ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Kekacauan Keluarga Wijaya


__ADS_3

Dengan langkah tegap dan percaya diri, Intan masuk rumahnya sambil menenteng beberapa paper bag bertuliskan merek barang ternama.


Jika orang lain sehabis melaksanakan ujian, akan pulang dan mengistirahatkan otak serta mempersiapkan diri untuk ujian esok hari, berbeda dengan gadis kaya itu yang langsung pergi menenangkan diri dengan berbelanja di mall, sampai menghabiskan waktu berjam-jam. Makanya, malam-malam begini dirinya baru pulang ke rumah.


Disambut dengan suara lantang ayahnya yang sedang marah-marah di telepon, Intan terkejut dengan ucapan sang ayah. Pria itu menyinggung soal perusahaannya yang mengalami kerugian dan hampir mengalami kebangkrutan.


Perlahan, Intan berjalan ke kamar sambil memikirkan kata-kata ayahnya, lalu menatapi barang-barang yang menggantung di tangannya itu.


"Habis berapa juta kamu kali ini?" Cantika mengejutkan lamunan Intan, dengan berkata ketus.


"Ma. Aku gak tahu keluarga kita lagi ada masalah keuangan," balas Intan sambil menundukkan kepala.


"Jelas kamu gak tahu. Kamu kan gak berguna, dan hanya mementingkan diri sendiri selama ini," lanjut Cantika langsung menghujam di hati Intan.


Namun, Intan mengabaikan perkataan menyakitkan itu, tak mau berdebat dengan sang ibu. Karena Cantika pun mempunyai gaya hidup glamor yang bahkan lebih gila darinya. Percuma jika dilawan, ibunya tak akan pernah mau mengalah. Dalam hati, ia ingin sekali saja ibunya tak memojokkan dan menyalahkan dirinya akan segala masalah yang terjadi di rumah ini.


"Intan. Kamu gak sopan banget, Mama lagi bicara!"


Suara nyaring ibunya perlahan berubah pelan di telinga Intan yang terus melangkah dan berhasil menutup pintu kamarnya serapat mungkin.


Dengan segera, Intan merebahkan diri di ranjangnya yang empuk. Meskipun ada penyesalan besar dalam dirinya, sebab telah menghabiskan uang yang cukup besar untuk membeli barang-barang yang ia tempatkan di sampingnya itu.


Namun, bukan Intan namanya jika terus terlarut dalam kesedihan dan rasa bersalah. Sifat alaminya menolak untuk menjadi manusia yang selalu meratapi nasib.


Andi tiba-tiba membuka pintu kamar putrinya, dengan senyuman lebar dan menyapa hangat.


Segera, Intan meminta maaf atas sikap boros yang belum bisa ia hentikan. Dengan alasan jujur, yaitu tidak mengetahui jika perusahaan dan pabrik milik ayahnya di bidang minuman dan hal-hal yang berkaitan anggur sebagai bahan produksi sedang memiliki masalah, dan hampir mengalami pailit.

__ADS_1


"Kamu gak perlu khawatir, perusahaan kita akan bangkit lagi dalam waktu dekat. Kamu bahkan gak perlu cape-cape menghemat uang," jawab Andi membuat Intan senang.


Bukan karena tak perlu hemat, tapi Intan senang karena ayahnya tak memarahinya. Entah apa yang akan terjadi jika ayahnya sampai marah, mungkin ia tak akan memiliki lagi sosok pembela di rumah ini.


"Pa, gimana update dari anak buah papa. Apakah sudah ada kabar mengenai adik temanku yang hilang? Apakah mereka sudah menemukan Hilfa?" tanya Intan memindahkan topik.


"Soal itu, belum ada kemajuan. Nanti jika ada kabar penting, ayah akan beritahu kamu," jawab Andi sambil meninggalkan kamar putrinya, karena ada panggilan yang masuk ke ponselnya.


***


Iswanti mengabaikan persiapan diri untuk ujian, dan memilih memulai risetnya pada buku-buku yang berserakan di atas ranjang bersamanya.


Dengan serius, ia mulai membaca buku pertama. Sebuah novel dengan genre fiksi sejarah yang ada hubungannya dengan sejarah kota Alpenia.


Halaman demi halaman ia buka, namun setelah membaca lima chapter dari buku itu, belum mendapatkan informasi yang dapat mencerahkan pikirannya. Ia malah merasa kesenangan, karena keseruan membaca cerita yang tersaji dalam buku tersebut, dan berniat membereskannya hingga bab terakhir dengan sekali duduk.


***


Ternyata Jatiya adalah seorang anak yatim piatu dari umur lima tahun. Orang tuanya dibunuh secara tragis menggunakan sihir jahat.


Akhirnya, Jatiya diurus oleh pembantu orang tuanya semasa hidup. Sampai usianya mencapai remaja, pembantunya yang bernama Satomi memberitahu kejadian serta alasan tragis orang tuanya meninggal.


Hingga akhirnya, hati Jatiya dipenuhi dendam dan kemarahan, dan berniat membalas, berpikir bahwa nyawa harus dibayar dengan nyawa.


Satomi menawarkan dan menyarankan opsi terbaik. Ia menjelaskan bahwa dendam tak akan membuat Jatiya menjadi lebih baik, itu akan membuat dirinya sendiri menjadi jahat.


Jadi, Satomi menyarankan, jika ingin membalas, caranya adalah dengan memusanahkan sihir jahat yang berasal dari iblis itu, bukan memusnahkan orang yang telah membunuh orang tuanya. Biarkan keadilan lain yang menghakimi kejahatan bengis itu.

__ADS_1


Satomi yang telah mempunyai kekuatan sihir baik karena turunan dari orang tuanya, mengajarkan dan memberitahu Jatiya caranya untuk mendapatkan kekuatan dengan melakukan ritual yang pernah dilakukan leluhurnya, yaitu dengan meminta bantuan dari para peri.


Begitulah asal-usul Jatiya mendapatkan ilmu sihirnya. Bagian Jurnal yang dibaca Ulfa saja membuatnya susah memalingkan perhatian meskipun tak masuk akal, dan makin membuatnya makin penasaran dengan hal apa lagi yang akan ia temukan di halaman-halaman selanjutnya.


***


Ketika hari telah gelap, Ikbal baru pulang ke rumahnya. Ia memberhentikan motor tepat di depan teras rumah, dan mendapati ayahnya menunggu di dekat pintu sambil berpangku tangan dengan tatapan penuh kemarahan.


"Jam sebelas malam. Gak usah pulang aja sekalian!" Sinis Andi melihat anaknya masih mengenakan baju seragam, menyimpulkan bahwa Ikbal belum pulang ke rumah sejak sekolah dibubarkan.


Ikbal mengacuhkan ayahnya dan memilih masuk ke rumah tanpa menyapa. Ia sudah mengetahui jalur perbincangan ini. Pasti ayahnya akan meracau tentang dirinya yang tak berguna. Padahal, disini bukan sepenuhnya ia yang bersalah.


Andi tak berpikir, bahwa sikapnya yang terlalu keras dan bahkan tak jarang melakukan kekerasan pada Ikbal untuk setiap kesalahan sekecil apapun, membuat anaknya malas berada di rumah.


Andi ikut masuk ke dalam, meneriakkan kata-kata sindiran untuk anak laki-laki semata wayangnya, "jadi laki-laki itu harus disiplin. Di rumah ini ada pemuda, tapi kayak gak ada. Jam segini baru pulang, pasti main keluyuran gak jelas, bukannya belajar buat nyiapin masa depan. Atau belajar buat mengatur perusahaan keluarga."


Sontak Cantika menghampiri sumber suara, sedangkan Ikbal dengan santainya menaiki tangga tanpa ragu.


"Bi, bikinin aku makanan, nanti antar ke kamar aku," teriak Ikbal hingga terdengar ke telinga para pembantu yang sedang bergosip di dapur. Mencibir tentang akan terjadinya kericuhan di rumah ini sebentar lagi.


Andi makin geram, dengan segera ia meraih sebuah patung burung terbuat dari kayu yang berada di dekatnya, dan segera melemparkannya pada anaknya yang kini sudah berada di lantai atas itu.


Cantika mengerjap kaget, meskipun harusnya ia tak aneh dengan kejadian macam ini. Rasa tak tega hadir di hati kecilnya, tetapi ia tak berani jika harus membantah perlakuan suaminya itu. Karena pernah sekali, ia mencoba menentang, malah berakhir dirinya yang babak belur. Rasa sayang pada anaknya ternyata tak lebih dari dirinya menyayangi diri sendiri.


Ikbal menahan kesakitan ketika mengetahui bahwa sesuatu telah kepalanya berdarah. Amarahnya ia tahan, tak mau menimbulkan keributan yang hanya memperburuk keadaan.


Akhirnya, ia masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu. Hanya itu yang dapat ia lakukan. Lagipula jika melawan, ia takut suatu hari ia akan menjadi seperti ayahnya ketika nanti dirinya mempunyai anak. Dan berakhir dengan anaknya yang berbalik melawannya.

__ADS_1


Lagipula, ia telah memutuskan untuk berubah. Karena ia tak ingin dan tak akan menjadi seperti ayahnya.


__ADS_2