli dan khawatirin gue selama gak ada?" sarkas Faisal mengarah pada ucapan Naya yang begitu membekas di ingatannya.
__ADS_1
Naya hanya dapat menepuk dahi. Ia yakin, Faisal tak akan puas sebelum mendapatkan jawaban yang diinginkan. Tapi, dirinya tak akan menyerah mempertahankan gengsinya yang begitu tinggi. "Gue dalam tekanan hati waktu itu. Makanya bicara ngelantur. Gue gak sayang sama lo!"
"Gue gak percaya," sela Faisal.
"Gue gak peduli lo percaya atau enggak," sambung Naya.
"Terus, warna wajah lo sekarang, maksudnya apa?" Desak Faisal yang makin merasa gemas melihat wajah Naya yang mulai merona.
Naya segera meraba pipinya sendiri. Sial. Dirinya merasakan pipinya hangat, bahkan sedikit lagi memanas. "Gue kepanasan! Lagian, gue kan baru aja mengalahkan para musuh. Jadi, kecapean dan membuat muka gue merah gini," sangkalnya lagi dan lagi.
Faisal malah tergelak. Ia menertawakan nada bicara Naya yang terbata-bata. Selama ini, ia selalu melihat keyakinan dan kepercayaan diri gadis itu yang luar biasa. Dan sekarang, karena dirinya, Naya ternyata dapat tergagu dan ragu-ragu juga.
"Udah. Gue mau pergi kerja. Nanti terlambat. Lo bisa berdiri sama jalan sendiri, kan?" Naya sudah tak bisa lagi berdekatan dengan Faisal. Ia sudah merasa terintimidasi sekarang.
Faisal berhasil meraih tangan Naya saat gadis itu hendak berdiri. "Apa perkataan lo waktu itu, tentang kita harus berjauhan masih berlaku?" tanyanya yang secepat kilat mengubah wajahnya menjadi serius. Tak cengengesan lagi.
Naya mengatupkan bibir. Pikirannya berkata untuk mendorong Faisal agar pergi menjauhinya. Namun sayangnya, hatinya tak sejalan dengan itu. Selalu ada sebagian dalam dirinya yang merindukan sikap menyebalkan Faisal. Dan ia membenci hal tersebut.
"Lepasin tangan gue! Gue udah bilang, takut terlambat!" Naya tak ingin menjawab pertanyaan Faisal yang menurutnya sangat rumit itu.
"Jawaban 'ya' atau 'enggak' gak akan membutuhkan waktu lama yang akan ngebuat lo terlambat masuk kerja," sela Faisal makin menarik tangan Naya, hingga wajah gadis itu mendekati wajahnya.
"Lo tahu kan, kalau gue bisa mentalin wajah sama tubuh lo menggunakan kekuatan yang bisa muncul dari telapak tangan ini?" sarkas Naya yang masih tak ingin menjawab pertanyaan Faisal sambil melambai-lambaikan tanganya di tengah-tengah wajahnya dan wajah pemuda itu.
"Coba aja! Gue gak takut!" tantang Faisal makin menatap Naya dengan lekat.
"Cowok bodoh!" jawab Naya sambil tersenyum kecil. Lalu, ia melepaskan tangannya dari genggaman Faisal secara paksa. Dan segera bangkit, lalu berlari.
__ADS_1
Faisal menyadari senyuman kecil yang ditunjukan Naya barusan memiliki arti. Ia meyakini, jika dirinya bisa mulai memperjuangkan lagi rasa sukanya pada gadis itu.
"Gue bahkan belum nanya tentang kekuatan spesial lo itu, Nay!" Pekiknya agar terdengar oleh Naya yang kian manjauh. Lalu, ia malah merebahkan dan menempelkan punggungnya di trotoar sambil tersenyum. Tak peduli orang lain menganggapnya gila, tapi itulah ungkapan kebahagiaannya kali ini. Atau, mungkinkah itulah yang dinamakan kegilaan dalam mencintai?