
Annisa bingung, antara merasa lega karena ayahnya sedang tak ada di rumah, dan merasa terbebani karena rencananya akan tertunda. Ia pun langsung menghampiri sang ibu, karena tak biasanya dirinya mendapat pesan dari wanita tersebut seperti hari ini, yang menyuruhnya untuk pulang cepat.
"Ada apa, ma?"
Tiba-tiba ibunya menunjukkannya sebuah dokumen perceraian yang dilempar ke atas meja, "mama mau menggugat cerai papa kamu."
Annisa sedikit terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya, tak menyangka dengan langkah tiba-tiba ibunya. Karena selama ini, ia menyangka orang tuanya baik-baik saja, bahkan terlihat sangat harmonis dan bahagia.
Tak mendapat respon apapun dari putrinya, Silvia pun kembali bertanya, "bagaimana menurutmu?"
Mulut Annisa yang masih menganga, hanya menjawab seadanya dengan terbata-bata, "ya-- a-ku, gak tahu. Tapi, kenapa tiba-tiba mama memutuskan hal ini?"
"Dari dulu, mama ingin lepas dari jeratan tangan papamu. Namun, mama memikirkan kamu yang sangat menyayanginya. Sampai saat papamu keluar dari penjara, mama merasa bebas untuk memutuskan," terangnya masih membuat Annisa tak mengerti.
"Oh, oke. Tapi, alasan mama ingin berpisah itu karena apa?"
"Annisa, mama gak ingin ketika kamu mendengar ini, kamu makin membenci papamu." Perkataan Silvia terhenti. Bagaimanapun, pria itu adalah ayah dari putrinya.
"Lanjutkan, ma!"
"Papa kamu adalah orang yang egois, dia selalu ingin didengar, semua permintaannya harus dituruti. Ketika berdua dengan mama dan tak ada orang lain yang melihat, dia tak jarang melakukan kekerasan fisik dan verbal." Dengan suara menahan sakit saat mengingat hal pahit yang pernah dilaluinya, Silvia hanya dapat tersenyum getir.
Annisa yang baru saja mengetahui hal tersebut jelas makin terkejut dan kesal. Ternyata, dari dulu ayahnya memang memiliki banyak topeng yang membuat dirinya berpikir bahwa pria itu adalah orang terbaik di dunia. Dan sekarang, ketika satu persatu topeng itu terlepas, rasa benci untuk ayahnya sedikit demi sedikit bertambah secara terus-menerus.
Ketika masih kecil, Annisa berkeinginan memiliki kekasih ataupun pasangan hidup seperti ayahnya, karena dianggapnya sangat romantis saat memperlakukan ibunya, tipe laki-laki "gentle" kiranya. Ternyata, semua perlakuan manis ayahnya tersebut hanyalah tabir kepalsuan untuk menyembunyikan segala kekejaman dan kebiadaban. Sekarang, Annisa berharap agar dijauhkan dari sosok seperti itu dalam hidupnya.
Annisa memeluk ibunya dengan erat. "Jika perceraian ini membuat mama merasa sedikit bahagia, aku akan mendukung."
__ADS_1
Disaat semua anak yang dihadapkan dengan perceraian orang tuanya akan merasa sedih dan kacau, berbeda dengan Annisa yang mendukung penuh ibunya untuk meraih kebahagiaan dengan meninggalkan pria jahat itu.
***
Tak seperti biasanya, Intan yang baru saja pulang ke rumahnya, melihat ibunya menangis sambil melamun. Hal tersebut terlalu aneh untuk Intan yang biasa melihat ibunya dengan mata penuh amarah atau suara meninggi saat menatapnya karena pulang terlambat.
Akhirnya, gadis itu tak dapat menahan diri untuk mendekati ibunya, hanya untuk melihat lebih jelas, bukan untuk menanyakan keadaannya.
"Kamu pulang terlambat, nak?" Cantika menyapa putrinya lembut, membuat Intan bergidik. Suara ibunya yang seperti itu tak pernah di dengarnya selama dua tahun terakhir.
Intan tak menjawab, dan hanya terpaku dalam diam.
"Hari ini Rahma ulang tahun yang ke sembilan belas, harusnya kita membuat pesta yang meriah jika dia masih ada," lirih Cantika membuat Intan mulai memberi perhatian.
"Iya, aku barusan dari makamnya," tutur Intan dingin. Setiap kali ibunya membicarakan Rahma, ia akan merasa kesal, karena dirinya masih belum menerima ketika Rahma mengucapkan kata-kata terakhir padanya menyebutkan bahwa ibu mereka jahat. Jadi, ia masih menaruh kecurigaan pada Cantika sampai sekarang.
"Nanti malam, kita potong kue buat memperingati ulang tahun Rahma, ya?!" ajak Cantika.
Dengan meneguk ludah, Intan mencoba menahan kata-katanya yang sedang bersemayam di dadanya agar tak keluar dari mulutnya. Namun ia tak dapat menahan kekesalannya dalam waktu lama, itu bukan keahliannya. Jika emosi, ia akan menyuarakannya sejujur dan segamblang mungkin.
"Plis. Mama gak usah pura-pura sedih kayak gini. Sesaat sebelum meninggal, Rahma bilang kalau mama itu jahat. Aku udah berkali-kali bilang, aku curiga kalau mama ada hubugannya dengan kematian kakakku." Dengan emosi yang meluap-luap, Intan mulai bersiap-siap. Karena biasanya ketika ia mengungkapkan kata-kata itu, akan dibalas oleh ibunya dengan tamparan cukup keras di pipinya.
Namun kali ini, di hadapannya, ia malah melihat ibunya yang makin deras mengucurkan air mata, dan dengan tangis yang mulai bersuara, "kamu benar, di sini mama yang bersalah. Tak seharusnya mama mengatakan kata-kata jahat itu pada kakakmu di malam terakhirnya."
Perkataan ibunya membuat Indan penasaran, "apa maksud mama?
"Sebenarnya mama gak mau memberitahu kamu tentang hal ini. Tapi, hubungan kita sudah sangat jauh, hanya karena semua kesalahpahaman uang terjadi." Cantika berusaha berhenti menangis dengan menyeka air mata di pipinya. Ia masih mengatur napasnya yang memburu.
__ADS_1
"Pada malam Rahma bunuh diri, dia mengaku sedang mengandung," terang Cantika membuat Intan menganga karena terkejut.
"Mama sama terkejutnya seperti kamu sekarang. Tapi, dengan mementingkan ego dan gengsi mama di kota ini, mama memaksa dia menggugurkan kandungannya," lanjut Cantika kembali bercucuran air mata. Ia tak berani menatap Intan yang berada di depannya.
"Kakakmu marah besar, ia menolak permintaanku dan malah berencana kawin lari dengan kekasihnya. Namun, kamu sendiri tahu kalau Indra, ayah dari anak yang kakakmu kandung waktu itu, mengalami kecelakaan mobil dan meninggal di malam yang sama dengan kakakmu." Cantika kembali terhenti, mengatur emosi yang mulai tak beraturan.
"Saat mendengar kabar kematian Indra, kakakmu kehilangan harapan. Dia tak ingin menjadi aib keluarga, dan dia pun tak ingin kehilangan anaknya. Hingga akhirnya, dia mengunci diri di kamar dan memutuskan mati bersama anaknya," pungkas Cantika benar-benar membuat Intan tercengang.
Gadis itu tak menyangka kecurigaannya selama ini ternyata sangat jauh berbeda dengan kebenarannya. Dan, ia pun memeluk ibunya yang tak ingin berhenti menangis, berusaha menenangkan.
Sesaat kemudian, Cantika melepaskan pelukan putrinya, dan menuju kamarnya hendak mengambil sesuatu. Sekembalinya, ia memberikan sebuah ponsel yang disampul oleh plastik, "Hape Rahma mama simpan selama ini. Hanya mama, papa dan polisi yang mengetahui isinya. Mama gak mau bukti yang ada di sana menyebar ke masyarakat umum, karena tak mau kakakmu menjadi bahan pergunjingan. Bahkan, aku tak membiarkanmu atau Ikbal mengetahui hal ini."
Intan meraih dan menyalakan ponsel itu, pertama di bukanya adalah galeri yang penuh dengan swafoto dirinya dan almarhum kakaknya tempo dulu, terlihat tersenyum lebar tampak ceria tanpa beban. Intan tersenyum mengingat setiap momen bahagia itu.
Berlanjut, ia melihat aplikasi perpesanan, dan mendapati bukti percakapan kakaknya yang memaksa Indra untuk kawin lari setelah membeberkan kehamilannya.
Namun pesan lampau Rahma tersebut dibalas oleh sebuah ketikan yang memilukan hati. Yang membalas membalas bukannya Indra, melainkan seorang ayah yang sedang bersedih karena mengaku baru saja kehilangan anaknya dalam sebuah kecelakaan.
Senyum Intan pudar dan berubah menjadi kesedihan. Pesan tersebut menghujam hatinya, dan membuat mata sendunya berkaca-kaca.
"Setiap hari, mama cas hape itu. Ketika malam tak dapat tidur, mama selalu melihat foto anak-anak mama, dan berakhir dengan teringat kata-kata terakhir mama pada kakak kamu yang membuatnya putus asa."
Tiba-tiba, Intan memeluk tubuh Cantika, hal yang tak pernah dilakukan oleh mereka berdua selama dua tahun terakhir, terasa sangat hangat dan melegakan. "Udah Ma. Mama gak perlu menyalahkan diri sendiri. Semua udah terjadi, aku harusnya meminta maaf karena telah berprasangka buruk." Ia makin erat memeluk tubuh sang ibu dalam tangis.
"Kita pernah sama-sama berbuat salah. Sekarang saatnya menyudahi pertengkaran ini. Rahma juga pasti menginginkan kita berdamai." Cantika melepaskan pelukannya, sebelum sesaat kemudian kembali mendekap putrinya itu.
Ikbal yang baru saja tiba di dalam rumah, menangkap kejanggalan di matanya, lantas melempar tas sekolahnya ke lantai dan berlari terburu. Ia ikut mendekap kedua wanita istimewa di hidupnya itu, "wah, ikutan pelukannya dong!" ujarnya dengan ceria. Ia merasa lega, melihat ibu dan adiknya berdamai, setalah dua tahun saling berselisih karena kematian Rahma.
__ADS_1
Kehangatan itu bertahan lama ketika mereka bertiga dengan hebohnya membuat kue bersama, untuk memperingati hari ulang tahun Rahma.