
Ulfa duduk di kursi ruang tamu sambil membaca buku milik Jatiya. Ia harus memindahkan fokusnya dari pikiran buruk mengenai Hilfa. Jika tidak, dirinya hanya akan terus menangis sepanjang hari.
Jadi, gadis tambun itu lebih memilih untuk mempelajari hal-hal baru yang sama sekali belum dirinya kuasai. Banyak mantra-mantra yang sangat sulit dilafalkan, apalagi dipraktikkan.
"Aku senang kau berusaha sebisamu."
Ulfa telah terbiasa dengan suara yang selalu tiba-tiba muncul di pikirannya itu. Jatiya belum juga pergi dari sana. Mungkin sosok leluhurnya itu ingin memastikannya menguasai hal-hal yang sangat diluar nalar ini.
"Makasih Jatiya. Kamu juga berperan besar dalam perjalananku ini," jawab Ulfa.
"Tapi, sebenarnya tak apa-apa kalau kau ingin menangis sesekali karena mengingat adikmu. Lepaskan saja! Robohkan pertahananmu itu, agar hatimu terasa lebih lapang," papar Jatiya yang sudah pasti mengetahui segala yang sedang dirasakan atau dipikirkan oleh Ulfa. Karena secara teknis, mereka berdua berbagi tubuh yang sama.
Ulfa menggelengkan kepalanya cepat-cepat. "Aku gak mau, Jatiya. Aku takut, kalau aku mulai menangis, aku gak tahu caranya untuk berhenti nantinya."
"Baiklah. Apapun yang membuatmu lebih baik, Ulfa!" tukas Jatiya.
"Igcalculsius!" Saat Ulfa mengucapkan mantra tersebut, tiba-tiba kertas di hadapannya menyembulkan api.
"Bagus!" ujar Jatiya yang bangga melihat Ulfa makin mahir mengucapkan mantra pembuat percikan api itu. "Padamkan sekarang!"
Ulfa mengangguk. Ia menunjuk kertas yang sedang terbakar itu dengan kembali mengucapkan mantra yang sedikit berbeda. "Dimcalculsius!"
Dalam sekejap mata, api di kertas itu kembali padam. Menyisakan sebagian lagi kertas yang masih putih, disaat sebagiannya telah berubah menjadi abu.
"Kau semakin mahir setiap harinya. Kau akan makin kuat ketika keluargamu datang, dan membantumu," ujar Jatiya.
Ulfa mengernyit heran. "Maksudmu, ibu akan membantuku? Membantuku dengan apa?"
"Bukan ibumu!"
"Lalu siapa? Ayah? Kamu bilang, hanya ibu yang mempunyai garis keturunan penyihir. Jangan bilang, ayah juga punya sekarang!" tanya Ulfa masih tak mengerti.
"Bukan ayahmu juga! Sosok ini adalah keluarga yang tak memiliki hubungan darah denganmu. Dia akan tiba sebentar lagi," lanjut Jatiya masih membuat keambiguan ini terjadi.
"Jangan membuatku penasaran! Siapa orang itu?" tanya Ulfa yang mulai tak sabaran.
__ADS_1
"Kau harus tanya salah satu temanmu! Apakah dia pernah memiliki mimpi aneh? Yang diluar nalar akhir-akhir ini," cetus Jatiya.
Ulfa mengetukan telunjuknya ke dagunya beberapa kali. Ia mengingat, teman-temannya pernah menceritakan beberapa mimpi random mereka padanya.
"Kau masih membuatku bingung, Jatiya. Teman-temanku banyak sekali mengalami mimpi aneh akhir-akhir ini. Seperti Intan, dia mimpi menjadi seorang biarawati, untuk sifatnya yang terkadang keterlaluan, mimpi itu kayaknya sangat aneh. Lalu Annisa, dia pernah menceritakanku tentang mimpinya menjadi ratu lebah. Dan juga Renaldi yang paling aneh. Dia mimpi berubah menjadi kepala charger HP tiga hari yang lalu," papar Ulfa panjang lebar.
"Kau sangat konyol, Ulfa! Bukan mimpi yang seperti itu. Maksudku, mimpi yang aneh tapi memiliki makna," sela Jatiya.
Ulfa menghembuskan napas. "Kukira, mimpi hanyalah bunga tidur, yang gak memiliki makna berarti," ucapnya sambil mengedikkan bahu.
"Bagi sebagian orang, kadang-kadang mimpi itu memiliki makna. Coba kau tanya pada temanmu, Naya. Aku memiliki firasat baik tentang dia. Gadis itu kemungkinan adalah keluargamu. Keluarga kita!" jelas Jatiya.
"Hah? Dia temanku, bukan keluargaku!" sangkal Ulfa.
"Kau ini! Aku sudah bilang, keluarga tak harus dengan orang yang berbagi darah sama danganmu. Pokoknya, coba kau tanyakan pada Naya nanti!"
"Baiklah!" Ulfa pun mengerti. Ia akan menuruti hal yang dikatakan oleh Jatiya nanti.
***
"Hai! Gue Olivia!" Annisa mengulurkan tangan pada seorang gadis asing yang seumuran dengannya. Tentunya, masih menggunakan nama samarannya.
Gadis berpenampilan tomboy itu menatap dengan malas. Ia bahkan tak menyambut uluran tangan dari Annisa. "Lo baru disini?"
"Iya, gue cuma mau numpang selama satu dua hari doang," balas Annisa.
"Oh!" Begitu saja. Gadis yang tak diketahui namanya oleh Annisa itu langsung melenggang pergi. Sepertinya, ia tak berminat sama sekali untuk mengenal orang baru.
"Gimana kita bisa cari petunjuk, kalau udah tiga orang yang kita ajak kenalan malah cuek-cuek banget," keluh Annisa pada Ikbal yang berdiri setia di sampingnya. Ia memang berniat menanyakan pada penghuni rumah singgah ini, apakah ada kejanggalan yang terjadi.
"Gue juga heran, Nis. Harusnya, di tempat kayak gini dipake buat nyari teman sebanyak-banyaknya. Tapi, penghuni sini terkesan kayak ansos semua," sahut Ikbal. "Tapi, lo tenang aja. Masih ada orang keempat yang mungkin mau ditanya-tanya!" Ia menunjuk pada seorang pemuda yang sedang terduduk di undakan tangga depan sana.
"Ayo, kita samperin!" Annisa mendahului langkah Renaldi, dan menghampiri pemuda yang sedang asyik merokok itu.
"Hai! Gue Olivia!" Annisa kembali mengenalkan diri. Kali ini, dirinya terbatuk asli, bukan lagi pura-pura. Itu semua karena asap rokok yang membumbung di udara berasal dari pemuda itu, berhasil memengaruhi tenggorokannya. Padahal, dirinya masih mengenakan masker berwarna hijaunya.
__ADS_1
"Bukannya merokok dilarang di rumah ini, ya? Tadi, gue lihat tanda di bawah," ucap Ikbal yang sedikit kesal. Karena pemuda itu telah membuat Annisa terbatuk.
Pemuda itu bangkit berdiri. "Gue gak pernah ikut aturan. Gue yang buat aturan," ucapnya dengan wajah nanar sambil menjatuhkan puntung rokoknya ke bawah, lalu menginjaknya menggunakan sepatunya hingga padam.
"Jadi, lo yang buat aturan dilarang merokok, tapi lo juga melanggarnya? Gimana, sih? Gue gak ngerti," sahut Annisa dengan matanya yang berair, dikarenakan batuk-batuknya barusan cukup parah. Sekarang, ia mengerti jika batuk pura-puranya saat di luar tadi, mungkin telah menjadi harapannya yang terkabul saat ini. Sungguh menyebalkan.
Ikbal menyentuh bahu Annisa. "Bukan gitu, Annisa. Dia tipe pemuda rebel yang gak mau diatur. Jadi, dia berbuat semaunya. Begitu maksudnya," bisiknya di depan telinga Annisa agar tak terdengar oleh pemuda itu.
"Gue denger semuanya kali!" ketus si pemuda masih dengan wajah sinis. Namun, detik berikutnya, tawa tiba-tiba timbul dari mulutnya.
Ikbal dan Annisa saling melempar pandangan, dan geleng-geleng kepala. Mereka kira, ada yang tak beres dengan cowok itu, karena dapat mengubah ekspresi wajah secepat kilat tanpa ada penyebab yang jelas.
"Lo baik-baik aja? Lo gak lagi ngonsumsi apapun, kan? Barusan rokok lo apa?" tanya Ikbal bertubi-tubi sambil berjengit.
Pemuda itu menghentikan tawanya. Lalu, ia menempatkan telapak tangan kirinya di bahu Ikbal. "Gue baik-baik aja. Gue tahu, awalnya lo ngira gue adalah tipe remaja kasar yang menggunakan otot buat nunjukin kekuasaan."
Ikbal makin mengernyit heran. Begitupun Annisa.
"Orang ini gak beres. Ayo, kita cari orang kelima!" ajak Annisa sambil berbisik-bisik.
"Kenapa kalian terus bisik-bisik ngomongin orang yang ada di depan kalian? Kan bisa langsung ngatain di wajahnya!" jelas pemuda itu sambil tersenyum. "Kenalin, gue Candra. Dan, gue bukan remaja rebel seperti yang lo bicarain. Maksud gue, gak rebel-rebel banget." Ia mengulurkan tangan pada kedua orang di depannya.
Annisa akhirnya mengangguk dan membalas uluran tangan Candra. "Olivia!"
Begitu pun Ikbal yang menyambut juga perkenalan itu dengan menyebutkan nama palsunya. "Rama!"
"Jadi, apa yang membuat kalian datang kesini?" tanya Candra penasaran.
"Kita kecopetan, dan gak punya duit buat pulang. Jadi, sambil memikirkan cara, kita numpang disini dulu sementara," jelas Ikbal masih berpatokan pada kebohongannya.
Candra lagi-lagi tertawa setelah mendengar jawaban dari Ikbal.
Hal itu membuat Annisa dan Ikbal kembali terheran. Kenapa Candra banyak sekali tertawa tanpa alasan? Apakah dia memiliki gangguan jiwa?
"Berapa banyak uang kalian yang hilang karena kecopetan itu? Terkhususnya lo, Annisa! Eh, maksud gue Olivia!" tanya Candra saat berhasil menghentikan tawanya.
__ADS_1
Annisa dan Ikbal kembali saling melempar pandangan. Mereka terkejut karena Candra ternyata mengetahui sosok Annisa.